[단편] Zhu ni sheng ri kuai le, Wu Chun

Title : Zhu ni sheng ri kuai le, Wu Chun

Author : Karra

Cast :

  • Wu Chun
  • You as Xiao Wei Ni

Ratting : T

Length : Oneshot

Genre : Drama, General and  Family

Disclaimer : Wu Chun is not my original character. Xiao Wei Ni is my original character. This story is my mine. ©Karra 2011 All rights reserved. Distribution of any kind is prohibited without the written consent of Karra.

Summary : Aku merindukan saat-saat kita bersama.

♫♫♫

Zhu ni sheng ri kuai le…. Zhu ni sheng ri kuai le…. Zhu ni yong yuan kuai le…. Zhu ni sheng ri kuai le….

Nyanyian itu membuat seorang laki-laki menundukkan kepalanya. Di dalam kepalanya berisi ingatan tentang hari ulang tahunnya dulu. Penuh dengan kebahagiaan. Penuh dengan suka cita. Tapi sekarang?

Kedua matanya memerah. Laki-laki itu tidak sanggup mengingat masa lalunya. Ditatapnya orang-orang yang sudah dianggap seperti saudaranya. “Xie xie.” Ujarnya tulus.

Orang-orang yang memberi ucapan selamat ulang tahun pada Wu Chun –laki-laki tadi- langsung menyiram Wu Chun dengan berbagai tepung. Wu Chun yang sudah menyiapkan mental langsung pasrah saat tepung itu disiram dengan air. Otomatis membuat tubuhnya basah kuyup.

Tepung bercampur dengan air membuat lengket. Tubuh Wu Chun juga lengket. Dengan wajah pasrah, laki-laki itu memaksakan senyumnya. Dia sedang tidak ingin bercanda. Tapi perlakuan teman-temannya membuat Wu Chun akhirnya merelakan dirinya menjadi obyek lelucon.

Tatapan Wu Chun tidak sengaja terarah pada seorang gadis yang berdiri cukup jauh dari tempatnya duduk. Tatapan gadis itu menyorotkan kesedihan. Entah siapa gadis itu, Wu Chun tidak terlalu mengenalnya. Tapi yang Wu Chun tahu. Dia salah seorang anggota crew dari film yang sedang dibuatnya.

Sorak sorai terdengar di sekeliling Wu Chun. Semuanya sibuk memberi kado pada Wu Chun sampai laki-laki itu kerepotan sendiri. Dia hanya ingin ijin satu hari ini. Ingin menikmati ulang tahun sendiri. Tanpa siapapun. Tapi pekerjaannya tidak mengijinkan dia mengambil ijin. Jadi dia terpaksa melewati hari ulang tahunnya di tempat syutting.

Ponsel Wu Chun berdering. Sang manager dengan setia menemani Wu Chun sepanjang hari, memberikan ponsel Wu Chun. Wu Chun menatap layar ponselnya. Bukan dari ayahnya atau saudaranya. Tidak ada panggilan dari mereka.

Wu Chun mengangkat panggilan yang berasal dari teman-teman Fahrenheit. Calvin. “Ni hao.” Sapa Wu Chun.

Zhu ni sheng ri kuai le…. Zhu ni sheng ri kuai le…. Zhu ni yong yuan kuai le…. Zhu ni sheng ri kuai le….” Nyanyian itu kembali terdengar yang membuat Wu Chun mencelos.

Dia rindu saat-saat bersama dengan Calvin, Da Dong dan Ya Lun. Tapi pekerjaannya membuat dia harus pergi meninggalkan Fahrenheit. Meninggalkan pekerjaan yang sangat dicintainya. Meninggalkan dunia musik untuk fokus ke dunia akting.

“Chun…” Panggil Jiro yang membuat Wu Chun tersadar.

Xie-xie….” Kata Wu Chun tulus.

Du bui xi. Kami belum sempat menemuimu. Kau pasti sangat sibuk.” Kata Ya Lun.

Wu Chun tersenyum. Pasti ini ulah Calvin. Sengaja loudspeaker agar semuanya bisa berbicara.

“Tidak apa-apa. Aku juga tahu pekerjaan kalian. Kalian juga sama sibuknya.” Kata Wu Chun. Perhatian ketiga sahabatnya itu mampu membuat luka itu sedikit terobati. Sedikit.

“Kami pasti akan menemuimu. Pasti.” Kata Calvin yang disambut tawa Da Dong dan Ya Lun.

Wu Chun mencibir. “Kalian ini sepertinya dekat sekali denganku sampai bisa memastikan akan menemuiku.” Kata Wu Chun.

“Surprise!!!” teriak tiga orang bersama-sama yang membuat Wu Chun melompat kaget dan membalikkan badannya.

Tangan Wu Chun masih memegang ponsel di telinga kirinya. Tapi seruan tadi membuat Wu Chun tersadar.

“Kalian mengerjaiku?” tanya Wu Chun dengan sikap pura-pura kesal.

Da Dong dan Ya Lun tertawa. Calvin memberikan sebuah bingkisan besar pada Wu Chun. “Ambil. Ini kado dari kami bertiga.” Kata Calvin yang disambut oleh Wu Chun dan diberikan pada managernya.

“Kau tidak ingin membukanya?” tanya Ya Lun heran.

Wu Chun menggeleng. “Tidak sekarang. Nanti kalau sudah dirumah.” Kata Wu Chun santai.

“Tapi….” Kalimat Ya Lun terpotong saat melihat tatapan Da Dong dan Calvin. “Ya sudah.” Katanya sambil duduk di samping seorang crew.

Wu Chun masih tidak percaya ketiga sahabat yang sudah seperti saudara kandung memberikan kejutan di tempat syuting. Tidak menyangka mereka akan datang dengan tiba-tiba.

“Ku dengar Xiao Wei Ni hari ini juga ulang tahun.” Kata salah seorang crew yang membuat Wu Chun menoleh.

“Kenapa kita melupakan ulang tahunnya? Dia pasti kecewa.” Kata salah seorang crew yang lain.

“Xiao Wei Ni? Siapa dia?” tanya Calvin penasaran. Sifat playboynya mendadak muncul.

Salah seorang crew menunjuk seorang gadis yang sibuk membersihkan kamera. “Xiao Wei Ni. Dia juga ulang tahun hari ini.” Katanya.

Wu Chun terdiam. Gadis itu. Pantas dia menatap Wu Chun dengan  tatapan aneh. Ya Lun beranjak dari kursi.

“Kita berikan kado juga bagaimana?” tanya Ya Lun yang disambut anggukan kepala Calvin dan Da Dong. Ya Lun mengalihkan tatapannya ke Wu Chun. “Kau bagaimana?” tanyanya.

Wu Chun mengangguk. Mereka berempat kemudian berjalan menghampiri Xiao Wei Ni. Gadis itu terkejut dengan kedatangan member Fahrenheit. Gadis itu menghentikan aktivitasnya.

Zhu ni sheng ri kuai le…. Zhu ni sheng ri kuai le…. Zhu ni yong yuan kuai le…. Zhu ni sheng ri kuai le….” Suara merdu itu mengalun dari bibir empat laki-laki. Ketiganya member Fahrenheit. Yang satu merupakan mantan member Fahrenheit.

Bukan senyum sukacita. Bukan tatapan terima kasih, yang ada gadis itu melototkan kedua matanya pada empat laki-laki didepannya.

“Pergi kalian! Aku tidak ingin mendengar nyanyian itu!” pekik Xiao Wei Ni histeris sambil menutup kedua telinganya menggunakan tangan. Air matanya langsung meleleh. Mengalir melewati kedua pipinya yang memerah.

Ya Lun, Calvin dan Da Dong saling pandang. Mereka bingung dengan sikap Xiao Wei Ni. Terlebih Wu Chun. Dia tidak tahu apa yang terjadi.

Du bui xi… kami hanya….” Kalimat Da Dong tepotong saat mendapati tatapan Xiao Wei Ni yang tajam.

“PERGI!!!” Teriak Xiao Wei Ni histeris yang membuat crew film yang berada disitu langsung menoleh kearahnya. Gadis itu  menangis sambil menutup wajahnya.

Da Dong menggaruk belakang lehernya. Calvin nyengir dengan khas. Ya Lun langsung pergi untuk menyelamatkan diri. Wu Chun hanya mampu memandang Xiao Wei Ni dengan pandangan aneh.

♫♫♫

Wu Chun baru saja kembali dari rumah makan saat melihat Xiao Wei Ni berada di sebuah taman bunga. Ini masih waktu istirahat. Untuk apa gadis itu berada di sana?

Wu Chun berniat menghampiri Xiao Wei Ni saat didengarnya gadis itu berkata dalam suara serak. Pasti gadis itu menangis lagi. “Papa…. Mama…. Wei Ni rindu kalian.” Ujar Xiao Wei Ni pelan.

Wu Chun mengerutkan kening. Gadis itu juga memiliki nasib yang sama dengannya? Jauh dari keluarga yang menyebabkan dia sulit bertemu dan mendengar nyanyian Zhu ni sheng ri kuai le?

“Aku sama denganmu.” Kata Wu Chun tiba-tiba yang membuat Xiao Wei Ni buru-buru menghapus air matanya dan menatap Wu Chun.

“Pergi.” Kata Xiao Wei Ni lagi.

Wu Chun tidak memperdulikannya. “Keluargaku berada di Brunei. Sedangkan aku berada di Taipei. Aku juga merindukan mereka. Bahkan sampai sekarang mereka belum memberi ucapan selamat ulang tahun padaku.” Kata Wu Chun.

“Kita berbeda!” tandas Xiao Wei Ni tajam. Ditatapnya Wu Chun dengan tatapan yang sama seperti tadi siang saat semua crew memberi Wu Chun ucapan selamat ulang tahun dan kado.

“Kita sama. Sama-sama jauh dari orang yang kita sayang.” Kata Wu Chun. Berusaha menghibur Xiao Wei Ni dan dirinya sendiri.

Xiao Wei Ni menatap Wu Chun tajam dan berjalan meninggalkan Wu Chun. Tapi Wu Chun buru-buru menghalangi langkah Xiao Wei Ni.

“Sebelum hari ini berakhir, kita rayakan bersama hari ulang tahun kita. Bagaimana?” tanya Wu Chun.

Xiao Wei Ni menggeleng. “Aku benci ulang tahun!” tandasnya sambil berlalu meninggalkan Wu Chun.

Wu Chun menatap kepergian Xiao Wei Ni. Kenapa ada orang yang sangat membenci hari ulang tahun?

♫♫♫

Wu Chun terdiam. Dia sama sekali tidak menyangka ternyata dirinya dan Xiao Wei Ni tidak sama! Memang tidak sama. Keluarganya masih utuh. Sedangkan Xiao Wei Ni? Gadis itu tidak memiliki orang tua. Orang tuanya meninggal saat ulang tahun Xiao Wei Ni. Pantas gadis itu sangat membenci ulang tahun.

Wu Chun menatap Xiao Wei Ni yang sedang berdiskusi dengan crew yang lain tentang tata letak lampu. Wu Chun merasa menyesal. Apalagi, setelah dia mendengar ucapan selamat ulang tahun dari keluarganya yang berada di Brunei.

Dia bersyukur keluarganya masih utuh. Walau keluarganya terlambat mengucapkan selamat ulang tahun tapi mereka sangat meyayangi Wu Chun. Karena ucapan selamat ulang tahun hanya mewakili doa mereka.

Ayah. Ibu. Saudara. Mereka menyayanginya. Sampai kapanpun, cinta keluarga terhadapnya tidak akan pernah pudar. Tidak lekang oleh waktu. Walau sampi ajal menjemput. Doa akan terus terucap.

Wu Chun menghampiri Xiao Wei Ni. Hari ini akan berakhir. Setengah jam lagi sudah pukul dua belas tengah malam.

“Aku ingin mengucapkan selamat ulang tahun padamu.” Kata Wu Chun yang membuat Xiao Wei Ni mendongak dan menatap Wu Chun tajam.

Crew yang berada di sekitar Xiao Wei Ni sontak berjalan meninggalkan keduanya. Takut adanya peperangan lagi seperti tadi siang.

“Aku tidak membutuhkan ucapan selamat ulang tahun dari siapapun.” Tandas Xiao Wei Ni ketus.

Wu Chun tidak putus asa. “Orang tuamu akan selalu menyertaimu dari atas.” Kata Wu Chun yang membuat Xiao Wei Ni menatapnya.

Kedua mata Xiao Wei Ni berkabut. Air mata mulai menggenang. Bibirnya terlihat gemetar menahan tangis.

Wu Chun mendekap Xiao Wei Ni. “ Kau tidak perlu membenci ulang tahun. Kau harus mensyukuri masih diberi kehidupan.” Kata Wu Chun sambil mengelus kepala Xiao Wei Ni.

Baju Wu Chun terasa basah. Xiao Wei Ni sungguh menangis. Bahunya naik turun di pelukan Wu Chun. “Mereka meninggal akibat ulahku.” Kata Xiao Wei Ni sesegukkan.

“Tidak. Mereka meninggal karena itu sudah jalan mereka. Kau tidak perlu menyalahkan diri sendiri.” Kata Wu Chun bijak.

“Kalau aku tidak memaksa mereka datang menjemputku di sekolah, kecelakaan itu tidak akan terjadi. Aku tidak akan membenci ulang tahun. Aku hanya ingin semuanya kembali seperti dulu.” Kata Xiao Wei Ni panjang lebar.

Wu Chun kembali mengusap-usap kepala Xiao Wei Ni. “Kau harus menjalani hidup. Orang tuamu pasti sedih jika kau sedih. Kau masih punya kami. Kami akan menjadi saudaramu. Saudara tidak hanya ikatan darah, bukan? Kita semua saudara.” Kata Wu Chun.

Xiao Wei Ni mendongak. “Kau benar. Jika aku seperti ini, orang tuaku akan semakin sedih.” Kata Xiao Wei Ni pelan.

Wu Chun mengusap-usap kepala Xiao Wei Ni. Setidaknya dia merasa Xiao Wei Ni seperti mei-mei. Adik yang baru ditemukannya.

Xie-xie, Gege. Aku akan berusaha untuk tidak menyalahkan diriku sendiri.” Kata Xiao Wei Ni pelan.

Wu Chun melepas pelukannya. Ditatapnya Xiao Wei Ni kemudian dihapusnya air mata Xiao Wei Ni yang masih tertinggal di pipi dengan kedua ibu jarinya.

Zhu ni sheng ri kuai le…. Zhu ni sheng ri kuai le…. Zhu ni yong yuan kuai le…. Zhu ni sheng ri kuai le….” Wu Chun dan Xiao Wei Ni bersama-sama menyanyikan lagu selamat ulang tahun itu.

Berdua. Dengan doa dan harapan yang sama. Semoga masih dapat merasakan hari ulang tahun di tahun berikutnya. Kenangan akan ulang tahun masa lalu akan dijadikan kenangan yang tidak akan dilupakan seumur hidup.

= FIN =

 

Zhu ni sheng ri kuai le, Wu Chun Gege!!!!!

Aku baru ingat kalau hari ini Gege ulang tahun…. Dengan ngebut, aku nulis FF ini.

Wo Ai Ni, Gege!!!

Advertisements

Letter of Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s