Let Me Say Goodbye [Part 1]

let me say goodbye new

Let Me Say Goodbye

Songwriter : Karra | Length : Medley | Main Cast : Yoo Youngjae of B.A.P

Genre : Romance | Sub Genre : Family and Friendship | Ratting : PG 15+

Disclaimer : Yoo Youngjae is not my original character. He belong to himself. This story is only a fiction, I don’t make money from it, so please do not sue me.

Summary : “Ini tentang gadis yang bernama Hyo Ri dan memiliki wajah yang serupa dengan gadisku, Hye Ri.” – Yoo Youngjae

Other Post only on Fiction Jukebox

“Yong! Bisakah kau membantuku mengambilkan buku berwarna kuning pastel itu?” tanya seorang gadis berambut ikal dengan warna cokelat sienna. Gadis bernama Hye Ri itu berusaha menggapai buku bersampul kuning pastel tetapi tidak dapat meraihnya karena diletakkan di rak paling atas.

 

Pemuda di sampingnya yang tengah membolak-balik halaman buku bersampul cokelat maroon menoleh ke arah Hye Ri. Youngjae menengadah ke arah yang ditunjuk gadisnya. Tangan kanannya terulur untuk menggapai buku yang dimaksud Hye Ri. “Buku yang ini?” tanyanya yang mendapat jawaban anggukan dari Hye Ri. Yongjae memberikan buku bersampul kuning pastel pada Hye Ri yang langsung diterima gadis itu dengan baik.

 

Hye Ri berjinjit untuk mengecup pipi kiri Youngjae. Seolah mengucapkan terima kasih. Dia kemudian berjalan ke meja persegi yang terletak di pinggir jendela perpustakaan setelah mendapati wajah Youngjae yang memerah. Gadis itu terkikik geli melihat reaksi dari Youngjae.

 

Youngjae memandang gadis yang baru saja mengecup pipinya dengan sangat tidak sopan dan melarikan diri di meja yang sudah diisi oleh dua orang mahasiswi yang tengah mengerjakan tugas mereka. Pemuda itu mengusap pipi kirinya yang terasa menghangat karena kecupan Hye Ri dan memutuskan untuk menyusul Hye Ri kemudian duduk di seberangnya.

 

Hye Ri tersenyum kecil ketika melihat Youngjae duduk di seberangnya. Kedua netra gadis itu terus mengawasi tingkah laku Youngjae. Pemuda di depannya ternyata juga sedang menatap Hye Ri dengan sorot mata malu. Hye Ri hanya menyunggingkan senyuman manisnya ketika melihat sorot mata Youngjae yang meneduhkan.

 

Youngjae memutuskan untuk membaca buku yang tengah ia pegang daripada melihat Hye Ri yang masih saja tersenyum dan seolah tidak peduli pada dampak tingkahnya tadi. Mencium pipi di tempat umum? Youngjae rasa hanya Hye Ri yang nekat untuk melakukannya karena sudah hampir lima tahun ia berada di Amerika. Sudah sewajarnya bukan ungkapan kecil dilakukan dengan kecupan?

 

‘Apa kau marah, Yong?’

 

Sticky note berwarna shocking pink bertuliskan kalimat hangeul tiba-tiba muncul di halaman buku yang tengah dibaca Youngjae. Sudah jelas siapa pelakunya yang meletakkan kertas persegi itu. Youngjae mendongak ke arah Hye Ri. Gadis yang ia lihat malah justru memalingkan wajahnya ke buku di atas meja.

 

Youngjae mengambil pulpen dan sticky note miliknya yang berwarna hijau. Pemuda itu menuliskan kalimat dalam hangeul dan meletakkan kertas persegi di atas halaman buku yang tengah di baca oleh Hye Ri. Atau mungkin sebagai kedok gadis itu untuk membaca buku?

 

‘Sama sekali tidak!’

 

Hye Ri tersenyum melihat jawaban Youngjae yang ditulis di sticky note. Gadis itu buru-buru mengambil sticky note shocking pink miliknya dan menuliskan beberapa kata dan kembali meletakkan balasan pesannya di halaman buku Youngjae.

 

‘Tentu saja kau tidak marah padaku. Kau tidak bisa marah padaku karena aku kekasihmu. Benar bukan?’

Youngjae tertawa kecil melihat pesan dari Hye Ri. Pemuda itu berdeham kecil untuk menghilangkan rasa gelinya ketika menyadari dua mahasiswi yang semeja dengannya dan Hye Ri tengah memandangnya dengan rasa ingin tahu.

 

‘Benar sekali. Kau kekasihku. Mana mungkin aku marah padamu?’

 

Youngjae segera membalas pesan dari Hye Ri dan lagi-lagi membuat Hye Ri tersenyum kecil ketika membaca pesan dari Youngjae. Sedetik kemudian senyuman gadisnya memudar. Hye Ri tengah menulis sesuatu di atas kertas persegi miliknya dan kembali meletakkannya di depan Youngjae.

 

‘Kalau aku berbohong padamu, apa kau akan marah padaku?’

 

Youngjae terdiam dan langsung menatap Hye Ri dengan tatapan kebingungan. Gadis di seberangnya malah menatapnya dengan tatapan ingin tahu dengan jawaban Youngjae. Youngjae menghela nafas dan berbicara tanpa suara. “Tentu saja. Dari awal kita sudah bersepakat untuk jujur, bukan?”

 

Hye Ri hanya mampu menanggapi pertanyaan Youngjae dengan sebuah senyuman yang memiliki banyak makna. Salah satunya penyesalan.

 

*** k a r r a ***

 

Seorang gadis dengan rambut ikal berwarna cokelat pasir yang masih mengenakan seragam sekolah dengan celana olah raga dibalik rok pendeknya langsung melompat dari pagar sekolah. SMA Victory. Walaupun pagar pemisah antara sekolah dengan jalan kecil di sampingnya memiliki tinggi dua meter, gadis itu tidak segan-segan melompat dan mendarat dengan sukses di jalan kecil. Lutut kiri gadis itu menyentuh tanah sedangkan kaki kanannya tertekuk. Rambut ikalnya yang tidak terkucir berkibar mengikuti arah angin. Senyuman kemenangan tercetak di bibir tipisnya.

 

“Ya! Kim Hyo Ri! Kembali ke sekolah sekarang!” seru seorang laki-laki paruh baya yang membawa sebuah tongkat kayu.

 

Hyo Ri menegapkan badannya. Merasa menang. Tentu saja! Park Ssaem tidak mungkin akan melompat pagar seperti dirinya. Gadis itu menatap Park Ssaem yang seperti banteng siap menyeruduknya. “Maafkan aku, Park Ssaem! Aku tidak berniat mengikuti pelajaran Song Ssaem. Dia hanya membuatku tertidur di kelas,” jawab gadis itu sambil tertawa. Gadis itu melambaikan tangannya pada Park Ssaem yang menyerah akan kelakuan salah satu siswinya yang memang memiliki kenakalan yang luar biasa.

 

Hyo Ri melangkahkan kakinya menyusuri jalanan kecil di samping sekolahnya. Dari sini bisa terdengar dengan jelas bagaimana gedung sekolah itu. Guru yang tengah menjelaskan materi, murid yang berteriak bahkan Hyo Ri melihat kepulan asap putih kecil yang sudah dapat dipastikan geng Dong Goon tengah menghisap nikotin di gudang belakang sekolah.

 

Jadi kemana tujuan kali ini? Ke warung internet tidak mungkin. Jika tertangkap polisi pasti akan dilaporkan kepada orang tua dan sekolah. Jangan sampai berurusan dengan pihak kepolisian. Hyo Ri merasa ada seseorang yang tengah mengikutinya. Setiap gadis itu melangkahkan kakinya dengan cepat, orang di belakangnya juga melakukan hal yang sama.

 

Begitu Hyo Ri sampai di tikungan, gadis itu segera bersembunyi di salah satu pilar dan menunggu orang yang mengikutinya ikut berbelok. Dugaan Hyo Ri tepat! Orang itu mengikutinya!

 

Tangan kanan Hyo Ri langsung mencekal pergelangan tangan kiri pemuda yang mengikutinya dan tangan kiri gadis itu langsung menekan leher pemuda itu sambil mendorongnya ke dinding. “Siapa kau? Kenapa kau mengikutiku?” tanya Hyo Ri dengan nada tajam. Bahkan kedua netranya juga ikut menatap pemuda asing yang mengikutinya.

 

Youngjae berusaha melepaskan cekalan dari Hyo Ri sambil mengatur nafas. “L-le-pas-kan a-a-ku, Hye Ri, ” ujar Youngjae dengan terbata. Wajah pemuda itu memancarkan rona merah akibat cekikan lengan Hyo Ri di lehernya yang menghalangi jalannya oksigen di tubuhnya.

 

Cekalan Hyo Ri langsung terlepas ketika pemuda itu menyebut nama seseorang yang sangat tidak asing di telinganya. Hye Ri? “Aku bukan Hye Ri!” Hyo Ri langsung melepaskan sang tawanan dan memundurkan langkahnya.

 

Youngjae mengernyitkan keningnya. Tidak menyangka jawaban gadisnya seperti itu. Tunggu dulu! Youngjae mengamati gadis di depannya dari ujung kaki ke ujung kepala. Sangat mirip dengan Hye Ri tetapi seragam yang dikenakan gadis ini berbeda dengan seragam milik Hye Ri. “Kau sedang bermain-main denganku, Ri-ah?” tanya Youngjae tidak yakin. Bagaimana bisa yakin seratus persen jika melihat gadisnya yang sedikit urakan ini?

 

Hyo Ri mendengus. “Sudah kubilang aku bukan Hye Ri. Kau salah orang!” Hyo Ri menaikkan satu oktaf dari suaranya ketika mendapat pertanyaan dari Youngjae. Gadis itu memutuskan untuk pergi dari hadapan pemuda itu. Baru berjalan lima belas langkah, Hyo Ri merasa pemuda itu masih mengikutinya. Hyo Ri memutuskan untuk membalikkan badan sambil berkacak pinggang. “Jangan mengikutiku! Atau akan kulaporkan pada polisi kalau kau penguntit!” seru Hyo Ri dengan kesal karena Youngjae masih mengikutinya.

 

“Aku bukan penguntit. Aku kekasihmu! Kau amnesia, huh?” tanya Youngjae yang juga menaikan satu oktaf nada suaranya karena terintimidasi ucapan gadisnya. “Ri-ah, apa yang kau lakukan disini?”

 

Hyo Ri tersenyum miring ketika melihat perlawanan Youngjae. Pemuda itu pasti mengira dirinya Hye Ri. Ah, apa kabar dia? Apa dia menikmati dunia penuh uang seperti yang selalu dibanggakan oleh lelaki busuk yang pergi membawa gadis yang kebetulan berwajah sama dengannya?

 

“Ri-ah?” tanya Hyo Ri sambil berjalan mendekati Youngjae. Gadis itu menyilangkan kedua tangannya di depan dada. “Kalau kau mengaku sebagai kekasihnya, kau pasti tahu tentangku,” ujar Hyo Ri sambil menatap tajam ke arah netra Youngjae yang menyiratkan kebingungan. “Tapi sepertinya kau tidak tahu tentangku, jadi bisa kusimpulkan gadismu itu sudah berbohong soal ini padamu,” kata Hyo Ri sambil mendorong tubuh Youngjae hingga pemuda itu memundurkan langkah kakinya. “Berhenti mengikutiku! Pergi cari gadismu itu!” perintahnya yang lagi-lagi menggunakan nada intimidasi.

 

Hyo Ri membalikkan badannya dan kembali melangkahkan kakinya ke sebuah tempat karaoke. Bernyanyi dan berteriak pasti menyenangkan. Dia tidak boleh membebani pikirannya karena orang yang berwajah sama dengannya. Tidak boleh! Karena belum tentu orang itu memikirkannya.

 

*** k a r r a ***

 

Youngjae menyesap espresso sambil melihat orang berlalu lalang di depan kafe. Kantung matanya terlihat semakin memburuk karena sudah dua hari ini ia tidak dapat tidur nyenyak. Hye Ri seakan menghindarinya ketika dua hari yang lalu ia menanyakan tentang gadis misterius yang berwajah sama dengan gadisnya. Kepalanya terus memikirkan hal ini. Kenapa Ri-ah harus menyembunyikan sesuatu padanya?

 

Tatapan Youngjae tiba-tiba terfokus pada seorang gadis yang tengah menyibakkan rambut ikalnya. Gadis itu Ri-ah. Atau gadis misterius? Dengan pakaian santai seperti ini, Youngjae merasa cukup sulit membedakan gadisnya atau gadis misterius itu. Youngjae memutuskan untuk memperhatikan gadis yang berdiri di depan kaca kafe.

 

Tangan kiri gadis itu menggenggam ponsel berwarna putih. Sepertinya dia tidak suka ponselnya diberi pelindung. Bukan ponsel Ri-ah. Ternyata gadis misterius itu. Youngjae melihat gadis itu kembali menyibakkan rambut ikalnya dengan tangan kanannya. Sepertinya angin di luar cukup kencang karena rambut gadis itu susah sekali dirapikan.

 

Sweater bergaris hitam merah yang dikenakan gadis itu tampak kedodoran. Skinny jeans berwarna biru dongker yang melekat sempurna di kakinya yang jenjang membuat gadis itu tampak semakin tinggi. Belum lagi sepatu kets berwarna putih yang membuat penampilan gadis itu semakin menarik. Youngjae sedikit tergagap ketika menyadari ia tertarik pada gadis itu. Sial! Ralat! Sedikit tertarik.

 

Eonnie….” sapa seseorang yang membuat Hyo Ri langsung menoleh ke arah kiri. Sedetik kemudian ia sangat menyesal karena menoleh dan melihat gadis berwajah sama dengannya berdiri sampingnya. “Ternyata benar kau, Eonnie,” ujar Hye Ri sambil menyunggingkan senyumannya. Senyuman yang selalu ia tunjukkan ketika ia merasa bersalah.

 

Hyo Ri memandang ke arah Hye Ri dengan tatapan merendahkan. Dia tidak ingin melakukannya tapi egonya tidak ingin berbuat demikian. Seolah mengatakan tidak pantas gadis ini diberi ampun.

 

“Bersikaplah kita tidak saling mengenal. Seperti tujuh tahun lalu,” ujar Hyo Ri dengan nada tandas. Lagi-lagi egonya mengalahkan perasaan rindu. Hyo Ri langsung memalingkan wajah ke arah jalan raya. Bersikap tidak melihat Hye Ri. Dia memaki Dong Goon yang memintanya untuk bertemu.

 

“Ri-ah!” seru seorang pemuda sambil keluar dari kafe di belakang kedua gadis berwajah serupa itu. Hye Ri menoleh ke sumber suara dan sedikit terkejut melihat Youngjae yang tengah berjalan ke arahnya. Hyo Ri melirik pemuda yang kini berdiri di antara dirinya dan Hye Ri.

 

Pemuda penguntit ini lagi. Hyo Ri langsung mengeluh dalam hati ketika melihat Youngjae. Gadis itu melihat Dong Goon tengah berdiri di seberang jalan raya sambil melambaikan tangannya. Bagus! Hyo Ri bisa melarikan diri dari tempat ini. Baru saja gadis itu melangkahkan kaki kirinya, pergelangan tangan kirinya sudah dicekal seseorang.

 

Hyo Ri langsung menoleh ke arah Youngjae dengan tatapan galak. “Lepaskan tanganku jika kau masih ingin hidup,” ujar Hyo Ri yang lagi-lagi dengan nada mengancam.

 

Youngjae tidak ngeri melihat tatapan membunuh Hyo Ri. “Tetaplah disini, aku ingin bertanya pada kalian berdua. Kalian harus menjawabnya,” ujar Youngjae dengan nada final.

 

Sayangnya cekalan tangan Youngjae langsung terlepas ketika Hyo Ri menepis tangan pemuda itu. “Siapa kau? Kenapa aku harus mengikuti maumu, huh?” tanya Hyo Ri lagi. Tatapannya kembali ke arah Hye Ri yang tengah menggenggam tangan kiri Youngjae. “Ah, aku lupa. Aku memiliki saudara kembar,” kata Hyo Ri dengan nada mengejek, “sayangnya aku sama sekali tidak berminat dengan urusan kalian berdua. Berdekatan dengan gadis berwajah sama denganku itu sebuah kutukan, paham?” lanjutnya sambil mengamati Hye Ri yang tersentak mendengar ucapannya.

 

“Ada masalah?” tanya Dong Goon yang ternyata sudah berdiri samping Hyo Ri. Pemuda itu sedikit terkejut melihat wajah gadis yang berdiri di depan Hyo Ri. “Hyo… dia…” kalimat Dong Goon terpotong karena sikutan yang cukup keras mendarat di ulu hatinya. Hyo Ri menatapnya dengan tatapan tajam. “Ayo pergi,” ajak Dong Goon akhirnya.

 

Hyo Ri menatap kedua orang yang memandangnya dengan tatapan ingin tahu. “Kau dan aku sudah memiliki dunia yang berbeda. Jadi bersikaplah kau tidak mengenalku. Aku sama sekali membencimu!” Hyo Ri langsung membalikkan badan dan berjalan bersama Dong Goon.

 

Hye Ri tidak sadar air matanya langsung mengalir mendengar ucapan Hyo Ri. Ia pikir Hyo Ri akan memeluknya seperti ketika mereka berumur lima tahun. Menjaganya bahkan menghentikan tangisnya ketika ia dan Hyo Ri sudah dua minggu tidak bertemu. Itu dulu!

 

Youngjae merengkuh tubuh Hye Ri dan membimbing gadis itu ke salah satu sudut di dalam kafe agar tidak banyak orang yang melihatnya menangis sesegukkan seperti ini. Youngjae mengambil tisu dan menyodorkan pada gadisnya. “Menangislah jika kau merasa itu masih belum tuntas,” ujar Youngjae dengan nada lembut.

 

Pemuda itu sama sekali tidak menyangka jika Hye Ri akan muncul dan mendekati gadis misterius di depan kafe. Entah apa yang dibicarakan keduanya hingga membuat senyuman Hye Ri langsung memudar. Youngjae membutuhkan penjelasan tapi melihat kondisi Hye Ri yang masih menangis seperti ini, ia tidak tega. Ia bukan gadis misterius tadi yang mengatakan hal buruk pada Hye Ri. Mungkin jika ia seorang gadis mungkin ia akan menangis seperti Hye Ri. Kalimat yang dilontarkan gadis misterius tadi benar-benar menyakitkan.

 

Youngjae mengusap-usap punggung Hye Ri agar gadis itu tidak merasa ditinggalkan. Pemuda itu benar-benar tidak habis pikir mengapa kembaran Hye Ri tega mengatakan hal menyakitkan seperti itu. Dia ingin bertanya tetapi urung melakukan. Sepertinya bertanya pada Hye Ri akan membuat gadisnya semakin terluka. Seakan menancapkan sebilah pisau di jantungnya setelah menarik pisau itu. Menyakitkan. Itu pasti.

 

Hye Ri membersit hidungnya dengan tisu. Kedua matanya memerah bahkan Youngjae juga bisa melihat rona merah di hidung gadisnya. “Maafkan aku… kau harus melihatku terpuruk seperti ini,” ujar Hye Ri dengan suara lirih.

 

Youngjae mengusap-usap bahu Hye Ri dengan sayang sambil mengulurkan sebuah gelas berisi cairan bening. “Minumlah dulu, tenggorokanmu pasti sakit,” ujar Youngjae dengan nada lembut.

 

Hye Ri menyambut uluran gelas air putih dan meneguknya untuk menghilangkan rasa perih di tenggorokannya karena dia terus menahan suara sesegukkan. Setelah meneguk air putih hingga tersisa setengah gelas, gadis itu meletakkannya di atas meja bundar berwarna cokelat kayu. Gadis itu menatap Youngjae yang ternyata masih memperhatikannya. “Apa aku terlihat buruk?” tanya Hye Ri dengan tatapan rikuh.

 

Youngjae menyunggingkan senyumannya. “Orang bilang jika seorang gadis menangis akan terlihat cantik. Tapi berbeda denganmu. Kau terlihat menakutkan ketika menangis. Aku tidak tahu harus berbuat apa untuk menghiburmu,” ujar Youngjae sambil mengusap-usap kepala Hye Ri.

 

“Yong!” seru Hye Ri pura-pura merajuk. Dalam hati gadis itu, sebenarnya ia malu harus menangis di hadapan pemuda yang sangat ia cintai. Walaupun umurnya masih delapan belas tahun, dia sangat tahu apa itu cinta. Dia tidak ingin berpisah dengan Youngjae. Tidak bisa! Walaupun gadis itu menyadari akan ada badai besar di depan sana. Apalagi setelah bertemu dengan Hyo Ri setelah tujuh tahun tidak bertemu. “Yong…” panggil Hye Ri dengan suara serak.Youngjae menoleh ke arah gadisnya dan menatap dengan pandangan bertanya.

 

“Katakan kau akan selalu disisiku apapun yang terjadi,” kata Hye Ri yang membuat kening Youngjae berkerut. “Tolong katakan itu, Yong…” rajuk Hye Ri lagi. Tidak ada senyuman di bibir gadis itu.

 

Youngjae menatap gadisnya dengan tatapan kebingungan. Kemudian ia mengangguk sebelum Hye Ri kembali menangis. “Aku akan selalu disisimu apapun yang terjadi, Ri-ah,” ujarnya dengan lugas. Walaupun dia masih sedikit bingung dengan permintaan Hye Ri. Baru setelah itu senyuman kecil tercetak di bibir tipis Hye Ri.

 

***  T o  B e  C o n t i n u e d ***

Advertisements

Letter of Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s