Take Care….

TAKE CARE

TAKE CARE

Author : Karra

Kim Myungsoo [Infinite] and Krystal Jung [F(x)]

Ratting : PG 15

Pairing : Straight

Length : Oneshoot

Genre : Romance

Disclaimer : This story is mine! Don’t copy this story without my permission!

Summary : Take Care… aku yakin kau bisa menjalani hidup tanpaku….. 

Laki-laki berambut cepak dan berwarna cokelat kemerahan terlihat menopangkan kepalanya diatas meja berlandaskan sebelah tangannya. Kim Myungsoo. Gadis berambut panjang ikal berwarna cokelat tua dan memakai jepit rambut berbentuk bunga aster yang duduk di samping kiri Myungsoo terlihat tengah sibuk mencoret-coret buku tulisnya. Penuh konsentrasi.

“Soojung…. ayo kita pergi. Aku sudah bosan berada di sini,” bisik Myungsoo sambil mengetuk-ngetuk salah satu pulpen milik Soojung diatas meja. Gadis bernama Soojung tidak menjawab dan hanya melirik Myungsoo sekilas. Myungsoo gemas sekali dengan lirikan Soojung.

Laki-laki itu mendengus. Sedikit kesal karena lagi-lagi Soojung mengabaikannya dan lebih memilih berkutat dengan soal matematika yang tengah dikerjakan gadis itu. Myungsoo mengalihkan pulpen yang ada di tangannya dan mengetuk-ngetuk pulpen itu di pipi kanan Soojung.

“Myungsoo…” desis gadis itu karena merasa terusik. “Aku harus mengerjakan tugas ini dulu,” bisik Soojung. Saat ini mereka berdua tengah berada di perpustakaan sekolah. Tidak boleh berteriak disini. Itu sebabnya keduanya terus berbicara sambil berbisik.

Myungsoo menggembungkan kedua pipinya. Kedua matanya ia putarkan. Dia benar-benar bosan karena tidak tahu harus berbuat apa di perpustakaan. Dia tidak suka buku. Buku yang ia ambil tadi hanya diletakkan diatas meja tanpa ia baca sama sekali.

“Soojung….” rengek Myungsoo sambil menarik-narik ujung seragam Soojung. “Aku benar-benar bosan disini,” ujar Myungsoo sambil mengedip-ngedipkan kedua matanya saat Soojung meliriknya tajam.

“Ish! Kau menyebalkan sekali Myungsoo!” pekik Soojung dengan suara tertahan. Gadis itu membereskan alat tulisnya dan membuat senyum terkembang di wajah Myungsoo. Soojung menyusun buku-buku yang ia pinjam dan ia letakkan di tengah meja.

Myungsoo beranjak dari kursi diikuti Soojung. Tangan kanannya melingkar di bahu Soojung. “Kau gadisku yang sangat penurut.”

Soojung membulatkan kedua matanya. “Memangnya kau punya kekasih lain selain aku, huh?” tanya Soojung sambil memukul tangan Myungsoo hingga laki-laki itu menurunkan tangannya.

Myungsoo tergelak tanpa suara. “Aku bercanda. Aku kan hanya punya seorang kekasih. Kau.”

Kedua pipi Soojung terlihat merona saat Myungsoo mengucapkan kalimat itu. Rayuannya benar-benar membuat siapapun meleleh. Gadis itu memeluk alat tulisnya sambil berjalan keluar ruangan perpustakaan bersama Myungsoo.

“Kau tahu tidak saat kau marah, kau akan terlihat semakin cantik,” ujar Myungsoo sambil mengambil alat tulis milik Soojung dan membawa barang itu.

Soojung memukul pelan lengan Myungsoo. “Jadi selama aku tidak marah, aku akan terlihat jelek?” tanya Soojung gemas. Sebenarnya gadis itu tahu rayuan Myungsoo hanya saja ia senang membalas rayuan dari laki-laki disampingnya itu.

Myungsoo mengangguk mantap. “Tentu saja. Saat kau tersenyum kau akan terlihat jelek. Kau lebih cantik saat marah.”

Soojung menghentikan langkahnya dan menatap Myungsoo tajam. “Dimana-mana seorang gadis akan terlihat cantik saat tersenyum. Hanya kau saja yang bilang jika aku terlihat jelek saat tersenyum,” sewot Soojung.

Soojung melayangkan pukulan bertubi-tubi di punggung Myungsoo yang tegap. Myungsoo hampir kewalahan mengelak serangan Soojung. Namun laki-laki itu dengan sigap memegang kedua tangan Soojung dengan satu tangannya di tengah udara. “Karena aku tidak suka jika gadisku menjadi bahan pembicaraan laki-laki lain saat kau terlihat cantik,” ujar Myungsoo dengan tatapan tajam yang seakan menembus jantung Soojung hingga membuat degup jantung gadis itu berdetak cepat. “Cepat ubah raut wajahmu yang memerah seperti kepiting rebus ini. Kau terlihat semakin cantik jika merona seperti ini.” Myungsoo mengulum senyum sambil melepaskan kedua tangan Soojung.

“Myungsoo… semakin lama dekat denganmu, sepertinya aku akan mengidap penyakit jantung.” Soojung mendesiskan kalimat itu tanpa terdengar Myungsoo yang berjalan mendahului Soojung. Gadis itu menatap punggung Myungsoo yang berjalan menyusuri koridor dan bergerak semakin jauh.

***

Soojung mengemasi alat tulis yang berserakan di atas meja kecilnya. Satu persatu teman sekelasnya sudah meninggalkan kelas. Soojung merutuki dirinya sendiri karena menjadi satu-satunya siswa yang paling terlambat keluar kelas. Kebiasaan Soojung yang selalu mencatat dengan rapi dan memberikan bagian-bagian penting dari pelajaran dengan spidol warna membuatnya sering kewalahan membereskan perlengkapannya sendiri.

“Soojung!” Panggilan dari seorang gadis berambut lurus sebahu membuat Soojung menoleh. Suzy. “Aku melihat Myungsoo terburu-buru pulang menggunakan sepedanya. Apa dia tidak menunggumu seperti biasa?” tanya Suzy sambil duduk di bangku samping Soojung.

Myungsoo pulang lebih dulu? Tumben sekali tidak menungguku pulang. Soojung hanya mengendikkan bahu. Dia bingung harus menjawab apa pertanyaan Suzy tadi. Myungsoo memang tidak memberitahunya jika ia terburu-buru. Tapi ya sudahlah, pasti besok atau nanti Myungsoo akan menghubunginya.

“Suzy…” Suzy menoleh ke arah Soojung. “Bagaimana jika kita makan kue beras di kedai depan sekolah?” tanya Soojung yang membuat Suzy tersenyum lebar dan mengangguk. Soojung menjinjing tas sekolahnya sambil beranjak dari bangkunya diikuti Suzy.

***

Soojung berulang kali menatap layar ponselnya. Sudah seharian ini Myungsoo tidak menghubunginya. Bahkan saat pulang sekolah tadi, Myungsoo sama sekali tidak memberi kabar. Ada rasa cemas menyelimuti hati Soojung. Penasaran apa yang dilakukan Myungsoo hingga melupakannya seperti ini. Biasanya Myungsoo akan terus menghubunginya.

Kemesraan Myungsoo pada Soojung selalu membuat iri teman-teman satu sekolah. Suatu kali, Myungsoo menyuruh beberapa temannya untuk menerbangkan balon berwarna warni saat hari jadi mereka yang ke seratus dan Myungsoo membawakan sebuket bunga mawar putih pada Soojung. Gadis mana yang menolak jika diberi kejutan seperti itu?

“Kau sedang menunggu telepon?” tanya Nyonya Lee sambil duduk di samping Soojung yang duduk sambil melamun di depan TV.

Soojung menoleh dan hanya tersenyum tipis pada ibunya. “Myungsoo belum memberiku kabar.” Soojung terlihat putus asa. Gadis itu bahkan merebahkan tubuhnya diatas sofa dan bersandar di pangkuan sang ibu.

“Aku sudah memberitahumu untuk tidak menjalin hubungan dulu saat sekolah, bukan? Jika nilaimu hancur bagaimana?” tanya Nyonya Lee sambil mengusap-usap rambut Soojung yang lembut.

“Aku kan sudah berjanji pada Ibu dan Ayah. Nilaiku tidak akan turun. Aku bisa mengatur waktu untuk bersenang-senang dan belajar,” ujar Soojung sambil memainkan ponselnya.

Nyonya Lee mencolek hidung Soojung. “Ibu percaya padamu. Jadi sebaiknya jangan rusak kepercayaan kami padamu,” nasihat Nyonya Lee yang membuat Soojung mengangguk paham.

Soojung membentuk lingkaran dengan kedua jari tangan kanannya. “Tentu saja…”

Ponsel Soojung tiba-tiba berkedip. Soojung langsung beranjak dari pangkuan Nyonya Lee dan dengan cepat membuka pesan masuk di ponselnya. Nafasnya tercekat. Dari Myungsoo. Sedetik kemudian Soojung menghela nafas panjang sambil menundukkan kepalanya.

‘Jangan mencariku dan jangan menghubungiku sebelum aku yang datang sendiri menemuimu’. Kalimat singkat yang dikirimkan Myungsoo membuat Soojung merasa cemas. Kenapa? Ada apa? Kenapa Myungsoo melarangnya? Apa yang disembunyikan Myungsoo?

***

Sudah beberapa hari ini Soojung terlihat tidak semangat mengikuti pelajaran di sekolah. Gadis itu bahkan juga jarang tersenyum. Teman-teman tanpa bertanya pun sudah tahu jawabannya. Karena Myungsoo.

Myungsoo sama sekali tidak terlihat batang hidungnya semenjak meninggalkan Soojung beberapa hari yang lalu. Soojung tidak bisa berbuat banyak karena berkali-kali menelpon ponsel maupun rumah Myungsoo tidak mendapat jawaban. Bahkan saat Soojung nekat mendatangi rumah Myungsoo kemarin, rumah Myungsoo terlihat kosong. Tidak ada yang tahu kemana perginya Myungsoo.

Suzy mengulurkan sepotong roti yang masih dibungkus plastik bening. “Makanlah. Seharian kau belum makan.” Soojung hanya menggeleng pelan. “Oh, ayolah, Soojung! Ditinggal seorang kekasih bukan berarti hidupmu harus berakhir,” nasihat Suzy sambil menjejalkan roti di tangan Soojung.

Soojung meletakkan roti pemberian Suzy diatas meja. “Kira-kira kemana ya perginya Myungsoo?” tanya Soojung yang sama sekali tidak mendapat jawaban. Suzy hanya menatap sahabatnya dengan tatapan prihatin.

Soojung bahkan pernah beberapa kali datang ke sekolah dengan mengenakan seragam yang salah. Gadis itu sudah mulai lupa hari. Sudah lebih dari dua minggu Myungsoo tidak datang ke sekolah. Dan keberadaannya semakin misterius. Hingga suatu hari Soojung mendengar keberadaan Myungsoo dari teman sekelas laki-laki itu.

“Kudengar Myungsoo pindah sekolah di Kanada.”

“Bukannya sejak awal dia menolak pindah ke Kanada?”

“Pasti karena Soojung! Myungsoo sepertinya benar-benar jatuh cinta pada gadis itu.”

“Pasti Myungsoo akan menikah dengan Caroline gadis Kanada itu.”

“Kalau tidak untuk apa dia pergi kesana? Benar tidak?”

Percakapan ketiga orang yang teman dekat Myungsoo itu membuat Soojung terus berpikir. Myungsoo tidak pernah menyebut nama Caroline dan Kanada sama sekali. Jika berita itu benar apa yang harus dilakukan Soojung?

Gosip baik memang jarang terpublikasi. Berbeda dengan gosip miring yang kadang kebenarannya masih diragukan. Langsung menyebar begitu saja.

Berkali-kali Soojung harus membentak teman-teman yang usil bertanya padanya mengenai gosip Myungsoo akan bertunangan dengan gadis bernama Caroline. Belum lagi Soojung harus menghindari pertanyaan seputar Myungsoo yang menghamili Caroline hingga dipaksa harus bertanggung jawab.

Hanya Suzy yang terus mendukung Soojung. Gadis itu sama sekali tidak bertanya apapun mengenai Myungsoo. Justru Suzy yang terus mendengarkan keluh kesah Soojung. Kini persoalannya tidak hanya gosip yang mengatakan jika Myungsoo menjalin hubungan dengan Soojung karena ingin melindungi diri dari Caroline. Namun juga persoalan nilai Soojung yang meluncur drastis dari peringkat satu ke peringkat seratus di angkatannya.

“Soojung! Kalau kau seperti ini terus menerus, orang tuamu akan kecewa. Bukankah kau sudah berjanji pada mereka?” tanya Suzy saat melihat hasil laporan nilai Soojung yang sangat berantakan.

Soojung terlihat kusut. “Mereka tidak peduli padaku. Jika mereka peduli padaku mereka akan menemukan Myungsoo dan membuat nilaiku tinggi kembali,” racau Soojung.

Suzy langsung menampar gadis yang duduk di depannya itu hingga membuat Soojung memegang pipi kirinya karena merasa perih. “Kau bodoh! Benar-benar bodoh! Hanya karena seorang Kim Myungsoo kau bersikap seperti ini! Mengacuhkan orang-orang yang peduli padamu!” bentak Suzy yang membuat Soojung terisak.

“Aku membutuhkan Myungsoo. Tanpa Myungsoo aku tidak bisa hidup..” isak Soojung sambil menutup wajahnya.

Suzy memeluk sahabatnya yang benar-benar kacau itu. “Sebelum kau bertemu Myungsoo kau juga sudah hidup, Soojung. Kali ini kau pasti bisa melupakan Myungsoo. Aku percaya kau bisa melewati ini. Soojung yang kukenal tidak akan menyerah. Benar?” bisik Suzy sambil mengusap-usap punggung Soojung.

***

Take Care

Soojung membulatkan kedua matanya yang terasa berat. Sebuah pesan dari Myungsoo membuatnya sedikit kebingungan. Gadis itu langsung menghubungi Myungsoo tanpa memperdulikan ini masih jam tiga dini hari. Sudah sebulan lebih Myungsoo sama sekali tidak memberi kabar dan sekarang kejaiban itu muncul.

Deringan pertama sama tidak diangkat. Deringan kedua… ketiga… keempat… Soojung hampir saja putus asa hingga sebuah suara muncul di seberang sana.

“Myung….” kalimat Soojung terpotong.

Seseorang diseberang berdeham. “Soojung…” panggil seseorang dengan suara parau. Bahkan laki-laki diujung telepon sana sempat terbatuk.

Ada keraguan di hati Soojung. Berharap laki-laki dengan suara parau ini bukan Myungsoo. “Myungsoo…” mendadak suara Soojung bergetar. Ada rasa rindu yang meluap. Ingin menumpahkan rasa rindu pada laki-laki bernama Kim Myungsoo.

“Ya.. ini aku.”

Seperti dihantam sebuah gada besar. “Ada apa dengan suaramu? Kenapa terdengar asing?” tanya Soojung dengan kedua mata yang mulai berkaca-kaca. Rasa rindu itu membuncah.

“Apa kau sibuk sekarang?” tanya Myungsoo dengan suara terbatuk.

“Tidak.” Soojung menangis. Air matanya meleleh begitu saja tanpa bisa ia tahan. “Kau dimana? Kenapa kau menghilang? Apa kau baik-baik saja?” pertanyaan Soojung yang sederet itu hanya dibalas sebuah tawa kecil dari Myungsoo.

“Kau harus menjaga dirimu, Soojung. Kau harus semakin tanpa diriku. Kau mengerti?” nasihat Myungsoo membuat perasaan Soojung seakan-akan mencelos. Sebuah pikiran buruk melintas dikepalanya.

“Memangnya kau mau kemana?” tanya Soojung sambil mengusap kedua matanya dan berusaha menghentikan tangisnya.

Myungsoo seakan-akan tengah mengambil nafas panjang. “Aku akan terus berada disisimu, Soojung. Aku akan selalu melindungimu. Aku kan satu-satunya pahlawanmu,” ujar Myungsoo yang membuat Soojung mau tidak mau tersenyum mendengarnya.

“Myungsoo…. aku merindukanmu.” Soojung berusaha meredam tangisnya tapi yang ada dia semakin terisak.

“Jangan menangis, Soojung. Mendengarmu menangis membuatku ingin berlari menemuimu sekarang juga. Mendekapmu dan menenangkanmu,” ujar Myungsoo dengan suara paraunya. Bahkan ia sering terbatuk.

Soojung menghela nafas panjang. “Apa kau bisa menemuiku sekarang?” tanya Soojung dengan suara serak.

Myungsoo terdiam. “Aku tidak bisa. Dokter tidak mengijinkanku untuk keluar ruangan isolasi.”

Soojung terhenyak. “Apa maksudmu? Kau kenapa, Myungsoo? Jangan membuatku cemas!” seru Soojung panik.

Myungsoo terdiam. “Aku sakit, Soojung. Ah! Aku seharusnya tidak memberitahumu. Aku tidak mau terlihat lemah dimatamu. Tapi ketika aku menghilang aku selalu berfikir betapa aku seperti seorang pengecut. Menghindarimu.”

Soojung membekap mulutnya. Isak tangis kembali keluar dari bibirnya yang tipis. Myungsoo sakit? Separah apa penyakitnya hingga tidak memberi tahu kekasihnya sendiri?

“Ada virus di tubuhku. Aku sendiri tidak tahu apa nama medisnya. Hanya saja kesehatanku terus berkurang semenjak terkena virus itu,” Myungsoo menghentikan ucapannya dan menghela nafas panjang. “Kau harus baik-baik tanpa aku. Kau harus bisa berdiri sendiri tanpa aku. Kau harus jaga dirimu, Soojung. Aku akan selalu menjaga cinta kita selamanya. Take care…”

Soojung mematung. Sambungan telepon itu terputus. Myungsoo kembali menghilang. Air matanya kembali meluncur tanpa diperintah. Nafasnya tersengal. Kedua tangannya bahkan gemetar hingga tanpa sadar ponsel Soojung meluncur begitu saja ke lantai keras hingga hancur berkeping-keping.

***

Gadis berambut panjang sebahu itu hanya menatap Suzy dengan pandangan kosong. Tidak ada reaksi dari seluruf saraf Soojung saat mendengar kabar tentang Myungsoo. Hanya kedua matanya yang berekasi. Mengalirkan cairan bening tanpa diperintah.

Myungsoo meninggal. Ya. Pergi untuk selamanya. Ternyata dini hari tadi dia ingin mengucapkan salam perpisahan pada Soojung. Soojung menyadari tatapan teman-teman sekelas yang tertuju padanya penuh dengan sorotan iba.

“Suzy… katakan bahwa itu bohong! Katakan jika Myungsoo hanya membohongiku! Katakan jika Myungsoo ingin mengerjaiku!” ujar Soojung dengan terisak. Persetan dengan sikap teladannya. Ini menyangkut nyawa seseorang. Jangan pernah bermain-main dengan nyawa seseorang.

Suzy memeluk sahabatnya. Mencoba mentransfer kekuatan untuk sahabatnya. Walaupun Suzy tidak mengenal sosok Myungsoo tapi melihat kepedihan sahabatnya membuatnya ikut merasa kehilangan. Tidak ada lagi yang akan membuat Soojung berteriak kesal atau cemberut karena ulah Myungsoo. Dan Suzy sudah mengetahui apa yang akan terjadi pada Soojung tanpa Myungsoo. Seperti robot yang tidak memiliki nyawa.

***

Take Care.

Satu kalimat singkat yang diucapkan oleh Myungsoo selalu terngiang di benak Soojung. Bagaimana Soojung bisa hidup lebih baik tanpa Myungsoo? Bahkan selama beberapa tahun ini Soojung sangat sulit melepaskan bayang-bayang seorang Kim Myungsoo. Sifat jahilnya yang membuat Soojung berteriak. Rayuannya yang selalu membuat kedua pipi Soojung merona. Hanya satu yang Soojung banggakan. Nilai-nilainya selama dua tahun ini sudah meningkat drastis. Hingga akhirnya Soojung akan menjadi seorang mahasiswi.

Sudah dua tahun semenjak Myungsoo meninggal. Yang tersisa adalah kenangan indah. Bersama Myungsoo adalah kebahagiaan tersendiri untuk Soojung. Kenangan itu tidak akan pernah terhapus oleh waktu. Akan selalu tersimpan rapi di hati Soojung.

Soojung membalikkan badannya sambil mendekap beberapa map yang berisi data dirinya untuk memasuki jenjang pendidikan yang jauh lebih tinggi. Tanpa sengaja gadis itu menabrak seseorang yang membuat topi rajut orang itu terlepas.

“Ah.. maafkan aku. Aku benar-benar tidak sengaja.” Soojung berjongkok untuk memungut topi rajut berwarna pink, hijau dan kuning. Seperti lampu lalu lintas. Gadis itu mengulurkan topi rajut itu pada orang yang ditabraknya. Gerakannya terhenti melihat laki-laki itu. “Kim Myungsoo…” desis Soojung tanpa sadar. Laki-laki itu benar-benar memiliki wajah yang serupa dengan Myungsoo.

Laki-laki itu mengambil topi rajut miliknya dan memakainya. Ada raut tidak senang saat mendengar Soojung mengucapkan nama seseorang. “Aku bukan Kim Myungsoo. Aku L.”

Raut wajah Soojung berubah saat mendengar ucapan laki-laki itu. “Tentu saja kau bukan Myungsoo. Myungsooku sudah bahagia diatas sana.” Soojung menyunggingkan senyumannya untuk pertama kali setelah dua tahun berlalu. Gadis itu mengibaskan rambutnya dan berlalu dari laki-laki yang bernama L itu.

Tentu saja tidak ada Myungsoo yang terlahir kembali. Walaupun Myungsoo sudah tidak terlihat, dia selalu nyata di hatiku. Soojung tersenyum saat menapaki jalanan di Universitas.

“Ya! Soojung Jung! Kartu pendaftaranmu tertinggal!” seru laki-laki bernama L itu sambil berlari untuk berjalan di samping Soojung dan mengulurkan kartu pendaftaran milik Soojung. “Apa kau dan aku saling mengenal?” tanya L sambil terlihat berusaha mengingat sesuatu.

“Tentu saja tidak. Ini pertama kalinya kita bertemu.” Soojung mengibaskan tangan kanannya. “Jangan gunakan trik bodoh untuk menjerat seorang gadis sepertiku. Aku sudah sangat hafal dengan rayuan seperti itu.” Soojung tersenyum lebar. “Dan satu lagi L-ssi. Jangan mencintaiku.”

L terdiam mendengar penuturan Soojung. Kemudian laki-laki itu mengulum senyum. “Aku tidak akan menyukaimu, Soojung-ssi.”

~ THE END ~

Ini adalah shipper pertama yang aku suka karena aku sering baca couple ini di FF milik Happy.

Karena itu aku memutuskan untuk membuat sendiri MyungStal shipper ini sesuai dengan versiku.

Semoga karakter Myungsoo yang tengil tapi pedulian bisa aku bawa terus di ff yang lain. Begitu juga dengan karakter Krystal yang aku buat kalem tapi jika marah akan terlihat lucu. Semoga bisa kalian sukai.

Semoga kalian menyukai MyungStal couple versi saya ya… 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Take Care….

  1. dhamalashobita says:

    Kereeeeeen.. 😀
    Aku suka feelnya . Myungstal~ ><
    Tapi entah kenapa aku kok gak bisa ya ngebayangin Krystal kayak gini. Hahaha 😀
    tapi mudah ngebayangin karakter Myungsoo di sini. hehehe

    Sekuel juseyooo~ 😀
    Hehehe

    • Karra says:

      Ini sebenernya mau aq pake buat prolog FF baru. cuma nggak jadi. hahaha
      Krystal sengaja aku buat aneh disini…. #ditabok
      ini buat ff Myungstal karena terkontaminasi FF yang sering aq baca.
      Karakter Myungsoo sendiri disini juga aku buat karena salah satu temenq si Arum bilang kalo saat Myungsoo bilang dia ‘Myungsoo’ maka akan absurd. Kalo Myungsoo bilang ‘L’ itu berarti akan sok cool. makana aq buat begitu.
      Makasih saeng…. hahahaha
      sequel,,,, semoga ada ide buat Myungstal lagi. hahaha

Letter of Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s