[이야기] The Death Music | Adventure to Vienna

Title : The Death Music

Chapter : Adventure to Vienna

Author : Karra

Main Cast :

☃  Nam Jihyun [4Minute] as Jihyun

☃  Yoon Doo Joon [B2ST] as Doo Joon

☃  Ryu Sera [9Muses] as Sera

☃  Lee Jung Shin [CN Blue] as Jung Shin

☃  Park Chorong [A Pink] as Chorong

Genre : Thriller and Fantasy

Ratting : PG +17

Disclaimer : Semua Tokoh disini bukan ciptaan saya. Tapi ide cerita dan fanfiction ini milik saya. Karra 2012

Summary : Racun itu terjatuh. Aku hanya tidak ingin semuanya menjadi buruk. Dan aku yakin semuanya akan menjadi buruk saat menyadari bahwa tongkat sihirku tidak ada.

Warning : Jika tidak suka dengan cast, jangan membacanya. Jika sudah selesai membaca, harap tinggalkan komentar! Don’t Bashing!!!

Chapter One

Magic World

Ini bukan pertama kalinya aku melihat murid-murid Magic World melintasi sekolah dengan cara terbang menggunakan karpet, sapu bahkan tidak menggunakan alat bantu sekalipun. Tapi aku sama sekali tidak menghiraukan mereka yang sibuk kesana kemari memamerkan kemampuan sihir mereka.

Aku hanya melihat mereka sekilas dan kembali asyik mendengarkan musik klasik yang mengalun indah lewat ponselku yang kini beralih fungsi menjadi mp3 dadakan. Simphoni milih Beethoven yang berjudul Fur Elise membuatku mengikuti irama dengan mata terpejam sambil seolah-olah memainkan piano.

Aku memiliki piano di rumah. Bukan piano modern seperti yang orang-orang punya. Melainkan piano jadul yang mungkin hanya segelintir orang yang memilikinya. Kakekku yang seorang penyihir darah murni memilikinya dan di wariskan kepadaku.

Mau tahu berapa umur kakekku? Seratus delapan puluh tujuh tahun. Hampir dua abad dia hidup. Darahnya yang murni penyihir memang membuatnya dapat bertahan lama hidup di dunia. Hanya saja beliau menikah dengan orang biasa dan membuat ibuku memiliki separuh darah orang biasa dan separuh darah penyihir. Ayahku juga bukan seorang penyihir. Dia hanya tukang obat. Ahli racun lebih tepatnya. Karena dapat membuat racun itu membuat banyak orang di dunia sihir tidak berani berhadapan dengan ayahku.

Namun ternyata aku memiliki sedikit darah penyihir. Itu sebabnya ibu menyuruhku bersekolah di Magic World. Sekolah tempat penyihir dari seluruh dunia berkumpul disini. Bangunannya mirip bangunan tempo dulu. Kuno. Memiliki atap melengkung yang tinggi sekali. Seolah-olah antara lantai dengan langit-langitnya memiliki jarak satu kilometer. Sangat mustahil membersihkan langit-langitnya bagi manusia biasa. Dan aku yakin. Jika ayahku yang membersihkannya, perlu waktu lima hari. Berbeda dengan manusia berdarah penyihir. Yang langsung terbang dan sekali sentuhan saja sudah bersih langit-langit sekolahku.

Lonceng sekolah sudah di bunyikan. Aku melihat beberapa orang melintas diatasku dengan kecepatan tinggi. Peraturan disini memang ketat. Jika kau terlambat semenit saja kau akan mendapat hukuman dan berurusan dengan Yong Hwa.

Kepala murid yang bernama Yong Hwa itu aneh. Kau akan dimasukkan ke dalam ruangan yang dijaga oleh Yong Hwa dan kau harus menuruti perintahnya yang tidak masuk akal. Menangkap katak tanpa menggunakan kekuatan sihir, mendengarkan dia bercerita tentang masa mudanya yang penuh dengan kedisiplinan serta membantunya membersihkan perpustakaan dengan tangan kosong. Bagaimana bisa membersihkan perpustakaan yang luasnya dua ratus meter persegi dengan buku-buku kuno yang bertumpuk hingga hampir mencapai langit-langit gedung perpustakaan?

Aku segera mematikan ponselku dan memasukkan kedalam tas serempangku. Dengan langkah cepat aku segera berjalan menuju kelasku. Kelasku yang terletak di lantai lima membuat banyak murid kelasku menggunakan kekuataannya untuk segera sampai di kelas.

Kulihat jam tanganku yang bertengger manis di pergelangan tangan kiriku. Dua menit lagi dosenku datang. Tidak ada waktu lagi. Aku segera mengeluarkan tongkat sihirku yang kusembunyikan di balik seragam sekolahku.

Fly.” Kataku sambil menunjuk kakiku menggunakan tongkat sihir.

Badanku seolah-olah ringan. Dengan cepat aku menjejalkan kakiku ke tanah hingga aku dapat melambung tinggi menuju lantai lima. Kelasku. Dengan sekali lompatan tinggi aku dapat sampai di kelas dalam waktu satu menit.

Aku segera mencari tempat duduk di samping jendela. Tempat favoritku saat pelajaran ini. Pelajaran yang menurutku tidak masuk akal. Ketidaknormalan manusia. Pelajaran yang tidak mungkin ada di dunia manusia. Adikku saja yang bersekolah di dunia manusia mempelajari matematika, bahasa inggris dan lain-lain. Tidak sepertiku yang berlajar ketidaknormalan manusia dan menghafal mantra.

Aku menoleh ke pintu masuk kelasku. Pintu masuknya ada dua. Di depan dan di belakang. Seperti sekolah di Korea pada umumnya. Pintu di bagian depan ada Sera dan beberapa temannya yang membuat banyak gadis sepertiku langsung menunduk. Tidak berani macam-macam dengannya. Tapi aku juga melihat pintu di bagian belakang mendadak muncul Doo Joon yang diikuti beberapa temannya yang berwajah menyeramkan.

Sekilas aku melihat Doo Joon dan Sera saling adu pandang. Selalu seperti itu setiap bertemu. Tidak pernah akur. Aku belum memperkenalkan dua orang paling ditakuti disini. Doo Joon dan Sera. Doo Joon yang memiliki kekuatan sihir luar biasa membuatnya sombong dan angkuh. Dia tidak segan-segan melayangkan mantra pada orang-orang yang sudah menganggunya. Darah murni yang dimilikinya membuat murid-murid harus berpikir dua kali untuk mencelakai Doo Joon.

Begitu pula dengan Sera. Entah apa yang terjadi sebelumnya diantara keduanya. Keduanya selalu terlihat tidak bersahabat. Sera yang merupakan keturunan darah murni juga membuatnya merasa gadis paling beruntung. Dia dapat melakukan apapun dengan sihirnya. Membuatnya terus bersaing dengan Doo Joon.

Tapi salah satu sikap yang dimiliki Sera yang menurutku paling baik adalah sikap dia yang selalu membantu siapapun yang mengalami kesulitan dengan catatan kekuatan sihirnya tidak disalahgunakan. Sedangkan Doo Joon? Ketua genk pembuat masalah. Teman-teman Doo Joon selalu menghasut Doo Joon melakukan kekejaman.

Aku, Sera dan Doo Joon berasal dari negara yang sama. Korea. Ada dua orang lagi yang berasal dari negara yang sama. Jung Shin dan Chorong. Walaupun kami berlima berasal dari negara yang sama, tidak berarti kami ini teman.

Aku selalu menyendiri. Begitu pula dengan Jung Shin yang selalu menghabiskan waktu di laboratorium untuk penyelidikan mantra yang baru saja ditemukannya. Berbeda dengan Chorong yang selalu dipenuhi laki-laki yang berusaha mendekatinya. Hanya saja sifat Chorong yang ramah sering disalah artikan oleh murid laki-laki hingga banyak murid laki-laki yang mengaku kekasih Chorong. Dan itu sama sekali tidak di perdulikan oleh Chorong.

Berbeda pula dengan Doo Joon yang selalu membuat onar bersama teman-temannya. Sedangkan Sera? Gadis itu lebih senang berkumpul bersama temannya yang juga memiliki darah murni sepertinya.

Seisi kelas terdiam. Tidak ada celotehan lagi. Mereka hampir melompat kaget saat melihat cairan bewarna merah yang menggenang di depan kelas mulai menampakkan seseorang. Dosen yang bernama Helen. Wanita yang umurnya lebih dari seratus tahun itu mengetuk-ngetuk papan tulis dengan sihirnya dan membuat seisi kelas langsung memperhatikannya.

“Berhubung saya akan mati dalam dua bulan ini, saya minta tugas terakhir dari kalian.” Kata Bu Helen. Hebat bukan? Bahkan seorang penyihir senior dapat meramalkan kematiannya. Tidak heran sebenarnya jika penyihir senior dapat meramalkan kematian. Karena  tiga bulan sebelum kematian, kekuatan para penyihir akan hilang sama sekali dan akan menjadikan mereka seperti manusia biasa. Dan gejala yang dialami oleh Bu Helen itu sudah terjadi sejak sebulan yang lalu.

“Tugas apa?” tanya salah seorang murid yang duduk di barisan depan.

“Mengamati ketidaknormalan tingkah laku manusia.” Kata Bu Helen sambil menuliskan tempat-tempat yang akan di jadikan obyek penelitian.

Aku menatap papan tulis. Vienna? Kota yang menarik. Aku ingin melakukan penelitian disana! Harus…. aku mencintai musik klasik. Musik klasik berkembang di Austria. Menyenangkan sekali jika aku bisa kesana.

Bu Helen menatap seisi kelas. Wajahnya mulai memunculkan keriput. Benar-benar seperti seorang manusia normal yang berusia tujuh puluh tahun. Beliau berjalan ke depan kelas. “Kalian akan memilih satu tempat untuk tugas kalian. Kalian harus mengamati kegiatan yang dianggap tidak normal di dunia manusia. Dan kalian tidak diijinkan menggunakan sihir di depan banyak orang. Jika kalian melakukan kesalahan, maka kalian akan langsung lenyap dan akan kembali ke penjara sekolah ini sampai tugas ini selesai.” Kata Bu Helan.

Aku menelan ludahku. Tugasnya yang ku kira ringan ternyata berat. Astaga. Bisa-bisa aku dimasukkan kedalam penjara. Aku paling tidak bisa menahan kekuatanku. Semuanya terjadi begitu saja. Refleks.

Bu Helen berjalan menghampiri meja Chorong. Aku memiringkan kepala. Ingin tahu. “Kuharap kau mengambil Vienna.” Kata Bu Helen yang disambut anggukan kepala Chorong.

Dengan Chorong? Pasti banyak laki-laki yang ingin ke Vienna. Menemani Chorong. Jika terlalu banyak pasti tidak dapat konsentrasi.

“Masing-masing tempat diisi lima orang. Untuk lokasi Italia, silahkan angkat tangan kalian.” Kata Bu Helen yang membuat beberapa murid mengangkat tangan mereka masing-masing. Aku menghitung ada sepuluh orang yang berminat ke Roma. “Hanya lima orang saja.” Kata Bu Helen yang akhirnya membuat lima orang terpaksa mundur.

Bu Helen langsung mendata murid-murid yang memilih Roma. Begitu selesai mendata, beliau segera menatap seisi kelas kembali. “Vienna?” tanyanya ringan.

Aku segera mengangkat tangan kananku dengan semangat. Ya! Aku ingin pergi ke Vienna. Aku ingin melihat orkestra musik secara langsung. Selama ini aku hanya dapat melihat melalui komputer. Rasanya kurang puas.

Bu Helen seolah menghitung yang akan berangkat ke Vienna. Chorong sudah mengangkat tangannya dengan mantap. Itu berarti aku dan Chorong akan satu kelompok di Vienna.

Bu Helen mendata kami. “Yang berangkat ke Vienna adalah Jihyun, Chorong, Doo Joon, Jung Shin dan Sera.” Kata Bu Helen yang membuatku melotot kaget.

Ada apa ini? Kenapa aku bisa satu kelompok dengan dua penguasa sekolah? Aku melihat Sera dan Doo Joon yang saling melemparkan pandangan maut. Astaga…. jangan sampai tugas ini dikacaukan oleh mereka.

“Enak sekali mereka  berlima. Dari negara yang sama kini pergi bersama ke Vienna.” Celetuk salah seorang murid yang langsung terdiam karena lemparan pulpen dari Doo Joon.

Aku menengadah. Cukup aku dan Chorong saja yang pergi ke Vienna. Tidak perlu Doo Joon ikut. Ditambah Sera pula. Perjalanan kami akan selalu penuh rintangan nanti. Belum lagi sifat aneh yang dimiliki Jung Shin.

Aku memijat kepalaku pelan. Kenapa ini harus terjadi sih? Kenapa aku harus satu kelompok dengan mereka?

— Karra ©2012 —

Aku sibuk menyiapkan berbagai pakaian yang akan ku gunakan selama di Vienna. Tempat tidur di kamarku sungguh berantakan dengan pakaian yang berserakan di atasnya. Aku mendongak dan tersenyum dalam hati. Ternyata tidak hanya tempat tidurku yang berantakan empat kasur di samping kiriku juga berantakan. Lebih parah dari milikku.

Murid-murid yang belajar di Magic World tidak diijinkan tinggal di rumah sendiri kecuali pada saat hari besar. Bisa saja tinggal di apartemen di dekat sekolah. Tapi resikonya besar. Kita tidak bisa menggunakan sihir seenaknya di depan manusia normal. Sedangkan tinggal di asrama, sudah pasti terikat peraturan tapi menyenangkan. Tidak perlu takut mempergunakan sihir.

Dunia manusia normal menganggap sekolah Magic World merupakan sekolah reguler biasa yang banyak menerima murid-murid asing. Magic World yang terletak di daratan Amerika sebelah utara ini memang sedikit tersembunyi informasinya.

Aku mengambil tas ransel yang sengaja kuletakan di bawah tempat tidurku. Aku menyihir baju-bajuku yang akan ku kenakan dalam seminggu ke dalam ukuran terkecil. Lebih gampang membawa dengan tas ransel daripada membawa koper. Aku segera memasukkan baju-bajuku ke dalam tas. Obat-obatan juga penting di bawa. Aku segera mengambil kotak obat di atas meja belajarku dan segera memasukkan ke dalam tas. Tidak perlu di kecilkan. Jika membutuhkan obat dalam keadaan darurat akan sulit menggunakan sihir.

Walaupun aku ini seorang penyihir berdarah campuran, penyihir darah murni atau darah campuran tetap saja seorang manusia. Bisa terluka. Penyihir tidak dapat menyembuhkan dirinya sendiri. Itu sebabnya tidak ada penyihir yang mampu bertahan lama.

Baiklah… persiapan sudah selesai… aku siap berangkat ke Vienna bersama mereka berempat. Baiklah…. Doo Joon, Sera, Chorong dan Jung Shin. Tapi sebelumnya aku harus memberitahu pada ayah dulu.

Aku segera mengambil ponsel yang kuletakkan di samping tas ranselku. Kenapa ayah sulit dihubungi? Tidak seperti biasanya. Nada sibuk terus. Aneh.

Aku meletakkan ponselku di atas tas ransel. Ayah. Hubungi aku. Aku rindu.

— Karra ©2012 —

Aku bersisian dengan Chorong dan Sera. Doo Joon dan Jung Shin berada di belakang kami bertiga. Kami benar-benar terkejut dengan kendaraan yang akan kami naiki hingga ke Vienna. Aku tidak sanggup berkata apapun. Chorong juga terdiam dan hanya mampu memandang kendaraan di depan kami.

“Kendaraan apa ini?” tanya Sera heran dengan nada suara aneh.

Aku menatapnya. Mataku terpaku pada Jung Shin yang terkekeh geli. “Ini namanya kereta kencana. Kereta yang berasal di Indonesia.” Kata Jung Shin sambil mengelus kuda bersayap.

“Apa tidak akan terjadi apa-apa jika kita menaiki kendaraan ini sampai ke Vienna?” tanya Chorong ragu-ragu. Aku membenarkan kalimat Chorong. Kami ini juga manusia. Jika manusia biasa melihat kami apa yang akan terjadi nanti?

Ponselku tiba-tiba berdering membuat semua tatapan tajam langsung terarah padaku. Aku hanya mampu tersenyum kecil dan buru-buru mengambil ponselku. Ayah! “Ayah!” seruku riang. Sedetik kemudian aku langsung tersenyum pada empat pasang mata yang menatapku aneh.

“Putriku…. kenapa kemarin kau menelpon ayah? Kau rindu pada ayah?” tanya Ayah dengan nada riang. Selalu nada yang sama saat beliau menghubungiku.

Aku segera berjalan menjauh dari keempat orang yang berdiri di depanku. “Iya. Tiba-tiba saja aku merindukan ayah.” Kataku jujur. Entah feeling apa yang ada di diriku yang membuatku mendadak merasa rindu pada ayahku.

“Maafkan ayah. Kemarin ayah sedang menciptakan racun terbaru.” Kata Ayah yang membuatku nyengir.

“Ayah membuat racun lagi?” tanyaku pelan.

Di seberang sana, ayahku tertawa. “Putri ayah sepertinya tidak menyukai pekerjaan ayah.” Kata Ayah yang membuatku tersenyum pahit.

“Oh iya, aku sebentar lagi akan berangkat ke Vienna. Ada tugas kelompok disana, Yah. Sekalian ingin banyak mengenal musik klasik secara langsung.” Kataku sambil terkekeh.

Ayah tertawa. “Kalau begitu, ayah akan mengirimkan salah satu racun terbaik ayah untuk kau berjaga-jaga disana. Bagaimana?” tanya Ayah yang membuatku langsung menolak mentah-mentah.

“Jangan… Ayah jangan mengirimkan racun-racun padaku.” Kataku dengan nada pelan.

“Tapi setidaknya kau harus bisa berjaga-jaga. Salah satunya dengan racun itu.” Kata Ayah yang membuatku kembali menggeleng.

“Nam Jihyun! Kau mau berangkat tidak?” omel Doo Joon yang membuatku segera menoleh dan mengangguk.

“Ayah… aku harus segera berangkat. Nanti begitu sampai di Vienna, aku segera menghubungi ayah. Dah ayah…” kataku sambil menutup sambungan telepon sebelum ayah menjawab.

Aku segera berlari menaiki kereta kencana. Selama ada Doo Joon dan Sera pasti aku aman. Hehehe….  Ilmu mereka khan sudah di luar batas.

— Karra ©2012 —

Aku melongo melihat pemandangan laut dan daratan dari atas kereta kencana. Indah sekali. Dan sepertinya manusia biasa tidak dapat melihat para penyihir. Buktinya tidak ada yang menunjuk ke arah kami. Padahal tidak hanya kereta yang aku tumpangi. Banyak kereta lain yang juga berlalu lalang.

“Ji Hyun-ah…” panggil Chorong yang membuatku menoleh. “Apa kau menyukai Vienna?” tanya Chorong dengan senyuman khasnya.

Aku langsung mengangguk cepat. “Ya. Aku sangat menyukai Vienna.” Kataku senang. Akhirnya aku bisa dianggap juga dalam kelompok ini.

“Ji Hyun-ah!” panggil Jung Shin yang membuatku menoleh kepadanya. “Kudengar ayahmu seorang pembuat racun. Benarkah?” tanya Jung Shin sambil menatap bukunya. Menyebalkan. Dia ini sedang berbicara padaku atau berbicara dengan buku?

“Ayahmu pembuat racun? Racun apa?” tanya Sera antusias. Kedua matanya yang tajam langsung menatapku.

Sial! Kenapa mendadak mereka menyerangku seperti ini sih? Pikirku. “Iya. Ayahku pembuat racun. Ayahku membuat racun yang dapat langsung membunuh orang yang meminumnya.” Kataku sambil menundukkan kepala.

“Minum? Berarti racun ayahmu berbentuk cairan?” tanya Doo Joon.

Baiklah… sepertinya mereka sedang mempermainkanku. Mereka khan tahu aku ini anak aneh. Sering menyendiri. Dan kenapa mereka mendadak menjadi ramah padaku. Hal itu pasti tidak aneh seandainya Chorong yang mengajakku berbicara. Dia memang ramah pada siapapun. Tapi ini Sera, Doo Joon dan Jung Shin! Dua diantaranya merupakan orang paling berkuasa di sekolah. Satunya merupakan orang paling jenius yang mampu meramu bahan-bahan untuk mengobati seseorang.

Aku mengambil sesuatu dari dalam tas ranselku. Selain kotak obat yang kubawa, aku juga membawa kotak racun. Ironi bukan? Aku mengeluarkan beberapa botol yang berisi bubuk-bubuk halus. Orang-orang akan mengira ini bubuk gula halus. Tapi sesungguhnya ini adalah racun. “Ini merupakan racun paling mematikan yang ayahku buat. Aku di beri satu botol kecil untuk berjaga-jaga.” Kataku sambil menunjukkan botol kecil itu pada mereka.

Chorong langsung mengambilnya dari tanganku dan mengamatinya. Bergantian dengan Sera, Jung Shin dan Doo Joon. “Ayahmu membuat racun untuk apa?” tanya Jung Shin sambil menerawang isi botol kecil itu.

“Entahlah. Aku juga tidak tahu mengapa ayah membuat racun.” Kataku jujur.

Tiba-tiba semua kereta kencana yang berada di atas awan mengalami guncangan hebat. Aku langsung memegang erat kursi yang ku pakai. Aku langsung menatap takut pada Chorong, Sera dan Doo Joon. Aku melihat Jung Shin melongokkan kepala sambil berusaha menggapai sesuatu yang terjatuh di bawah sana.

“Apa kau menjatuhkan racunnya?” tanyaku panik.

Jung Shin menatapku sambil mengangguk pelan. “Maaf. Aku tidak sengaja.” Kata Jung Shin yang membuatku segera meletakkan tas ranselku di samping Chorong dan lompat keluar kereta kencana begitu saja.

Racun itu penting. Jika jatuh ke tangan manusia biasa akan menimbulkan banyak masalah. Aku merasakan angin yang segar menerpa wajahku. Aku melihat sebuah titik yang terus meluncur ke bumi. Itu racunku.

Aku meraba saku jas sekolah yang ku kenakan. Aku langsung menyadari sesuatu. Tongkatku ada di dalam tas ransel!!!! Tuhan!!! Aku tidak ingin mati…..

— To Be Continue —

Annyeong… saya akhirnya dapat mempublish FF saya ini.
FF Fantasy yang bercerita tentang dunia sihir, racun dan musik klasik.
Sudah lama saya menginginkan membuat fanfiction ini.
Hanya saja saya sering kesulitan dengan bahan referesi racun.
🙂 Oh Iya… part ini merupakan part awal yang masih berkisah seputar
perjalanan kelima orang menuju Vienna.
Menurut kalian bagaimana? Ada yang kurangkah?
Di part selanjutnya, saya akan membuat fanfiction ini dengan
sudut pandang tokoh orang yang lain.
Saya ingin membuat fanfiction dengan sudut pandang yang berbeda
di setiap partnya.
Karena jika saya masukkan sudut pandang yang berbeda di dalam
satu part yang sama, itu akan menyulitkan saya mendalami peran author.
Hahaha…
Ditunggu saran dan kritik kalian ya… Gamsahamnida…
Advertisements

26 thoughts on “[이야기] The Death Music | Adventure to Vienna

  1. Rii-ya Kim♡ says:

    aku kemaren udah baca ini tp maaf baru komen sekarang krn gatau knp komennya ga kerim terus -,-

    jarang2 ada cerita begini yg aku baca. aku suka harpot. sihir. dan ini adalah sekolah sihir. yang bikin keren tuh lokasi sekolah. mantra mereka. keajaiban mereka. meski sekarang belum sepenuh terekspos (?) krn masih part awal. lanjutkan unni :3 aku suka cerita fantasimu heheh

Letter of Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s