[단편] I Believe in love

Title : I Believe in Love

Author : Karra Glow

Main Cast :

  • IU as Lee Ji Eun
  • Yoo Seung Hoo as Seung Hoo

Other Cast :

  • Suzy (Miss A) as Suzy

Ratting : PG+15

Genre : Romance & Schoolship

Disclaimer : IU, Seung Hoo and Suzy not my mine. But plot and story is my mine!

Summary : Perjuangan yang tidak sia-sia….

Rambut seorang yeoja berkibar saat terkena hembusan angin. Suasana pagi ini cukup hangat dengan matahari yang memancarkan cahayanya. Yeoja itu mengembangkan senyumnya saat sebuah mobil sport berwarna biru metalik mendekat kearahnya.

Mobil sport itu dikemudikan oleh seorang namja. Bermata sipit tapi memiliki lekuk wajah yang mengisyaratkan namja itu merupakan orang yang tegas.

Seorang yeoja mengendap-ngendap mengikuti langkah seseorang. Seorang namja yang berjalan begitu saja sambil mendengarkan musik dari ipod-nya. Berjalan begitu saja tanpa memperhatikan sekelilingnya. Kalau dia memperhatikan sekelilingnya, pasti akan takjub dengan pandangan memuja dari  yeoja-yeoja yang ditunjukkan padanya.

“Kau sedang apa Lee Ji Eun?” tegur seseorang yang membuat yeoja bernama Ji Eun melompat kaget.

Ji Eun –gadis yang menguntit namja tadi. Yeoja itu menoleh dan mendapati sahabatnya, Suzy sedang menatapnya sambil memiringkan kepalanya. Penasaran. Ji Eun langsung menyengir.

“Aku sedang mencari penyemangatku disini.” Kata Ji Eun sambil berjongkok dan berpura-pura mencari sesuatu di hamparan rumput di sekitarnya.

“Kotjimal!” kata Suzy sambil mencibir dan ikut berjongkok di dekat Ji Eun.

Ji Eun terkesiap dan tertawa. “Kau ini. Sudah tahu aku sedang menguntitnya masih saja kau bertanya!” komentar Ji Eun dengan wajah memerah.

Suzy tertawa. “Dasar bodoh! Untuk apa kau mengikutinya? Dia tidak melihatmu!” kata Suzy yang membuat Ji Eun langsung melempar rumput ke kepala Suzy.

“Kau ini tidak tahu definisi menguntit?Mengikuti orang tapi orang itu tidak tahu. Itu definisi menguntit!” omel Ji Eun kesal yang membuat tawa Suzy kembali pecah.

Ji Eun menggembungkan pipinya. Ditatapnya punggung namja yang sudah disukainya hampir setahun ini yang semakin bergerak menjauh. Walaupun terlihat cuek, dia namja yang penuh perhatian. Dan mungkin hanya dia satu-satunya yeoja yang tahu tentang Seung Hoo.

*****
Ji Eun meletakkan buku yang dipinjamnya beberapa hari yang lalu di atas meja perpustakaan. “Aku akan mengembalikan buku ini.” Kata Ji Eun sambil membetulkan kunciran rambutnya yang sedikit miring.

Petugas perpustakaan memeriksa buku yang dipinjam Ji Eun. Mulai dari sampul, halaman yang dicorat-coret sampai ke halaman terakhir. “Bersih.” Kata petugas itu yang membuat Ji Eun mengangguk. “Kau mau pinjam lagi?” tanya petugas itu yang membuat Ji Eun mengangguk.

“Aku mau meminjam buku musik.” Kata Ji Eun yang membuat petugas perpustakaan menunjuk rak yang berisi buku-buku tentang musik.

“Kau cari saja disana.” Kata petugas itu yang membuat Ji Eun membungkukkan kepalanya sebentar dan berjalan menuju rak yang sudah ditunjuk oleh petugas tadi.

Ji Eun memilih-milih buku apa yang akan dibacanya dan akan dibawa pulang untuk dibaca di rumah. “Musik klasik, musik modern atau musik tradisional?” gumamnya pelan.

Jari Ji Eun menyusuri buku-buku yang berderet di rak itu. Jarinya berhenti di sebuah buku yang dari judulnya merupakan buku permainan piano. Tangannya hendak meraih buku itu ketika tangan lain juga akan mengambil buku yang sama.

Ji Eun menoleh. Bersiap untuk mengomel. Namun bibirnya terkunci rapat. Wajahnya memanas. Dirasakan denyut jantungnya yang berdetak kencang. Keringat dingin mulai keluar dari pori-pori dahinya. Seung Hoo.

“Kau mau meminjam buku ini?” tanya Seung Hoo pelan.

Bukannya menjawab, Ji Eun hanya mampu menggerakan kepalanya. Dia menggeleng. walaupun dia merutuk dalam hati.

“Lalu kau mau meminjam buku yang mana?” tanya Seung Hoo pelan. Di perpustakaan memang dilarang untuk berisik. Itu sebabnya Seung Hoo berbicara dengan nada pelan.

Tangan Ji Eun bergetar. Dia tidak sanggup menatap Seung Hoo lama-lama. Dia harus pergi sebelum dia kehabisan nafas. Ji Eun spontan membungkukkan badan dan berjalan cepat keluar dari perpustakaan meninggalkan Seung Hoo yang kebingungan.

Bagaimana ini? Dia mengajakku bicara tapi aku tidak mengeluarkan sepatah katapun! Apa yang akan dia pikirkan tentangku? Pikir Ji Eun panik.

Yeoja itu buru-buru meninggalkan perpustakaan dengan jantung yang berdebar. Aku harus memberi tahu Suzy mengenai hal ini. Kata Ji Eun dalam hati. Baru dua langkah dia berjalan menuju kelasnya, pikiran tadi langsung dilenyapkan. “Tidak bisa. Kalau aku memberi tahunya, bisa-bisa aku dianggap lelucon.” Kata Ji Eun pelan.

Ji Eun langsung mengurungkan niatnya untuk memberi tahu Suzy. Lebih baik dia tidak tahu.

*****
Ji Eun menatap seseorang yang sedang duduk di bangku halte sambil mendengarkan musik. Jantungnya mulai tak terkendali lagi. Bagaimana bisa dia ikut menunggu bus disini? Dia tidak pernah naik bus.

Ji Eun tidak jadi menghampiri Seung Hoo yang memejamkan kedua matanya. Langkahnya berbalik. Kalau tidak sekarang, kapan lagi aku bisa bertemu dengannya. Ji Eun berlari menuju toko bunga terdekat.

Senyum cerah menghiasi wajahnya. Dia sama sekali tidak peduli dengan orang-orang yang memperhatikannya. Benar! Kalau tidak sekarang, kapan lagi? Sudah cukup mengintai Seung Hoo. Namja itu tidak memiliki yeojachingu. Dunianya hanya buku dan musik.

“Selamat datang, Nona. Kau mencari bunga apa?” tanya pelayan toko bunga sambil memamerkan senyumnya.

Ji Eun berpikir. Setelah masuk ke toko bunga, dia bingung ingin membeli apa. Yeoja itu tersenyum getir.

“Kau ingin memberikan kekasihmu bunga?” tanya pelayan toko itu yang membuat Ji Eun akhirnya mengangguk.

“Tapi aku tidak tahu dia menyukai bunga apa.” Komentar Ji Eun pelan. Dia bingung akan memberi apa. Bunga disini indah. Tapi dia tidak tahu bunga apa yang disukai Seung Hoo.

Pelayan itu tersenyum. “Tidak banyak namja yang menyukai bunga. Bagaimana jika kau memberikan dandellion?” tanya pelayan itu yang membuat Ji Eun membulatkan matanya.

“Benar! Lebih baik aku memberikannya dandellion!” kata Ji Eun sambil tersenyum.

Ya! Dandellion. Rumput berbunga kuning itu memang tidak seharum bunga mawar. Tidak seindah bunga lili. Tapi dandellion merupakan tumbuhan yang paling tahan lama. Tidak seperti bunga yang mudah layu.

Pelayan itu membungkus dandellion yang baru saja dipilih oleh Ji Eun. “Semoga dandellion ini sukses membuat namjachingumu senang.” Kata pelayan itu sambil menyerahkan dandellion yang sudah dibungkus plastik bening.

Ji Eun tersenyum. Dia mengulurkan selembar uang dan berjalan keluar toko sambil membawa dandellion itu.

Perjalannya menuju halte terasa ringan. Seolah tidak membawa beban apapun. Dia harus mengatakan pada Seung Hoo tentang perasaannya.

Ji Eun tersenyum saat Seung Hoo menunggu kedatangan bus sambil berdiri. Ji Eun bersyukur. Itu lebih baik daripada Seung Hoo yang tidur.

“Seung….” Panggil Ji Eun terpotong saat sebuah bus berhenti di depan Seung Hoo. Pintu bus terbuka dan seorang yeoja turun dengan membawa koper. Yeoja itu langsung memeluk Seung Hoo yang tersenyum.

Baru kali ini, Ji Eun melihat senyum Seung Hoo yang berasal dari hatinya. Dia selalu melihat senyum Seung Hoo yang dipaksakan ketika di tengah teman-teman sekolah mereka.

Entah mengapa, Ji Eun merasakan sesak yang luar biasa di pernafasannya. Jantungnya berdetak lebih kencang. Perasaannya seolah teriris melihat Seung Hoo yang mengecup kening yeoja itu dan menggandengnya menuju mobilnya yang di parkir di depan halte bus.

Tidak mungkin Seung Hoo naik bus. Pemikiran awal Ji Eun ternyata benar. Seharusnya dia lebih memperhatikan Seung Hoo sebelum nekad membeli dandellion.

Cairan bening di kedua mata Ji Eun mulai mengalir. Kedua matanya memanas. Air mata itu merebak keluar. Tangannya tidak sanggup menahan beban dandellion yang tidak seberapa itu. Pot itu meluncur dengan suara keras dan akhirnya pecah.

Seung Hoo dan yeoja di sampingnya menoleh kearah Ji Eun yang menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya. Ji Eun terlihat gemetar. Namun karena Seung Hoo tidak mengetahui siapa orang yang menangis itu dia mulai menjalankan mobilnya.

Ji Eun duduk bersimpuh. Air mata dan isak tangisnya terus mengalir. Kenapa dia baru tahu Seung Hoo sudah memiliki yeojachingu disaat dia akan mengutarakan perasaannya? Pertanyaan yang seharusnya dia tahu dari awal. Sehingga dia bisa mundur secara teratur dan tidak membuat perasaannya sesakit sekarang.

*****
Suzy mengusap-usap punggung Ji Eun. Dengan sabar yeoja itu menanti sahabatnya berhenti menangis. “Dandellionnya?” tanya Suzy hati-hati.

Ji Eun mengangkat wajahnya. Kedua matanya bengkak. Hidungnya merah. Air mata itu masih mengalir. Nafas tersengal-sengal Ji Eun membuat Suzy hanya mampu memeluk sahabatnya.

“Dandellionnya pecah.” Ujar Ji Eun pelan.

“Gwaenchana. Tidak apa-apa kau menangis sekarang. Kau berhak mencintai siapapun. Tapi kau tidak bisa memaksa dia mencintaimu.” Kata Suzy sabar.

Suzy kesal. Dia kesal karena Seung Hoo sama sekali menghiraukan perasaan Ji Eun. Tidak peduli pada Ji Eun. Kenapa Seung Hoo menyembunyikan kekasihnya? Membuat orang lain salah paham saja!

*****
Suzy berjalan menyusuri koridor sekolah menuju atap sekolah mereka. Suzy tahu dari Ji Eun kalau Seung Hoo sering menghabiskan waktu istirahatnya di atap. Hari ini Ji Eun tidak masuk sekolah. Dia malu menghadapi teman-temannya dengan kedua matanya yang bengkak.

Suzy menaiki tangga dengan cepat. Begitu sampai di atap dia mengedarkan pandangannya mencari Seung Hoo. Ternyata namja itu sedang duduk membelakanginya. Entah apa yang dilakukannya.

Suzy berjalan menghampiri Seung Hoo. Baru dia akan menegur namja itu saat namja itu melepas sebuah balon. Balon itu terbang begitu saja membawa sebuah surat. Entah surat atau hanya amplop.

“Semoga dia menerima suratku.” Gumam Seung Hoo pelan.

Suzy mengernyitkan dahi. Surat? Untuk siapa? Suzy menatap sebuah pompa angin di dekat kaki Seung Hoo dan beberapa balon yang berwarna-warni di dekatnya serta beberapa tali. Apa yang dilakukannya?

“Kau sedang apa disini?” tanya Suzy yang membuat Seung Hoo melompat dari bangku karena kaget.

Namja itu membalikan badannya dengan menunjukkan wajah kesal. Wajah kesal itu langsung berganti dengan wajah pucat.

“Sejak kapan kau ada disini?” tanya Seung Hoo panik.

Suzy semakin mengernyitkan dahinya. “Kau ini kenapa balik bertanya?” omel Suzy sambil menunjuk balon-balon yang belum diterbangkan.

“Aku bertanya sejak kapan kau ada dibelakangku?” tanya Seung Hoo panik.

“Sejak kau melepaskan balon itu.” Kata Suzy sambil menunjuk balon yang tadi dilepaskan Seung Hoo. “Apa yang kau lakukan?” tanya Suzy penasaran.

“Kau tidak mendengar apapun?” tanya Seung Hoo hati-hati.

Suzy tidak menjawab. Seung Hoo ini mencurigakan. Untuk apa dia membawa sebuah bekal makanan ke atap? Dia mau mati kering berada di atap? Tunggu dulu! Itu bukan bekal makanan biasa. Ada kertas didalamnya.

Seung Hoo menatap Suzy takut-takut. Ya! Dia pantas takut. Takut Suzy mengetahui rahasia besarnya. Takut Suzy menyebarluaskan rahasianya.

Suzy mengambil selembar kertas dari kotak makan Seung Hoo yang membuat namja itu mengejarnya. Suzy berusaha membaca barisan kata-kata di kertas itu saat Seung Hoo berusaha mengambilnya kembali.

“Kembalikan!” kata Seung Hoo sambil mengambil suratnya dari tangan Suzy yang terpaku.

“Neo….” Kalimat Suzy terpotong saat menatap Seung Hoo yang wajahnya kini mengeras.

“Ne!”kata Seung Hoo kesal namun disisi lain dia merasakan kelegaan yang luar biasa saat Suzy mengetahuinya.

*****
 “Lee Ji Eun.” Kata seorang yeoja sambil menjabat tangan Seung Hoo. “Kau bisa memanggilku Ji Eun.” Lanjutnya.

“Yoo Seung Hoo. Kau bisa memanggilku Seung Hoo.” Kata Seung Hoo sambil menatap Ji Eun.

Ji Eun mengangguk dan melepaskan tangan Seung Hoo. Yeoja itu kemudian beralih ke dua anak kecil yang sedang berebut pulpen.

“Aku berikan satu lagi untuk kalian sehingga kalian tidak perlu berebut.” Ujar Ji Eun sambil mengobra-abrik tasnya dan mengambil sebuah pulpen dari tasnya. “Jangan berebut lagi.” Kata Ji Eun yang disambut anggukan kepala dari dua anak kecil itu.

Seung Hoo langsung mengerjakan tugasnya kembali. Mengajari anak-anak itu belajar menulis. Raut wajahnya, senyuman Seung Hoo yang sama sekali tidak dibuat-buat itu membuat jantung Ji Eun yang sedang menatapnya berdetak lebih cepat.

Dibalik sifat angkuhnya di sekolah, Seung Hoo merupakan namja berhati mulia! Dia rela membantu organisasi yang diikuti Ji Eun dan Suzy melakukan pengabdian rakyat. Membantu mereka yang membutuhkan bantuan.

Dan itulah saat pertama Ji Eun berkenalan secara resmi dengan Seung Hoo. Dan akhirnya mencintai namja itu.

*****
Ji Eun terpaku mendengar kalimat Seung Hoo. Yeoja itu menatap Seung Hoo dengan wajah memerah. Jantungnya sudah berdetak kencang saat Seung Hoo menghentikan langkahnya.

“Kau menyukaiku?” ulang Seung Hoo dengan nafas tercekat.

Ji Eun sama sekali tidak berani menjawab. Dia malu. Teman-teman satu sekolah banyak yang melihat kejadian ini. Banyak yang bertanya satu sama lain tentang apa yang terjadi.

“Kau menyukaiku? Sejak kapan?” tanya Seung Hoo lagi. Sudah tiga kali dia melontarkan pertanyaan yang sama.

“Sejak acara bakti sosial dulu!” ujar Ji Eun tertahan. Baiklah! Dia akan mengaku. Walaupun Seung Hoo akan menolaknya. Daripada dia tidak tahu  sama sekali dan akan membuatnya menyesal seumur hidup?

Sorak sorai terdengar. Jawaban Ji Eun sama saja mengatakan bahwa Ji Eun mengakui perasaannya.

Seung Hoo tersenyum samar. “Kau menyukaiku sejak lama?” tanya Seung Hoo pelan.

Air mata Ji Eun merebak. “Ya! Aku menyukaimu sejak lama! Menyukaimu yang jelas tidak menyukaiku. Menyukaimu yang sudah memiliki yeojachingu!” kata Ji Eun dengan nada letih.

Seung Hoo memejamkan kedua matanya. Dia bisa menangkap perasaan Ji Eun yang kecewa, letih dan putus asa.

Ji Eun berniat meninggalkan Seung Hoo ketika lengan kirinya dicekal oleh namja itu. “Aku tidak memiliki yeojachingu.” Kata Seung Hoo yang meralat perkataan Ji Eun.

Ji Eun menatap Seung Hoo dengan mata berkaca-kaca. “Kau memilikinya. Aku melihat kalian di halte bus!” kata Ji Eun pelan sambil menundukkan kepalanya. “Aku yang menangis saat itu.” Lanjutnya pelan.

Seung Hoo merasa terhantam mendengar pengakuan Ji Eun. Dipeluknya Ji Eun dengan hati yang sangat lega.

Darah Ji Eun mengalir cepat saat merasakan Seung Hoo memeluknya dengan segenap perasaan. Jantungnya berdetak semakin kencang.

“Dia bukan yeojachingu-ku. Dia dongsaengku yang baru saja kembali dari luar negeri.” Kata Seung Hoo sambil mengecup puncak kepala Ji Eun.

Ji Eun merasa lega luar biasa. Dia salah mengira yeoja itu. Ternyata dia adiknya Seung Hoo. Jika diingat lagi masalah itu dia menjadi malu sendiri. Salah orang.

“Lepaskan aku!” ujar Ji Eun yang membuat Seung Hoo dengan refleks melepas pelukannya. “Kau tidak bisa memelukku sembarangan!” komentar Ji Eun pelan.

Seung Hoo yang tahu arah pembicaraan Ji Eun langsung menggaruk belakang lehernya. “Suzy tidak bercerita padamu?” tanya Seung Hoo pelan.

“Tentang?” tanya Ji Eun pelan.

Seung Hoo mati kutu. Ditatapnya Suzy yang tertawa. “Kalian berdua sangat bodoh! Saling mengagumi satu sama lain tapi tidak ada yang berani memulainya.” Ujar Suzy sambil merangkul Ji Eun.

Ji Eun menatap Suzy dengan pandangan aneh. “Apa maksudmu?” tanya Ji Eun bingung.

Suzy menatap Seung Hoo yang salah tingkah.

*****
“Ne!” Ujar Seung Hoo kesal sekaligus lega. “Aku menyukai Ji Eun.” Kata Seung Hoo.

Suzy sampai tidak dapat berkata-kata. Dia menunggu Seung Hoo menceritakan semuanya.

“Aku selalu mengikutinya. Tapi dia sama sekali tidak mempedulikanku. Dia selalu menghindariku.” Kata Seung Hoo putus asa.

“Itu sebabnya kau lebih senang disini? Menulis surat untuknya?” tanya Suzy penasaran.

Seung Hoo mengangguk. “Jika balon itu meletus dan surat itu jatuh, setidaknya ada orang yang tahu bahwa aku mencintai Ji Eun.” Kata Seung Hoo pelan.

Suzy menggeleng tidak percaya mendengar pengakuan Seung Hoo. “Kalian ini bodoh!” kata Suzy.

Seung Hoo menatap Suzy dengan tatapan aneh. “Maksudmu?”

“Kalian saling mencintai. Saling mencari satu sama lain. Tapi kau ataupun Ji Eun tidak berani untuk memulai!” kata Suzy.

Seung Hoo terdiam mendengar kalimat Suzy. Ji Eun juga mencintainya? Perasaannya sungguh lega. Karena yang mengatakan adalah Suzy yang merupakan sahabat Ji Eun.

“Kau sedang apa disini?” tanya Seung Hoo yang teringat dengan kejadian tadi.

Suzy langsung teringat tujuannya. “Siapa yeoja yang kau cium keningnya di halte bus? Ji Eun melihatnya!” omel Suzy.

“Dongsaeng. Dia baru kembali dari luar negeri. Aku tidak bisa menjemputnya. Itu sebabnya aku menunggu dia di halte bus.” Kata Seung Hoo pelan.

Suzy memicingkan kedua matanya. “Benarkah? Adik kandung atau adik angkat?” tanya Suzy penasaran.

“Adik kandung! Anak dari orang tuaku juga!” kata Seung Hoo.

Suzy memperhatikan Seung Hoo. Tapi tidak ada kebohongan disana. “Katakan kau mencintai Ji Eun!” kata Suzy sambil berjalan meninggalkan Seung Hoo yang tersenyum. Dasar pasangan bodoh! Sama-sama saling mencintai. Sama-sama saling mencari. Eun Ji… aku senang… perjuanganmu tidak sia-sia!

*****
“Aku akan membantu ahjussi membersihkan bangunan mereka. Kau membantu ahjumma mengajari mereka.” Kata Seung Hoo sambil menggunakan sarung tangan.

Ji Eun mengangguk. “Aku akan mengajari mereka bernyanyi.” Kata Ji Eun sambil mencium singkat pipi Seung Hoo.

Seung Hoo tertawa. “Pergilah!” kata Seung Hoo sambil bergabung dengan ahjussi yang sedang membongkar kandang ayam.

Ji Eun menatap Seung Hoo yang tersenyum sambil membantu ahjussi itu. Ji Eun melangkahkan kakinya memasuki rumah yang sudah banyak anak kecil.

“Annyeong! Kita akan bernyanyi. Siapa yang ingin bernyanyi bersamaku?” tanya Ji Eun semangat yang disambut sorakan ingin ikut bernyanyi bersama Ji Eun.

Seung Hoo tersenyum mendengar suara Ji Eun dan suara anak kecil yang bernyanyi bersama. Sudah pasti yang bermain piano itu yeojachingunya. Lee Ji Eun.

= FIN =

Yang warna merah itu kejadian saat ini…

Yang warna biru tua itu waktu kejadian masa lalu saat pertama mereka berkenalan.

Yang warna hitam merupakan potongan flashback kisah Ji Eun ama Seung Hoo.

 

Advertisements

11 thoughts on “[단편] I Believe in love

  1. sophiemorore says:

    gilaaaaaaaaa saya bukan first jadinya huaaaa *nangis guling2*

    argghhhh pertama, mau protes sama castnya ! IU!! waeyo IU!!~ IU hanya untuk Eunhyuk!! hahahaha

    oke abaikan

    ceritanya bikin aku merinding dan pengin nampar IU*???*
    hahaha co cwittt

    aku suka kalimat ini:
    Ya! Dandellion. Rumput berbunga kuning itu memang tidak seharum bunga mawar. Tidak seindah bunga lili. Tapi dandellion merupakan tumbuhan yang paling tahan lama. Tidak seperti bunga yang mudah layu.

    makasih ya udah muji aku, aku jadi malu.. *lirik2 kalimat di atas* hahaha

    ceritanya manis ahh bagus yooo . 😀

    • Karra says:

      IU hanya untuk Wooyong dan Seung Hoo…. #abaikan…

      ini gara-gara aq denger lagu IU ama Seung Hoo yang I Believe in Love….
      makana aq buat ne FF….

      err…. awalnya aq mau pake bunga melati.. cuma ntar malah inget suzana lagi…. tapi saya nggak memuji anda…. #disate Sophie….

      kecerobohan lagi lho…. aq jadi tau nama panggilan asli anda…. #ngakak ala kunti.

  2. cutedarkclouds says:

    Yoo Seunghoooooo *mimisan*
    buset dah sama2 suka tapi malu-malu dah nih, gak berani menyatakan duluan…
    paling suka dah kalo balonnya pecah onoh,
    kyakyakyaaa *berdoa moga pecah di atap rumahku* lalalalala~

    walo pendek tapi mantap!!

    mian baru baca yah qi 😀

Letter of Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s