Review : Hello After Goodbye by Dhamala Shobita

DHAMALA SHOBITA

HELLO AFTER GOODBYE

28381970

PENULIS : DHAMALA SHOBITA
PENERBIT : GRASINDO
SINOPSIS :
“Menurutmu, ada berapa banyak orang yang dapat bertemu kembali dengan orang yang mereka sayangi setelah perpisahan?”
Ada dua hal yang membuat Hana kembali ke Korea Selatan, Pertama, menemukan ayahnya. Kedua, menemukan mantan kekasihnya — Jung Dae-Han. Pada kenyataannya, tidak mudah bagi Hana untuk menemukan keduanya.
Pencarian semakin terasa sulit kerika Jung Dae-han dengan sengaja menghindari Hana. Di tengah permainan kucing dan anjing di antara keduanya, dan pencarian ayahnya, seorang laki-laki asing bernama Seo Hyun-Woo malah mengulurkan tangannya untuk membantu Hana.
Apakah Hana akan menemukan apa yang dicarinya bersama Hyun Woo? Akankah Hana menjadi salah satu dari sekian banyak orang yang dapat bertemu kembali dengan orang-orang yang terpisah darinya?

»Apa yang diceritakan? Dimulai dari perjalanan Hana ke Korea untuk menemukan Ayahnya dan juga Dae Han. Tujuan mencari Ayah yang ada di Korea memang menjadi prioritas Hana untuk datang ke negeri gingseng tersebut. Tetapi ada tujuan lain yang memang memaksanya untuk mencari tahu tentang Dae Han yang tiba-tiba meninggalkannya ketika mereka menjalin hubungan. Ketika di Korea, Hana bertemu dengan Hyun Woo. Mungkin memang sejak awal penulis ingin bermain teka-teki akan sosok Hyun Woo ini. Apa hubungannya Hyun Woo dengan Dae Han yang ternyata memiliki benang merahnya. Terlebih lagi ketika sudah mendekati ending baru terkuaklah semuanya tentang Hyun Woo dan juga hubungannya dengan Hana.
» Mengapa hal tersebut menarik untuk diceritakan? Hal ini terkait dengan judul yang sudah dijelaskan. Tentang pertemuan kembali setelah perpisahan. Idenya sebenarnya cukup sederhana tetapi Dhamala berhasil mengembangkannya sehingga menarik untuk diikuti. Ide yang simpel ternyata dapat memberikan hasil yang luar biasa. Terlebih lagi, Dhamala mampu mengupas seluk beluk Korea ini sehingga membuat orang yang tidak mengetahui tentang Ulsan dapat merasakan suasana di Ulsan. Belum lagi soal karakter Hyun Woo disini yang benar-benar ceria. Benar-benar membawa dampak positif untuk Hana.
» Kapan kejadiannya? Hanya yang menjadi masalah untuk saya yang memiliki keterbatasan memori terbatas ini sedikit kesulitan dalam mengingat waktu yang digunakan. Terlebih lagi tentang penggunaan alur maju mundur seperti ini. Belum lagi saya sering kebingungan dalam membedakan waktu antara saat ini dan masa lampau.
» Siapa pelakunya? Untuk karakter Hana, Dae Han dan Hyun Woo ini mungkin untuk saya sudah memiliki porsi yang pas. Walaupun untuk saya sendiri sudah dapat menebak tentang sosok Hyun Woo ini sejak awal. Sedangkan Dae Han ini sepertinya sedikit kurang riil mengingat dia kabur ke Jepang ketika meninggalkan Hana. Mengingat latar belakang Dae Han, Hana serta Julia ini kurang begitu jelas saya menjadi berpikir uang yang digunakan Dae Han untuk ke Jepang itu dari mana? Profesi sebelumnya mereka itu apa? Hal tersebutlah yang membuat saya berpikir tentang keuangan mereka itu berasal dari mana. Terlebih lagi soal Hana yang mungkin sangatlah mudah mengeluarkan uang.
» Dimana kejadiannya? Sebenarnya jika mau ditelisik lebih dalam lagi, mungkin pembaca seperti saya ini bisa mendapatkan kepuasan akan settingnya. Mengingat penulisnya ini sudah cukup mengetahui tentang seluk beluk tentang Korea ini tentunya dalam mengunakan setting lokasi ini tidak terlalu menjadi masalah. Bahkan penulis mampu membuat suasana Choco House ini terkesan nyata dan cukup nyaman. Untuk seluk beluk Ulsan tentunya sudah mendapatkan apresiasi tersendiri karena penulis tidak menggunakan Seoul sebagai setting utamanya seperti kebanyakan novel Korea lainnya.
» Bagaimana rangkaian kejadian tersebut? Mungkin karena novel ini digunakan dalam lomba sehingga menurut saya, penulis terlalu cepat dalam memaparkan konflik yang terjadi. Sehingga membuat alurnya terkesan buru-buru. Belum lagi tentang karakter-karakternya yang masih ada sesuatu yang hilang. Mungkin jika mau digali, karakter-karakter utamanya seperti Hana dan Dae-Han ini akan menjadikan salah satu nilai plus lagi. Ah, saya kurang begitu tahu tentang umur karakternya sehingga membuat saya harus merabanya sendiri tentang umur Hana, Dae-Han dan Julia ini. Informasi sederhana ini tentunya akan sangat berguna untuk membayangkan karakternya.

Terlebih lagi ketika penggunaan umur yang sudah memasuki umur 19 tahun ke atas tentunya akan memiliki jalan pemikiran yang berbeda dengan orang yang masih berada di umur 19 tahun ke bawah. Dan entah mengapa ketika Dae-Han, Hana dan Julia ini bertemu dalam program ASEAN itu, saya hanya dapat menyimpulkan ketika mereka bertemu pada saat sekolah.
Sebenarnya saya masih kurang puas tentang masa lalu Dae-Han dan Hana ini karena saya sempat kebingungan sendiri karena penggunaan tanda petik tunggal (‘) yang ternyata bertujuan untuk membedakan waktu masa lampau. Lalu juga ada beberapa hal yang sepertinya kurang tepat menurut saya. Terutama pada bagian :
“So Jin menggenggam cangkirnya dengan kedua tangan, sesuatu yang wajib dilakukan di Korea ketika menerima minuman dari seseorang yang lebih tua, kemudian meneguk teh di gelasnya dengan menutupi mulutnya dengan tangan kanan dan menolehkan kepalanya ke kiri.” — Hal. 110
Setahu saya, mungkin itu kurang perlu dilakukan. Mengingat So Jin dan So Min ini adalah saudara kembar. Dan topik pembahasannya juga bukanlah topik pembahasan yang terlalu serius. Lagi pula ini saudara kandung. Mungkin akan tepat jika orang tua yang menuangkan minuman kepada orang yang lebih muda baru melakukan hal seperti ini. (Ini aku pernah melihat drama Korea berjudul Pasta yang ketika Ayah dari Yoo Kyung menuangkan minuman untuk chef Choi siapa itu. Dan posisi duduk mereka saat itu mungkin sudah cukup jelas dengan bersimpuh) Sedangkan dalam konteks bab ini, So Min duduk di kursi meja makan yang rasanya cukup sulit dibayangkan ketika So Jin menerima tuangan minuman dari So Min. Karena biasanya untuk percakapan keluarga dengan topik yang tidak terlalu serius akan dilakukan sesantai mungkin.
Lalu ada juga bagian :
Narang kyeorhon hae jullae? Narang gatchi isseo. Saranghae, Kim Hana.”
Maukah kau menikah denganku? Tetaplah bersamaku. Aku mencintaimu, Kim Hana.
“Menikahlah denganku, Kim Hana. Aku mencintaimu,” pinta Dae-Han lirih. — hal 195
Kenapa saya menulis bagian itu sebagai salah satu hal yang penting? Hal ini dikarenakan Dae Han mengulang permintaannya. Menurut saya itu terlalu pemborosan kata. Seperti halnya bagian lainnya yang penggunakan bahasa Korea akan diberikan footnote. Menurut saya, untuk kalimat berbahasa Korea tersebut sebaiknya memang di footnote. Terlebih lagi Dae Han ini mengajukan lamaran seolah membuang-buang kata karena dua kali mengucapkannya. Seperti tidak konsisten.
Namun, saya cukup menyukai bagian ini : 
“Pikir Dae Han, apakah semua wanita akan menjadi seperti itu? Dae-Han sama sekali tidak bermasalah tentang Julia yang mungkin pernah menyatakan perasaannya pada Dae-Han. Yang dia tidak habis pikir adalah mengapa wanita cenderung melakukan hal tanpa berpikir? Mengapa wanita sering kali mengorbankan sesuatu yang lebih penting dibandingkan cinta. Persahabatan misalnya.” – hal 173

Saya sebagai seorang wanita saja juga merasakan hal serupa. Tidak menyangka sosok Dae-Han ini juga sering bertanya. Mengapa wanita lebih sering mengorbankan sesuatu yang lebih penting hanya demi cinta? Untuk hal ini saya setuju dengan pemikiran Dae Han.
»
Secara keseluruhan novel debut dari Dhamala Shobita ini, saya memberikan bintang ★★★. Ide cerita yang dibawakan sudah cukup menarik, hanya saja saya masih kurang puas karena jujur saja, saya sudah cukup bosan dengan tema yang mengusung Korea sebagai latarnya. 🙂

 

_______________________________________________________________________________
AUTHOR’S NOTES
Hanya mereview dari sudut pandang seorang pembaca.
Karra ^^
Advertisements

6 thoughts on “Review : Hello After Goodbye by Dhamala Shobita

  1. anonimjeon says:

    Ini kak gigi bukan yah? aku agak2 lupa, maafin plis:'(
    yaampun aku baru mau beli kemarin di gramed eh sayangnya udah keduluan megang buku lain, jadi ketunda. bhakss..
    bagus kak reviewnya,aku jadi belajar heheh 🙂 tapi buat kak mala, aku yakin pasti seru deh ceritanya, covernya lucu lagi ih gemes ❤

    • Karra says:

      ini yang namanya siapa ya? aku juga lupa. #ditendang
      Maafkan aku karena ingatanku terbatas banget. wkwkwk

      Iya… ini Gigi. wkkwkw.
      ini review pertamaku yang komplit. wkwkw.
      ayo beli… novel debutnya Mala ini. wkwkwkw
      covernya juga lucu. kekeke

      • anonimjeon says:

        Ayu kak ehheh, kak gigi jarang keliatan di wp..
        iya aku mau beli minggu kemaren, tp keundur gara2 udah nemu buku laen wkwkw, thanks kak reviewnya^^

      • Karra says:

        oh iya… Ayu…. maapkan daku… #cry
        belum bisa bagi waktu kerjaan sama di wp. kangen menulis. wkkww

        ini aja buku mala sama naya juga mau kubeli tapi belum sempet gegara belum nabung. wkwkw

        iya…. sama2…. diriku lagi belajar review komplit jadi ya beginilah. hahaha
        makasih Ayu sudah mampir. ^^

    • Karra says:

      maafkan aku ya, Mala… telat banget reviewnya. sibuk ama kerjaan jadi nggak sempet review. ekekke
      semoga berkenan ya Mala… kekeke….
      tapi ini udah kece banget karena sebagai novel debut. kekeke
      sama2 Mala…. kekeke

Letter of Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s