Review : Beautiful Sorrow by Pia Devina

PIA DEVINA
BEAUTIFUL SORROW
_________________________________________________________________________
PENULIS : PIA DEVINA
PENERBIT : DIVAPRESS
SINOPSIS :
Radella Editha masih saja terperangkap pada masa lalunya, pada seorang Yoga. Ia memutuskan untuk resign dari kantor, lalu kabur ke Singapura. Tapi, Pram, bos Radel, menyusulnya ke sana. Ia meminta Radel pulang.
Radel menolak dengan keras. Ia membenci Pram. Laki-laki itu yang menyebabkan dirinya putus dengan Yoga. Tapi, Pram juga memberinya sebuah kabar. Bahwa, Yoga akan ditugaskan kembali ke Jakarta.Radel luluh. Ia akhirnya pulang. Dan, di suatu malam, Radel dan Yoga pun bertemu. Radel merasa dunianya hidup kembali. Ia tersenyum, tertawa, dan kembali bersemangat. Ia merasa utuh setelah Yoga hadir.

Namun, tiba-tiba Radel merasa dikejutkan oleh listrik tegangan tinggi saat menemukan foto mesra Yoga bersama Meira, mantan pacar Yoga semasa kuliah, yang juga mantan pacar Pram, di mobil Yoga.

Radel pun kembali sedih dan sakit hati. “Benarkah ini sebuah kenyataan?” jerit hati Radel.

Tak lama sebuah jawaban pun ia dapatkan dari Meira. Sebuah jawaban yang lagi-lagi mengejutkannya: Yoga tak lagi bisa mencintai Radel juga Meira!

Lalu…?!

 »Beautiful Sorrow. Untuk saya pemilihan judul ini sudah membuat saya penasaran. Kenapa penulis memberikan judul seperti ini? Menurut paham idealisme yang saya anut ketika membaca sebuah novel, kesedihan itu ya sedih. Tidak indah. Tapi dibalik kesedihan itu pasti akan ada jalan keluar yang akan membawa kepada kebahagiaan. 
» Blurb. Sinopsis di cover belakang novel ini sebenarnya sejak awal bisa menebak bagaimana hubungan antaa Radel dengan Yoga. Karena disini tokoh utamanya adalah Radel dan Pram, saya penasaran bagaimana konflik keduanya. Kenapa seorang Radel bisa sangat membenci Pram? Karena saya adalah orang yang sangat menyukai sebuah proses, itu sebabnya saya memutuskan mengambil novel ini dari rak buku dan membawanya ke kasir. :p
» Setelah saya membahas tentang alasan saya membeli novel ini saatnya saya mereview. (akhirnya…)
 » Kenapa saya justru tertarik dengan konflik Pram dan Radel? Karena dalam novel terlebih Kak Pia menggunakan POV orang pertama jadi membuat saya lebih bisa meresapi karakter Radel. Bahkan saya bisa ikut membenci seorang Pram. Dan terlebih lagi Kak Pia mampu mengemas sebuah tokoh yang benar-benar manusiawi. Rata-rata karakter utama akan disandingkan dengan tokoh yang terlihat sempurna dan tanpa cacat. Tapi disini, Kak Pia menyuguhkan seorang Pram yang terlihat sempurna tapi dia sangat manusiawi. Bisa membuat saya pribadi berkomentar, “oh… sifatnya Pram itu seperti ini?”. Ngeselin sih dengan perlakuannya di Handerson Waves. Tapi aku bisa memaklumi kenapa dia melakukan itu. Terkadang saya sempat terkecoh dengan tokoh Radel. Emosinya sangat meluap-luap. Beruntung Kak Pia mampu mendeskripsikan dengan baik sehingga saya tidak kebingungan. Tapi ada hal yang bikin saya sebal sama tokoh Radel. Kenapa dia digambarkan sebagai sosok seperti anak remaja belasan tahun yang masih suka ngambek padahal umurnya dua puluh enam tahun. Apakah karena dia anak bungsu? Tapi saya bisanya protes saja sih soalnya kewenangan tetap di tangan penulis.

» Sebenarnya saya tipikal orang yang kurang cermat saat membaca. Terkadang satu kata nggak berpengaruh pada saya. Cuma kebetulan saat saya membaca ada satu typo yang terlihat dengan jelas. Yakni di halaman 19 dimana menyebutkan nama ‘Bu Nende’ sedangkan penunjuk orang sebelumnya tertulis ‘Bu Santi’.

» Penggunaan alur campuran yang di pakai oleh Kak Pia buatku pribadi, membuat saya bingung karena berkali-kali saya harus membolak-balik keterangan waktu yang digunakan. Dan membuat saya akhirnya menyerah dan mengira-ngira sendiri keterangan waktunya. Pilihannya hanya ada dua. Sekarang dan masa lalu.

» Saya suka dengan narasi yang digunakan Kak Pia. Buatku pribadi itu sudah memasukan unsur ‘Show Don’t Tell’ dengan baik. Karena deskripsi dan emosi yang disampaikan Kak Pia udah pas di novel ini. Dan itu membantu saya mendalami novel ini dengan penghayatan. Terlebih lagi penggunaan kata baku di dalam narasi membuat saya lebih mudah mencerna emosi Radel.

» Untuk pemberian bintang, saya memberikan ★★★. Kenapa saya memberikan ★★★? Karena saya suka dengan ide cerita novel ini. Itu sebabnya saya memberikan ★★ untuk ide novel ini. Dan ★ untuk covernya yang cantik karena terkesan elegan dan klasik. Mungkin sekian review dari saya. Semoga kalian yang belum membaca bisa mendapatkan referensi dari review yang sudah saya berikan ini. Dan buat Kak Pia selaku penulisnya, semoga suka ya dengan reviewku.

_______________________________________________________________________________
AUTHOR’S NOTES
Hanya mereview dari sudut pandang seorang pembaca. 
Karra ^^
Advertisements

Letter of Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s