[이야기 ] Bukhan Story

Title : Bukhan Story
Author : Karra
Cast : Bang Chulyong MBLAQ as Chulyong
          Park Eun Bin as Eun Bin
Genre : Action, Romance and Mystery
Disclaimer : Park Eun Bin and Bang Chulyong are not my original character. They belong to themselves. But the story is mine. Don’t copy without my permission. ©Karra 2012.
Summary : Apa yang terjadi? Ini kutukan Eun Bin atau Gunung Bukhan yang memiliki kutukan? Kenapa hanya aku yang mengalaminya? Wisatawan lain tidak mengalami apapun.
Warning : Don’t like Cast don’t read…. Don’t forget for comment!!!
Jam dinding sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Jalan di sekitar Gunung Bukhan sudah mulai sepi. Tidak ada aktivitas warga yang terdengar. Semua sedang tidur. Kecuali seorang anak laki-laki yang berumur dua puluh tahun yang sedang menikmati jalan-jalan di sekitar gunung.
Laki-laki bernama Chulyong itu sesekali merentangkan tangan untuk mengusir hawa dingin. Enak sekali berjalan-jalan di sekitar gunung pada saat begini. Pikir Chulyong sambil menggosok-gosok telapak tangannya agar tetap hangat.
Gunung Bukhan merupakan gunung yang berada di sebelah utara kota metropolitan Seoul. Itu sebabnya di tempat ini banyak penginapan untuk tempat bernaung wisatawan.
Chulyong menajamkan pendengarannya saat mendengar suara seseorang. “Apa itu? Hantu atau manusia?” gumam Chulyong sambil mundur beberapa langkah dari jalan setapak yang menuju hutan di kaki gunung itu.
Walau sering berjalan-jalan dini hari, tak ayal membuat Chulyong merasa was-was saat mendengar suara derap langkah itu. Chulyong menarik nafas saat lampu di pinggir jalan berkedip-kedip membuat suasana menjadi tambah mencekam.
Cahaya lampu mengenai seorang gadis yang berlari dengan kaki telanjang dan dengan gaun yang penuh dengan goresan cairan serupa dengan darah. Chulyong langsung memekik sampai tubuhnya membentur kawat yang dijadikan pagar pembatas jalan dengan hutan dibelakangnya.
“Tolong aku.” Kata gadis itu sambil mengatur nafasnya. Gadis itu menatap Chulyong dengan pandangan memohon. Wajahnya terluka. Kaki dan tangannya juga terluka.
Chulyong masih menatap gadis itu dengan ketakutan. “Hantu atau manusia?” tanya Chulyong ragu-ragu. Dia perlu memastikan gadis cantik di depannya hantu atau manusia.
“Manusia.” Kata gadis itu sambil mengangkat kepalanya dan menatap Chulyong dengan pandangan ketakutan. “Ada yang berniat membunuhku.” Kata gadis itu sambil menujuk arah dibelakangnya. Jalan setapak yang gelap.
Chulyong menatap gadis yang terlihat ketakutan dan berantakan itu. “Baiklah. Kau masih kuat berlari?” tanya Chulyong pelan. Gadis itu menggeleng pelan. Kedua matanya terarah pada kakinya yang terluka.
Chulyong menatap kaki gadis itu. Laki-laki itu kemudian berjongkok di depan gadis itu. “Cepat naik. Kau harus menceritakan semuanya padaku!” kata Chulyong yang membuat gadis itu sedikit ragu-ragu. “Cepat! Kau tidak ingin dia menangkap kita bukan?” tanya Chulyong yang membuat gadis itu menghilangkan rasa ragu-ragu. Gadis itu segera naik ke punggung Chulyong dan mengaitkan kedua tangannya di leher Chulyong.
— Karra ©2012 —
Chulyong memberikan sepasang baju pada gadis bernama Eun Bin. “Kau mandilah dulu. Aku sudah menyiapkan air hangat.” Kata Chulyong sambil menunjuk kamar mandi di dekat pintu masuk kamar hotel.
Eun Bin mengangguk pelan sambil menerima baju dari Chulyong. “Gomawo.” Kata Eun Bin sambil masuk ke kamar mandi.
Chulyong menatap pintu kamar mandi yang sudah tertutup. Terdengar suara gemericik air. “Kenapa dia tidak mau ke kantor polisi? Bukankah dia bilang ada yang ingin membunuhnya?” gumam Chulyong bingung sambil menyesap kopi panas.
Pintu kamar mandi terbuka dan Eun Bin muncul dengan mengenakan kaos yang sedikit kebesaran dan celana jeans yang harus dipeganginya karena kebesaran. “Kau tidak memiliki baju dan celana yang lebih kecil?” tanya Eun Bin yang disambut gelengan kepala Chulyong.
Eun Bin duduk di pinggir tempat tidur. Chulyong menanti gadis itu memberikan penjelasan. Karena sejak tadi gadis itu terus menangis. “Kenapa kau tidak mau ke kantor polisi? Kantor polisi lebih aman daripada disini.” Kata Chulyong yang berusaha membujuk Eun Bin.
Wajah Eun Bin kembali menyiratkan ketakutan. “Jangan suruh aku ke kantor polisi, Chulyong-ah!” kata Eun Bin ketus sambil menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.
Chulyong menendang-nendang betis kiri Eun Bin yang membuat Eun Bin menurunkan selimutnya.  “Lukamu tidak mau kau obati?” tanya Chulyong sambil mengangkat kotak yang berisi peralatan kesehatan.
Eun Bin akhirnya kembali duduk sambil menatap Chulyong dengan pandangan terima kasih. “Kalau kau tidak menyelamatkanku, aku pasti akan mati di tangannya.” Kata Eun Bin pelan saat Chulyong mengolesi lukanya dengan salep pengilang rasa sakit dan bekas luka.
Chulyong menatap Eun Bin dengan heran. “Kenapa kau dikejar?” tanya Chulyong lirih.
Eun Bin menggeleng. “Mollayo… tiba-tiba aku disekap kemudian saat sadar aku hampir dibunuhnya.” Kata Eun Bin pelan sambil meringis kesakitan saat Chulyong sedikit menekan lukanya.
Chulyong meletakan kotak yang berisi obat-obatan itu di dekat TV. “Tidurlah. Aku akan akan berjaga diluar.” Kata Chulyong sambil melangkah menuju pintu.
“Chamkamaneyo!” pekik Eun Bin yang membuat langkah Chulyong terhenti. Chulyong menoleh dan menatap Eun Bin dengan pandangan bertanya. “Tidak bisakah kau disini?” tanya Eun Bin.
Chulyong tertawa. “Kau tidak takut denganku?” tanya Chulyong sambil berbalik menatap Eun Bin.
Eun Bin menggeleng. “Kau pasti orang baik. Kau sudah menyelamatkanku.” Kata Eun Bin yang membuat Chulyong memiringkan kepalanya sedikit ke kiri.
“Aku juga seorang laki-laki normal. Kalo aku disini, kau pasti tidak bisa istirahat dan harus bersiaga padaku.” Kata Chulyong sambil membuka pintu kamar.
“Kau tidak bisa meninggalkanku sendirian!” pekik Eun Bin sambil menangis yang membuat Chulyong harus membatalkan keputusannya untuk tidur diluar. “Kau lihat jendela itu, dia bisa saja masuk dari sana!” tunjuk Eun Bin ke jendela kamar.
Chulyong memperhatikan jendela itu. Benar juga. Kalau orang yang mau membunuh Eun Bin lewat jendela, kasus akan semakin runyam. “Choa! Aku akan tidur di kursi.” Kata Chulyong sambil duduk di kursi di dekat jendela.
Eun Bin tersenyum. “Gomawo.” Ujarnya dengan tulus.
— Karra ©2012 —
Chulyong menggaruk-garuk kepala belakangnya dengan gemas. Sudah sejam dia dan Eun Bin mengitari pasar untuk mencari baju. Chulyong tidak suka berada di tempat ramai. Apalagi ini pasar. Pakaian yang dikenakan Eun Bin sangat mencolok. Dia memakai gaun pesta. Tidak mungkin dia keluar ke pasar menggunakan baju Chulyong yang kebesaran.
“Chulyong…” panggil Eun Bin yang membuat Chulyong menoleh. “Bagaimana menurutmu?” tanya Eun Bin sambil menunjukkan sebuah kaos dan celana panjang berwarna biru muda.
“Terserah kau.” Kata Chulyong cuek sambil menekuk sikunya di belakang kepala. Tatapan Chulyong tidak sengaja terarah pada seorang polisi yang tengah berjaga di pasar dan kebetulan sedang memperhatikannya.
Chulyong berniat menghampiri polisi itu. Tapi baru lima langkah dia berjalan, polisi itu buru-buru pergi. “Aneh!” kata Chulyong pelan sambil memiringkan kepalanya.
“Chulyong!” panggil Eun Bin lagi yang membuat Chulyong menoleh dengan ogah-ogahan. “Berikan aku uang untuk membeli pakaian ini.” Katanya sambil menengadahkan tangan.
Chulyong berdecak kesal sambil mengeluarkan dompet dari saku celananya.
DOOORR!!!
Semua orang berhamburan. Semuanya menjerit histeris. Chulyong menatap Eun Bin yang rubuh di atas tanah dengan bekas tembakan di bahu kiri. Chulyong langsung berjongkok menyangga tubuh Eun Bin.
“Eun Bin-ah… Gwaenchana?” tanya Chulyong panik sambil menghubungi rumah sakit.
Eun Bin memejamkan kedua matanya. Terlihat wajahnya menahan sakit. “Jangan lapor pada polisi bernama Han Soo.” Kata Eun Bin lirih sambil menatap Chulyong dengan pandangan memohon.
Chulyong kebingungan. Apa yang sebenarnya terjadi?
— Karra ©2012 —
Ada tiga orang polisi yang datang kerumah sakit. Eun Bin tengah mendapatkan pertolongan di Unit Gawat Darurat. Tidak ada sanak keluarga yang mendatangi Eun Bin.
“Apa kau yang menolong Park Eun Bin?” tanya seorang polisi wanita yang dari tagline-nya bernama So Hyun.
Chulyong mengangguk pelan. Dia belum pernah berurusan dengan polisi. Jadi wajar saja dia ada sedikit rasa khawatir.
“Dimana kau bertemu dengan Eun Bin?” tanya polisi laki-laki bernama Go Jin.
“Di jalan setapak di gunung Bukhan. Saat itu dia meminta tolong padaku karena ada yang akan membunuhnya.” Jelas Chulyong pelan.
Ketiga polisi itu terlihat berembug. Polisi wanita itu menghampiri Chulyong dan duduk di samping Chulyong. “Park Eun Bin kabur dari rumah. Dan kami kehilangan jejak Eun Bin.” Kata So Hyun pelan.
“Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa dia ketakutan?” tanya Chulyong penasaran. Dia yang merawat Eun Bin hingga akhirnya masuk rumah sakit gara-gara ditembak oleh seseorang yang misterius.
“Kami tidak tahu apa yang terjadi. Kami sedang melakukan penyelidikan.” Kata Go Jin sambil bersandar di tembok. Wajahnya terlihat letih.
Seorang laki-laki menghampiri Go Jin, So Hyun dan polisi satu lagi yang bernama Shin. Laki-laki itu membawa plastik bening berisi peluru. Laki-laki itu memberi hormat kepada tiga polisi itu. “Lapor, peluru ditemukan di tempat kejadian.” Kata laki-laki itu dengan sikap hormat.
So Hyun menerima bungkusan plastik itu. Wanita itu mengamati dengan cermat peluru itu. “Bukankah ini peluru milik kepolisian?” tanya So Hyun sambil memberikan plastik itu pada Go Jin dan Shin untuk diperiksa.
Chulyong teringat sesuatu. “Yeogi…” kata Chulyong yang membuat empat orang polisi itu menatapnya. “Polisi Han Soo itu siapa?” tanya Chulyong ragu-ragu.
Go Jin dan So Hyun saling pandang. “Bagaimana kau bisa tahu Han Soo?” tanya Shin heran.
Chulyong menunjuk pintu ruang gawat darurat. “Eun Bin yang memberitahuku agar tidak melapor pada polisi Han Soo.” Kata Chulyong sedikit bingung. Apa yang terjadi?
So Hyun mengambil ponselnya dari saku dan menelpon seseorang. “Kirim penjagaan di rumah sakit tempat Eun Bin dirawat! Sekarang!” perintahnya yang langsung menutup telepon.
“Ada apa?” tanya Chulyong penasaran.
“Untuk sementara kau terus berjaga di samping Eun Bin. Kami mengandalkanmu!” kata Go Jin sambil menepuk bahu Chulyong.
— Karra ©2012 —
Chulyong menatap Eun Bin yang kini sudah membuka mata. Eun Bin sedang disuapi oleh So Hyun. Di dalam kamar hanya boleh dimasuki Chulyong, Sho Hyun, Go Jin dan Shin. Polisi lain juga tidak boleh masuk.
“Siapa Han Soo?” tanya Chulyong yang membuat Eun Bin menghentikan aktivitas makannya dan menatap So Hyun dengan ketakutan.
“Gwaenchana Eun Bin-ah. Ceritakan pada kami apa yang terjadi.” Kata So Hyun lembut sambil meletakan mangkok berisi bubur diatas meja disamping tempat tidur Eun Bin.
“Dia… dia….” gumam Eun Bin takut. Wajahnya menatap Chulyong. “Dia berniat membunuhku.” Kata Eun Bin pelan. Eun Bin menangis. So Hyun harus menenangkan gadis itu.
Go Jin mengeluarkan ponsel dari saku kemeja seragam polisinya. “Cepat keluarkan perintah penangkapan Han Soo!” katanya begitu sambungan telepone diangkat.
DOOR!!
Eun Bin refleks melepaskan So Hyun. So Hyun dan Go Jin langsung bersiaga. Shin mengeluarkan pistolnya untuk berjaga-jaga. Chulyong langsung menghampiri Eun Bin dan memeluknya.
DOOR!!
Suara tembakan kembali terdengar. Ini rumah sakit. Bagaimana bisa ada penembakan di rumah sakit?
Pintu kamar Eun Bin terhempas. Seorang laki-laki berpakaian polisi dan menunjuk Eun Bin menggunakan pistol membuat Eun Bin memeluk Chulyong dengan erat. Sirat ketakutan jelas terlihat diwajah keduanya.
“Kau tidak boleh main-main dengan ahjussi, aggashi.” Kata polisi itu sambil tersenyum. Tidak gentar sedikitpun walau ada tiga pucuk pistol terarah padanya. “Kalau kau sampai rusak, bagaimana dengan masa depan negara ini?” kata polisi itu sambil terus mengarahkan pistol pada Eun Bin.
Chulyong menatap Eun Bin kebingungan. “Kalau kau melangkah lagi aku tidak segan-segan menembakmu.” Kata So Hyun sambil memberi isyarat pada Go Jin dan Shin untuk meringkus Han Soo.
Han Soo tertawa. “Aggashi… lebih baik kau mati saja daripada kau harus bergaul dengan ahjussi.” Saran polisi bernama Han Soo itu. Go Jin dan Shin segera meringkus Han Soo. Go Jin langsung menarik leher Han Soo sehingga pistol yang ada di tangannya terlepas dan Shin segera memborgol polisi itu.
So Hyun menurunkan senjatanya saat Han Soo sudah teringkus. “Bawa dia ke kantor untuk diselidiki.” Kata So Hyun yang mendapat anggukan dari Shin dan Go Jin.
Go Jin dan Shin segera membawa Han Soo pergi dari kamar perawatan Eun Bin. So Hyun menatap dua rekannya yang sudah meninggal di depan kamar Eun Bin. Dia memberikan penghormatan terakhir. Beberapa dokter dan perawat segera membawa kedua polisi yang tewas tertembak itu ke unit gawat darurat.
“Itu Han Soo?” tanya Chulyong ragu-ragu.
So Hyun menatap Chulyong dan mengangguk. “Dia sudah tiga bulan ini dipecat. Karena dia telah membunuh orang. Tapi kami kehilangan jejaknya. Sehingga kami tidak menangkapnya. Dan dia memang psycho. Membunuh gadis-gadis muda yang disinyalir menjadi teman kencan ahjussi-ahjussi.” Kata So Hyun pelan sambil menatap Eun Bin. “Apa kau bersama ahjussi?” tanya So Hyun pelan.
Eun Bin menggeleng. “Aniya… aku bersama dengan Appa. Dia baru kembali dari Tokyo. Aku tidak kabur dari rumah. Aku memang pergi jalan-jalan tapi Han Soo mengurungku di sebuah rumah bersama puluhan gadis lain.” Kata Eun Bin terisak hingga Chulyong harus menenangkannya.
“Dikurung?” tanya So Hyun heran.
Eun Bin mengangguk. “Rumah kosong di daerah Gunung Bukhan. Bahkan sudah ada lima orang yang dibunuh. Saat aku mau membunuh, ada seorang gadis yang melawan Han Soo sehingga aku dan beberapa orang lainnya bisa melarikan diri.” Kata Eun Bin sambil terus memegang tangan Chulyong yang memeluknya.
So Hyun mengangguk-angguk. “Kau sudah aman. Han Soo tidak akan mungkin kabur.” Kata So Hyun sambil tersenyum. “Pulihkan kesehatanmu sehingga kau bisa memberi keterangan pada kami.” Kata So Hyun sambil tersenyum. “Aku pergi dulu.” Kata So Hyun sambil beranjak keluar ruangan Eun Bin.
“Tunggu…” panggil Chulyong yang membuat So Hyun membalikkan badan. “Han Soo polisi yang berada di pasar saat Eun Bin dan aku berada disana.” Kata Chulyong yang membuat So Hyun mengangguk.
“Aku menunggu kedatangan kalian berdua dikantor polisi.” Kata So Hyun.
Chulyong menatap Eun Bin. “Kau sudah aman.” Kata Chulyong pelan yang disambut tangisan Eun Bin.
— Karra ©2012 —
Chulyong berjalan keluar dari ruang pemeriksaan kantor polisi daerah Kang Nam. Sudah dua minggu ini dia tidak bertemu dengan Eun Bin. Bahkan keadaannya bagaimana Chulyong juga tidak tahu. Chulyong harus bolak balik ke kantor polisi.
Chulyong menghentikan langkah saat dilihat Eun Bin berjalan bersama seorang polisi menuju ruang pemeriksaan. Eun Bin juga menghentikan langkahnya dan menatap Chulyong. “Kau tunggu aku memberi kesaksian. Ada sesuatu yang akan kubicarakan padamu.” Kata Eun Bin sambil tersenyum manis.
Chulyong balas tersenyum kemudian mengangguk. Eun Bin segara memasuki ruang pemeriksaan. Chulyong berjalan keluar kantor polisi dan duduk di bangku taman.
Senyumnya sangat indah. Wajahnya yang tanpa luka juga membuatnya terlihat semakin cantik. Pikir Chulyong sambil tersenyum. Angin sepoi-sepoi dan matahari yang hangat membuat Chulyong harus memejamkan kedua mata agar tidak silau.
Seseorang manghalangi pancaran sinar matahari yang membuat Chulyong membuka kedua matanya. Sedikit terkejut saat didapati Eun Bin berada diatas wajahnya. Eun Bin tersenyum. “Apa yang kau lakukan?” tanya Eun Bin sambil duduk di samping Chulyong.
Chulyong menegakkan punggungnya. “Kau sudah selesai diperiksa?” tanya Chulyong heran. Cepat sekali.
Eun Bin mengangguk. “Aku menjelaskan secara rinci kejadian sebenarnya dengan cepat. Polisi itu mengerti sehingga aku bisa cepat selesai.” Katanya sambil tersenyum.
“Apa yang mau kau bicarakan?” tanya Chulyong penasaran.
Eun Bin tersenyum manis. “Aku harus ke Tokyo.” Katanya dengan riang tidak mlihat raut wajah Chulyong yang berubah. “Appa menyuruhku pindah kesana agar aku tidak trauma. Padahal aku tidak trauma sama sekali.” Kata Eun Bin.
“Tokyo?” tanya Chulyong tidak percaya.
Eun Bing mengangguk. “Aku mau mengucapkan terima kasih padamu. Kau sudah membantuku cukup banyak.” Kata Eun Bin sambil tersenyum.
Chulyong menatap Eun Bin dengan pandangan tidak suka. “Kau hanya mau pamit padaku dan mengucapkan terima kasih? Bukankah seharusnya memang manusia itu tolong menolong?” tanya Chulyong ketus.
Eun Bin yang mendengar perbedaan nada di kalimat Chulyong menoleh. “Kau kenapa?” tanya Eun Bin heran.
Chulyong beranjak dari bangku taman. “Kau membuatku cemas. Dan setelah kau baik-baik saja, kau akan meninggalkanku?” tanya Chulyong dengan nada tinggi. Tidak peduli dengan polisi yang tersenyum melihatnya.
Eun Bin kebingungan dengan tingkah Chulyong berusaha untuk meredam kemarahan Chulyong. “Kau ini kenapa?” tanya Eun Bin heran sambil menarik tangan Chulyong.
Chulyong menepis tangan tangan Eun Bin. “Kau tidak tahu jika aku menyukaimu? Pabo!” omelnya sambil pergi meninggalkan Eun Bin.
Eun Bin menghela nafas. Dengan langkah seperti berlari, Eun Bin memeluk Chulyong dari belakang. “Saranghae.” Kata Eun Bin pelan sambil tersenyum.
“Percuma kau mengucapkan kata itu. Kau akan pergi meninggalkanku selamanya.” Kata Chulyong masih ketus.
Eun Bin kebingungan. “Hah? Apa maksudmu meninggalkanmu selamanya?” tanya Eun Bin heran.
Chulyong membalikkan badannya. “Bukankah kau mau ke Tokyo?” tanya Chulyong pelan.
Eun Bin mengangguk. “Hanya dua minggu. Tidak selamanya.” Kata Eun Bin yang membuat Chulyong melongo.
“Dua minggu?” tanya Chulyong tidak yakin. Wajahnya memerah. “Kau tidak memberitahuku!” omel Chulyong sambil merangkul bahu Eun Bin.
Eun Bin mencibir. “Makanya jangan cepat marah. Pabo!” kata Eun Bin sambil tersenyum.
Chulyong hanya mampu meringis sambil mencium puncak kepala Eun Bin.
— Karra ©2012 —
“Seorang mantan anggota polisi berinisial HS ditangkap atas kasus pembunuhan dan penganiyayaan beberapa gadis muda. Polisi Kang Nam menemukan barang bukti pistol dan menemukan sebuah rumah yang dijadikan tempat mantan polisi HS untuk melakukan kejahatan. Bahkan di dalam rumah kosong itu ditemukan beberapa mayat yang sudah mulai membusuk.”
“Ditangkapnya HS di bantu oleh keterangan salah seorang korban yang melapor pada polisi diperkuat dengan keterangan dari saksi yang saat itu berada di tempat kejadian. Karena banyak yang melaporkan kejahatan HS, pihak kepolisian memberi hukuman seumur hidup mendekam di dalam tahanan.”
“Motif yang digunakan HS adalah menyamar sebagai anggota kepolisian sehingga membuat korban dapat percaya. Padahal HS sudah dipecat beberapa bulan lalu karena kasus pembunuhan serupa.”
Chulyong mematikan TV. Setidaknya ini semua dapat berakhir. Pikirnya. Laki-laki itu tersenyum.
“Chulyong!! Ayo kita kabur dari sini!” pekik Eun Bin yang tergopoh-gopoh memasuki kamarnya.
Hah? “Kenapa? Bukankah besok kita akan naik gunung?” tanya Chulyong sambil menunjuk gunung Bukhan.
Eun Bin mengatur nafas. “Cepat pergi dari sini! Aku dikejar pembunuh lagi!” pekik Eun Bin yang membuat mata Chulyong membulat sempurna.
LAGI???!!! Sepertinya Eun Bin terkena kutukan. Atau Gunung Bukhan yang terkena kutukan? Pikir Chulyong sambil berlari bersama Eun Bin menuju kepolisian Kang Nam.
-THE D-

Karena ini aku lagi buntu ide… aku nulis FF Romance gaje… suer… setelah lama ga bikin FF Romance jatohnya jadi aneh.. harap maklum yaaaaaaa.

Oh Iya…. aq mau ngenalin salah satu Cast…. Park Eun Bin….

Dia ini adeknya Go Hye Mi versi gede…. terus dia juga maen di Death Bell bareng Jiyeon ama Yoon Shi Yoon. aku seneng ama aktingnya… XD….

Advertisements

20 thoughts on “[이야기 ] Bukhan Story

  1. Rii-ya Kim♡ says:

    Annyeong eonni 😀

    Maaf baru ngoment, smalem ketiduran. Kk~
    Kirain ceritanya misteri gitu eon, padahal udh merinding duluan pas baca awalnya, eh taunya krn ajussi-ajussi pshyco –“
    tapi bagus ko eon, jadi ga gampang ditebak *apa akunya aja yg lola (?). wkwkk

    tapi bayangin mir-nya pas ending kayana kalo liat aslinya lucu deh eon XD

    • Karra says:

      gamsa saeng udah mau komen.. hehehehe
      ga papa saeng…. santai aja ama aku ini… asalkan ga jadi sider itu udah cukup. hehehe

      iya.. aku juga pengenna jadi misteri gitu. cuma ga jadi gara2 mau nambahin sedikit romance karena aku juga udah lama ga bikin ff romance… kekekeke

      hehehe…. kalo liat aslinya begitu pasti bikin ngakak…. makana aq sengaja pake nama asli dia jadi kesan cool dia dapet gitu… kekekeke

  2. happyli1004 says:

    maap baru baca eon m(_ _)m
    waaahhh! thriller kkk~
    suka nih sama yang beginian,
    apalagi karakter si mireu cool gitu
    aku juga lagi bikin karakter mireu cool di bloody december hahaha XD
    padahal beda yah sama aslinya,
    oh ya itu kayanya kutukan sama si eunbi bukan gunung bukhannya haha soalnya kan si pembunuhnya udah ketangkap
    muka eunbi mungkin jadi favorit para pembunuh ._.
    nice ff eon, kalo thriller mah ga usah mikirin romancenya biarin aja haha

    eunbi di deathbell? yg mana? aku ga ingat –”
    udah lama soalnya

    • Karra says:

      Eun Bin entu yang jahat saeng… di deathbell 2… kekeke…
      yang bikin rencana buat nyelakain kakak tiri Jiyeon ntu…..

      nah khan… aq juga bingung ini masukin ke apa… kkekekeke
      mau romance ini ga romance. thriller ini ga thriller2 banget.. TT.TT

      He-eh.. aslinya beda banget…. apa ini pengaruh nama asli dia gitu… kalo pake nama asli jatohnya dia jadi cool.. #duagghh

      ga papa saeng.. santai saja.. kekeke

Letter of Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s