Still Loving You

Still Loving You

STILL LOVING YOU

Author : Karra | Artists : Shidai Mirai as Nakata Yoko & Hongo Kanata as Okamoto Riku |

Length : Oneshot | Genre : Romance | Rating : PG 19+

Disclaimer : Shida Mirai and Hongo Kanata isn’t my original characters. This story is only a fiction, I don’t make money from it, so please do not sue me and don’t copy or re-publish without my permission!!

Another Story of Drama’s Seigi No Mikata

© 2015

~ Yoko POV~

Beberapa kali aku mengecek kalender yang berada di atas meja belajar. Memang benar hari ini. Tanggal 15 Desember. Aku sangsi jika ia tidak datang seperti tahun-tahun sebelumnya. Bagaimana aku bisa mengharapkan sebuah kepastian jika orang yang kutunggu tidak tahu dimana keberadaannya.

Apa semestinya aku menyerah? Jika aku menyerah rasanya sia-sia selama tujuh tahun ini menunggunya. Akankah Riku menungguku? Kalau dia memang menyukaiku, seharusnya dia memberi kabar padaku, bukan? Bukannya menghilang selama tujuh tahun! Apa dia melupakanku? Kalau itu terjadi, aku tidak akan pernah memaafkannya. Aku bersumpah!

Aku mematut diriku di depan cermin. Rambut pendekku sudah berubah menjadi panjang sekarang. Tujuh tahun waktu yang cukup untuk merubah seseorang, bukan? Aku mencepol rambutku ke atas. Aku bukan Kumako (beruang) lagi. Aku sudah seorang gadis dewasa sekarang. Tidak ada seragam lagi dan sekarang aku sudah bekerja. Tidak bekerja sebagai pegawai negeri seperti Kak Makiko.

Aku bekerja di sebuah kantor majalah untuk membuat iklan. Pekerjaanku sangat menyenangkan. Aku bisa banyak bertemu dengan model-model yang sedang naik daun. Lagipula aku bisa melihat banyak laki-laki ganteng yang menjadi model iklan. Ups.

Aku meraih kunci rumah sambil berjalan keluar apartemenku. Semenjak memutuskan tinggal di Tokyo aku memang tinggal sendiri. Berusaha untuk mandiri. Aku langsung mengunci pintu apartemen dari luar. Dan mengambil selebaran yang diletakkan di kotak kecil di samping pintu milikku. Aku membaca sekilas selebaran itu. Rata-rata agen asuransi dan beberapa tagihan. Aku lupa membayar tagihan telepon. Ah, aku selalu lupa membayar tagihan tepat waktu. Baiklah, aku akan membayar hari ini. Aku tidak ingin terbebani bulan depan.

“Kau akan berangkat, Yoko-chan?” tanya seorang perempuan paruh baya yang tinggal di sebelah kiri apartemenku.

Aku menoleh ke arah Yukino-san yang sudah menenteng plastik belanja yang cukup banyak. Aku mengucapkan salam sambil membungkukkan badanku. “Wah, belanjamu banyak sekali hari ini, Yukino-san,” kataku takjub. Biasanya tetanggaku yang satu ini akan mengadakan acara yang cukup meriah ketika putranya datang mengunjunginya. “Kusako-san akan datang berkunjungkah?” tanyaku lagi sambil memasukan anak kunci ke dalam tas jinjingku.

Yukino-san tertawa sambil mengangguk dengan semangat. Selalu sikap riang yang ia tunjukkan ketika akan bertemu dengan putranya. Apa mungkin Ibu dan Ayah akan menyambutku ketika aku pulang? Sudah tentu itu. Mendadak aku jadi merindukan mereka.

“Malam nanti makanlah bersama kami, Yoko-chan,” ajak Yukino-san yang membuatku merasa ragu. Aku tidak bisa membuat janji sembarangan.

“Maafkan aku Yukino-san, aku tidak bisa berjanji bisa datang atau tidak,” ujarku dengan nada menyesal. Aku saja tidak tahu akan kembali pukul berapa nanti malam. Bagaimana jika aku pulang sangat larut? Aku tidak ingin merusak kebahagiaan Yukino-san dan Kusako-san yang ingin melepas rindu demi menungguku kembali.

Yukino-san menatapku dengan tatapan seakan mengerti. “Kau pasti mau berkencan. Seharusnya aku tidak memintamu menemaniku. Kau pasti akan menghabiskan waktu dengan kekasihmu seperti tahun lalu,” komentar Yukino-san yang membuatku merasa malu.

Malu bukan karena terpergok sedang memadu kasih, tetapi malu karena aku membohonginya. Tahun lalu aku baru kembali pagi hari ketika bertemu Yukino-san dan mengatakan baru saja menghabiskan malam dengan kekasihku. Padahal aku menangis sendirian di stasiun kereta karena percuma menunggu Riku yang tidak pernah menemuiku lagi. Itu menyakitkan.

Riku-kun, apa kau tidak merindukanku untuk sebentar saja? Apa ucapanmu kala itu hanya untuk menyenangkanku? Tidak benar-benar mengatakan perasaanmu padaku? Apa hanya aku yang terlalu berharap pada hubungan semu kita?

*** k a r r a ***

Aku mengetuk-ngetuk ujung sepatuku ke lantai. Sudah lebih dari setengah jam model yang sudah berjanji untuk datang justru belum menampakkan wajahnya. Apa dia pikir kami ini tidak punya pekerjaan yang lain? Kurasa modelnya tidak profesional. Aku sama sekali tidak menyukai model yang seperti ini. Hanya karena kau seorang model maka kau bisa mengabaikan orang lain? Maaf saja, aku tidak respek.

“Kenapa Okamoto-san tidak juga datang?” tanya Yamagashi-san yang merupakan fotografer di kantor majalah kami. Bahkan Yamagashi-san saja sudah mulai sebal dengan tingkah arogan model itu. Jika aku fotografer, aku tidak akan menggunakan model yang tidak menghargai waktu seperti dia untuk bekerjasama kembali. Membuang waktu dan membuang tenaga.

Gomenasai (Maafkan aku)….” kata seorang pemuda bertubuh jangkung yang baru saja memasuki ruangan studio sambil berkali-kali membungkukan tubuhnya secara hormat pada kru yang berada di ruangan ini. Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena pemuda itu terus membungkuk pada orang yang dilewatinya. Pemuda itu baru menghentikan aksinya di depan Yamagashi-san yang sudah memasang wajah galak. “Maafkan aku, aku terjebak badai salju,” ujarnya sambil membungkukan badan di depan Yamagashi-san dan membuatku langsung tercekat.

Wajahnya yang tirus. Kedua mata datar yang membuat kesan tegas. Bibir tipis yang seingatku selalu menyunggingkan senyuman miring padaku. Okamoto Riku! Aku pasti bermimpi! Aku mencubit pinggangku sendiri agar menyadarkanku apa sosok di depanku ini nyata atau hanya fatamorgana. Sakit! Pinggangku sedikit nyeri. Pemuda ini sungguh Okamoto Riku?

“Kau tahu ini jam berapa, Okamoto-san? Kau sangat tidak profesional,” komentar Yamagashi-san dengan nada ketus yang membuatku tersadar dari lamunan.

Pemuda di depan Yagashima-san juga tergagap sepertiku setelah melihatku. Apa aku salah mengartikan tatapannya? Kenapa aku menangkap Riku tidak menyukai keberadaanku di sini? Aku memalingkan wajahku yang mendadak terasa seperti berada di depan bara api.

“Maafkan aku. Aku kurang memperhitungkan kendala cuaca. Sekali lagi aku meminta maaf atas ketidaksopananku datang terlambat,” ujar Riku-kun sambil membungkukkan badan di depan Yagashima-san.

Yagashima-san berdecak. Terlihat kesal tapi mencoba untuk profesional. “Baiklah kita mulai syuting untuk hari ini,” katanya dengan nada tegas.

Hosh! Setidaknya aku akan disibukkan membantu Yagashima-san dan akan sedikit melupakan keberadaan Riku yang berada di depanku. Kenapa baru sekarang kami bertemu? Kenapa tidak sejak dua tahun yang lalu? Aku terus mengeluh dalam hati sambil menatap ke monitor kecil di depanku.

*** k a r r a ***

Riku-kun mempercepat lajunya dan membuatku sedikit keteteran. Aku menyesal menggunakan sepatu hak tinggi milikku yang membuat laju langkahku tidak optimal. “Riku-kun,” panggilku akhirnya sambil terus berjalan mengikutinya. “Kita perlu berbicara,” ujarku lagi.

Jangankan berhenti untuk berbicara denganku, Riku malah berjalan semakin cepat dan mengabaikanku. Apa aku yang harus mengemis meminta penjelasan padanya? Seharusnya dia yang memberi penjelasan pada….

“Aww….” aku merintih pelan ketika heels dari sepatuku patah dan membuatku terjerembab. Kenapa hari ini aku sial sekali? Tadi pagi aku terpaksa menggunakan taksi agar tidak terlambat karena ketinggalan bus. Ongkos taksi jauh lebih mahal daripada bus. Sekarang? Aku terjerembab di lobby utama gedung kantor majalah tempatku bekerja. Banyak orang yang melihatku. Seandainya Doraemon itu nyata dan menjadi teman baikku, aku akan memintanya untuk menghilangkanku sejenak dari kantor ini.

Aku beranjak dari posisi tengkurap dengan dibantu salah seorang pegawai resepsionis. Memalukan sekali terjatuh akibat heels yang patah. Aku menepuk-nepuk kedua tanganku kemudian mencopot heels yang kukenakan. Tidak dapat diselamatkan high heels ini. Aku memperhatikan sekelilingku. Benar, bukan? Aku menjadi tontonan gratis.

Aku memandang Riku yang berdiri di depan pintu keluar dengan senyuman khasnya. Senyum miringnya. Dia melihatku seperti ini dan tidak menolongku? Keterlaluan sekali. Aku rasa ucapannya dulu itu hanya sekedar untuk menenangkanku. Dia tidak bersungguh-sungguh mengucapkan cinta padaku. Aku bodoh terlalu mengharapkannya.

Aku melihat Riku berjalan mendekat ke arahku. Tunggu dulu! Dia mendekatiku? Oh ayolah! Dia tadi mengabaikanku dan sekarang mendekatiku. Apa dia sudah gila? Pemuda jangkung itu berhenti di depanku. “Apa?” tanyaku spontan ketika melihatnya berada di depanku. Nyata. Gamblang. Bukan imajinasiku! Bahkan aku bisa mencium aroma parfum maskulin yang ia kenakan.

“Kenapa kau mengejarku?” tanyanya dengan tandas.

Aku memasang ekspresi tolol di wajahku. Apa dia bilang? Aku mengejarnya? Apa dia tidak salah pertanyaan? Aku mengejarnya untuk apa? Aku hanya ingin meminta penjelasan padanya. Kemana Riku yang kukenal? Kemana Riku yang selalu mendengarkanku ketika mengeluh tentang Kak Makiko? Pemuda di depanku ini bukan Riku yang kukenal. Aku tidak mengenal Riku yang angkuh seperti ini.

Aku tersenyum miris. Aku benar-benar membuang waktu tujuh tahun berhargaku dengan sia-sia belaka. Aku mengharapkan ketidakpastian. Orang yang kuharapkan ternyata tidak lebih dari seorang pemuda arogan yang tidak kukenal sama sekali. Dia benar-benar berubah menjadi orang asing bagiku.

“Maafkan aku, kupikir kau adalah temanku,” ujarku akhirnya. Aku harus mematikan hati ketika melihat raut wajah kebingungan yang ia tunjukkan. “Ternyata kau bukan orang yang kukenal. Maafkan aku,” kataku akhirnya sambil membungkukan badan sedikit kemudian berjalan menuju lift di ujung lobby dengan langkah tertatih. Ingatkan aku untuk membeli sepatu kets mulai hari ini.

Okamoto Riku. Bukan lagi pemuda yang sama seperti tujuh tahun yang lalu. Riku yang sabar dan selalu menebar senyum berubah menjadi pemuda arogan yang selalu tersenyum palsu. Tujuh tahun bisa mengubah seseorang menjadi berbeda.

Aku melihat pantulan diriku di depan lift yang berwarna silver. Apa ini aku? Gadis yang tengah menenteng sebelah heelsnya yang patah, rambut yang berantakan dengan pakaian yang sedikit lusuh akibat terjatuh tadi? Aku menghela nafas panjang ketika melihat seberantakannya diriku. Pantas Riku seakan tidak mengenalku. Atau dia memang tidak mengenalku?

Riku… kau benar-benar berubah drastis. Aku tidak menyangka bertemu denganmu justru membuatku kecewa. Bisakah aku meralat perasaanku dulu? Aku tidak pernah menyukainya! Tidak pernah. Ingatkan aku untuk merapalkan mantra ini setiap aku bangun tidur.

*** k a r r a ***

Aku memainkan gumpalan tisu yang sedikit kuteteskan air dari kopi milikku menggunakan sedotan. Gumpalan tisu itu sedikit mengembang dan membuatku takjub. Aku belum pernah melakukan hal ini. Aku kembali merogoh tas jinjingku dan mengeluarkan selembar tisu lagi. Sepertinya aku akan kecanduan memainkan tisu.

“Apa yang kau lakukan?” tanya seseorang dengan suara beratnya dan membuatku mendongak.
Riku? Untuk apa dia di sini? Hari ini tidak ada jadwal syuting untuknya. Aku memilih untuk mengabaikan pertanyaannya dan kembali memfokuskan diri dengan tisu yang kulipat membentuk seperti ular. Jika terkena tetesan air pasti seakan bergerak.

Aku kembali mencelupkan sedotan ke gelas kertas dan menutup ujungnya menggunakan jari telunjukku. Lagi-lagi aku melakukan hal konyol saat meneteskan cairan pekat berwarna hitam di atas tisu. Dugaanku benar. Tisunya bergerak dan sedikit mengembang. Aku menyukainya.

“Kau kekanakan sekali, Kumako…” ujar Riku akhirnya sambil duduk di bangku depanku. Dia meletakkan tas ranselnya di kursi samping dan memangku tangan di atas meja bundar.

Aku sedikit terkejut dia masih memanggilku Kumako. Menyebalkan sekali. Aku sudah dewasa. Dan aku tidak segendut dulu. Perutku sudah rata dan kencang. Seperti milik Kak Makiko.
“Aku tidak mengijinkanmu duduk di sana,” kataku dengan nada datar. Siapa yang tidak jengkel ketika diperlakukan seperti dua hari yang lalu. Aku mengetuk-ngetuk lantai menggunakan sepatu kets. Aku tidak akan menggunakan high heels lagi. Akibat jatuh kemarin kakiku keseleo.

Riku menyesap kopi miliknya sambil menatapku dengan senyuman khasnya. “Kau banyak berubah, Kumako…” ujarnya sambil meletakkan gelas kertas miliknya di atas meja. “Kupikir kau tidak berubah, ternyata kau berubah banyak. Tidak lagi menggunakan poni rata dan sekarang kau mewarnai rambutmu,” kata Riku yang membuatku kembali memalingkan wajah.

Kenapa dia mengungkit masa lalu kami sih? Aku sudah berbaik hati melupakannya. Ternyata tetap tidak bisa. Kedatangannya membuatku semakin sulit melupakannya. Aku menyesap kembali kopiku dan berharap agar Riku segera pergi.

“Kau sekarang juga sudah memiliki dada. Padahal ketika SMA, dadamu kecil,” ujar Riku sambil tersenyum miring khasnya yang membuatku langsung tersedak.

Aku menepuk-nepuk dadaku agar bisa bernafas dengan lancar lagi. Ah tidak! Wajahku terasa panas. Pasti sudah semerah tomat busuk ini. Kenapa dia menyinggung dada sih? “Kau bilang apa?” tanyaku dengan nada galak.

Riku tertawa sambil mengambil tisu yang kuletakkan di atas meja. “Gunakan ini,” katanya sambil menyodorkan tisu padaku. Aku mengambilnya dengan kasar dan buru-buru menghapus bercak kopi di wajahku. “Kumako yang kukenal seperti ini. Ceroboh dan menggebu-gebu,” komentarnya sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. “Bukan Kumako yang seperti kemarin,” ujarnya singkat sambil tersenyum miring khasnya.

Aku merutuk dalam hati. Kenapa dia harus tersenyum sih? “Kau ini siapa?” Wajar bukan aku membalas sikapnya tempo hari.

Bukan wajah terkejut seperti yang kutunjukkan tempo hari. Riku justru tertawa dan mengabaikan tatapan orang lain yang tertuju pada kami berdua. “Kau mau membalasku?” tanyanya yang membuatku mengerucutkan bibirku. Menyebalkan sekali laki-laki ini.

Aku menarik tas jinjingku dan beranjak dari kursi besi yang kugunakan. Lebih baik aku pergi dari sini. Bisa gagal tujuanku untuk segera move on darinya. Cara terjitu untuk melupakan seseorang adalah dengan menghindarinya atau mencari sosok baru. “Kau sangat menyebalkan, Riku-san,” ujarku akhirnya. Kali ini aku menggunakan sapaan hormat padanya. Sempat kulihat wajahnya sedikit menegang ketika kupanggil dengan imbuhan –san.

Baru saja aku melangkahkan kaki, Riku sudah menyentakku dan membuatku sedikit limbung. Riku beranjak dari bangku yang ia duduki dan menatapku tajam dengan tangan kirinya mencekal pergelangan tanganku. “Kenapa kau pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun padaku?” tanyanya dengan nada tajam.

Kenapa aku merasa di sini aku yang salah? Kenapa seakan-akan dia menuduhku melakukan suatu kejahatan. Bukankah seharusnya aku yang marah padanya dan meminta penjelasan padanya? Woah…. Riku benar-benar pandai berakting.

“Jawab pertanyaanku, Kumako!” perintah Riku dengan nada tegas.

Aku menatap kedua maniknya yang terang. “Berhenti memanggilku Kumako. Aku bukan beruang!” seruku akhirnya. Kekesalanku sudah sampai ubun-ubun. Ibarat gunung berapi yang siap menyemburkan magma panasnya. “Kenapa kau bertanya seperti itu padaku? Justru aku yang seharusnya bertanya padamu! Kemana kau selama ini dan tidak menghubungiku sama sekali? Kenapa kau berbohong soal ucapanmu kala itu? Kau tidak perlu mengatakan kau mencin….”

Kalimatku terpotong karena aku mendapati kedua manik Riku sudah berada di depan mataku dan menatapku dengan sorot … kerinduan? Bibirnya tengah mengecup bibirku dan membuat wajahku terasa terbakar. Bahkan aku bisa menghirup nafas yang sama dengan yang Riku hirup dengan jarak dekat seperti ini. Astaga… kakiku mulai melemas. Ciuman pertamaku diambil oleh orang yang menjadi cinta pertamaku.

Riku merengkuh pinggangku dan memperdalam ciumannya yang membuatku tidak bisa mengalihkan pandangan mataku padanya yang juga tengah menatapku. Jika orang bilang ciuman itu akan lebih nikmat jika dilakukan dengan mata tertutup, aku menolaknya. Aku menyukai cara Riku menatapku dan menyapukan bibirnya di bibirku. Boleh tidak aku berharap waktu berhenti?

Detik selanjutnya aku langsung mendorong tubuh Riku agar sedikit menjauh dariku. Selain karena aku mulai kehabisan napas, aku juga teringat dua hal. Satu, aku melihat banyak orang yang menatapku dan Riku dengan tatapan horor. Kedua, aku teringat jika aku sedang marah dengan Riku. Kenapa aku terlena dengan ciuman Riku? Menyebalkan!

Riku menyentuh bibirku dengan ibu jarinya dan mengusapnya dengan perlahan. Aku langsung membuka mulut dan menggigit ibu jarinya dan membuatnya menjerit. Riku langsung menarik tangannya dan mengibaskan jemarinya. Sepertinya aku perlu mendeklarasikan diri menjadi seorang kanibal jika berhubungan dengan pemuda jangkung ini.

“Kenapa kau menggigit jariku?” tanya Riku sambil mengusap ibu jarinya yang tercetak bekas gigiku. Riku menatapku dengan tatapan tajam.

Aku menyilangkan kedua tanganku di depan dada. Masa bodohlah orang yang melihat kami. Aku akan menuntaskannya sekarang. “Kemana kau selama tujuh tahun ini? Kenapa kau tidak pernah menguhubungiku? Jika kau bersungguh-sungguh dengan ucapanmu kala itu, kau pasti akan mencariku. Tidak meninggalkanku! Apa tidak sukanya kau padaku hingga membuatku menunggu selama ini? Kalau kau seorang laki-laki seja….”

Entah kali ini aku harus melakukan apa agar Riku berhenti menciumku di tengah-tengah ucapanku! Aku masih marah padanya dan berusaha meminta penjelasan padanya dia seenaknya mencium bibirku dan membuat emosiku menjadi campur aduk. Baiklah, aku memutuskan untuk menggigit bibir bawah Riku dan membuatnya spontan menjauhi wajahku lagi.

“Kau…” desisnya sambil mengusap-usap bibirnya menggunakan tangan. “Kumako… kau sekarang benar-benar nakal….” Riku mengucapkan kalimat itu dengan suara berdesis. Kedua maniknya menatapku tajam.

“Kau benar-benar orang kejam, Riku-kun! Kau selalu memotong ucapanku sebelum aku menyelesaikannya! Aku memintamu menjelaskan semuanya padaku! Sekarang!” tuntutku dengan nada tandas. Aku tidak ingin berbicara panjang lebar lagi daripada ia nanti menciumku lagi. Tidak sopan.

Riku menggaruk tengkuknya. Pemuda itu menatap sekeliling kami yang masih menatap kami dengan pandangan horor. Wajahnya memerah. Lihat bukan? Dia saja baru menyadari menjadi pusat tontonan orang banyak. “Aku akan menjelaskan padamu, tapi tidak di sini,” katanya dengan pelan. “Aku tidak tahu kalau ada banyak orang yang melihat ke arah kita,” ujarnya lagi sambil tersenyum rikuh dan menarik tanganku meninggalkan kedai kopi.

*** k a r r a ***

Aku memandang apartemen milik Riku yang benar-benar didesain dengan minimalis dan khas Riku sekali. Apartemennya jauh lebih kecil daripada apartemennya yang dulu. Aku memakai sandal rumah dan berjalan mengikuti Riku ke ruang tengah.

Riku mengambil dua kaleng soda dan salah satunya diulurkan padaku dan membuatku langsung membuka pengaitnya. Aku masih terdiam dan tidak mengeluarkan satu kata pun. Aku menunggunya. Lagi-lagi menunggunya untuk memberikan penjelasan padaku.

Riku duduk di sofa samping kiriku. Kedua maniknya menatapku tajam. “Kenapa aku meninggalkanmu kala itu, karena itu memang seharusnya. Aku tidak diijinkan tinggal sendiri jika masih di bawah umur. Soal pernyataanku dulu itu, itu memang benar. Aku mencintaimu. Bahkan sampai sekarang pun aku masih mencintaimu.” Riku menghela nafas panjang.

Dia masih mencintaiku? Aku baru akan bertanya tapi dia memberi isyarat untuk tidak memotong ucapannya. Apa-apaan dia? Tidak adil.

“Jika kau ingin bertanya kenapa aku tidak pernah menghubungimu, jawabannya ponselku hilang dan aku tidak bisa mengingat emailmu kala itu. Setiap tahun aku berusaha untuk menemuimu, hanya saja setiap aku datang ke rumahmu, kau dan keluargamu tengah pergi menemui keluarga Kak Makiko atau tengah liburan kemana. Tidak pernah ada peluang untukku bertemu denganmu. Dua tahun yang lalu aku mencoba mencarimu lagi dan mendapatkan fakta mengejutkan. Kau berada di Tokyo,” ujar Riku dengan senyum yang terkembang di bibirnya. Ingatkan aku untuk terus mengingat rasa dari bibir Riku.

“Kita berada di kota yang sama tapi kita tidak pernah bertemu. Ketika mengetahui kau bekerja di perusahaan itu, aku mencari cara untuk bisa bertemu denganmu, salah satunya menjadi seorang model.” Riku menatapku dengan tatapan intens. Aku sempat bergidik melihat tatapannya. “Ketika bertemu denganmu lagi, kau membuatku kecewa. Aku tidak menyukai kau mengenakan baju seperti itu. Menggunakan high heels. Atau make up seperti itu,” lanjutnya yang membuatku tergugu.

“Itu karena pekerjaanku,” protesku akhirnya.

Riku mengangguk. “Aku tahu. Aku hanya tidak suka kau selalu menjadi pusat perhatian dari laki-laki lain yang mengatakan kau cantik atau sebagainya. Kau hanya boleh terlihat cantik di depanku,” katanya dengan nada tegas.

Kenapa aku menangkap kesan diktator dari kalimat Riku barusan. “Kenapa aku harus mengikuti keinginanmu?” tanyaku sambil meletakan kaleng soda yang sedaritadi kupegang ke atas meja persegi di depan kami.

“Kau ini bagaimana? Kan aku sudah menyatakan padamu perasaanku sejak tujuh tahun yang lalu! Kau juga mengatakan hal yang serupa. Sejak hari itu kita jadian, kan?” tanya Riku dengan menggebu-gebu.

Aku manatap pemuda di depanku dengan tatapan tidak percaya. “Jadian?” tanyaku tidak yakin. “Sejak kapan kita jadian? Kita berkencan saja tidak! Lagipula siapa bilang aku masih mencintaimu? Aku sudah lama melupakanmu!” protesku dengan suara cukup keras. Berbohong sedikit tidak apa, bukan?

Riku menunjuk bibirku sambil tersenyum kecil. “Kalau kau tidak mencintaiku, kau tidak akan membalas ciumanku dengan mata terbuka seperti tadi. Bahkan aku bisa melihat dengan jelas bagaimana rona wajahmu yang memerah,” ujarnya dengan nada tengil.

Sial! Aku kembali merasakan tengah mendekatkan wajahku di atas kompor. Rasanya panas sekali. Ibarat kepiting pasti aku benar-benar sudah matang. Kenapa aku justru teringat ciumannya tadi. Sial. “Aku….”

Riku tersenyum penuh arti dan memutuskan duduk di sampingku. Pemuda itu mencondongkan tubuhnya ke arahku dan menatapku dengan intens. “Kau keberatan jika aku masih mencintaimu?” tanyanya yang membuatku tergugu. Sial! Kenapa dia menanyakan pertanyaan yang tidak ingin kujawab? “Aku masih berharap kau juga masih mencintaiku, Kumako,” lanjutnya yang membuatku menatapnya lebih fokus. Abaikan bibirnya, Yoko!
Kenapa fokus mataku justru ke bibir Riku? Apa aku ketularan mesum sepertinya? Tunggu dulu! Kenapa aku merasa tubuhku condong ke arahnya dan… lagi-lagi aku menatap kedua manik bening milik Riku dari jarak dekat seperti ini. Bibirku menyentuh bibirnya dengan lembut. Aku tidak perlu menjawab pertanyaannya, bukan? Anggap saja jawabanku iya. Aku masih mencintainya!!!

Aku menatap kedua manik Riku yang juga tengah menatapku dengan tatapan intens. Riku merengkuhku dan menarik tengkukku untuk memperdalam ciuman kami. Aku mengalungkan kedua tanganku di lehernya. Aku menikmati ciuman kami yang seperti ini. Benar-benar memabukkan. Ternyata orang bilang ciuman itu membuat ketagihan memang benar.

Riku melepas ciuman kami dan menatapku dengan pandangan yang sulit kuartikan. “Jawabanmu adalah iya?” tanyanya dengan napas yang sedikit tersengal. Wah, aku seorang pencium yang baik bisa membuat lawan kehabisan napas. Aku mengangguk dengan rikuh. Sapuan napasnya di wajahku membuatku kembali tidak berkutik. “Kau mau berhenti sekarang atau mau berlanjut. Hanya saja jika kau memilih berlanjut, aku tidak akan bisa berhenti seperti ini,” tanyanya dengan serangaian jahil di wajahnya.

Aku mendekatkan wajahku ke telinga kanannya. “Aku mau berlanjut,” ujarku dengan nada pelan yang membuatnya terkekeh. Riku! Aku benar-benar mencintaimu!

*** F I N ***

Advertisements

Letter of Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s