[단편] Game For Die 1

Title : Game for die

Author : Karra Glow

Ratting : 17 +

Cast :

  • Yunho TVXQ as Yunho
  • Gyuri KARA as Gyuri
  • Kevin U-Kiss as Kevin
  • HyunA 4minute as HyunA
  • Jiyeon T-Ara as Jiyeon
  • Kim Joon T-Max as Joon

Genre : Thrailer

Length : 1 of ?

Disclaimer : Tokoh disini merupakan rekayasa author. Karena ini hak cipta author jadi terserah author membuat cerita yang bagaimana. Jangan copy paste tanpa seijin author. Jangan menuntut author karena cerita ini. Ini hanyalah rekayasa author.

Summary : Pintu gerbang itu perlahan membuka. Dan dentuman keras saat sebuah tubuh melayang yang menghantam pilar.

                                                             ~CHAPTER ONE~

Seoul. Kota yang tidak pernah berhenti beraktivitas dari pagi hingga pagi. Kota yang selalu ‘hidup’. Di sebuah halte bus yang ada di dekat Univercity of Korea terdapat dua orang yeoja sedang duduk sambil sesekali berbincang. Jam tangan mereka sudah menunjukkan pukul 9 malam KST.

 

Gyuri. Yeoja berambut panjang yang digerai itu memperketat jaketnya untuk mengusir udara dingin yang menusuk. Yeoja disampingnya yang bernama HyunA juga memperketat jaketnya. Entah mengapa cuaca di Seoul tidak dapat ditebak. Entah karena pemanasan global yang terjadi di dunia atau karena hal lain.

 

“Gyuri-a.” panggil HyunA sambil menatap sahabatnya yang terlihat akan menutup kedua matanya.

 

Dengan malas Gyuri membuka kedua matanya lagi. “Waeyo?” Tanya Gyuri dengan suara parau.

 

“Kau masih menyukai Yunho?” Gyuri tercekat dan raut wajahnya berubah saat HyunA mengucapkan kalimat itu.

 

Dengan perlahan, kepala Gyuri mengangguk. Wajahnya berseri-seri. Tanpa sadar Gyuri menyunggingkan senyuman.

 

HyunA menepuk bahu Gyuri sambil tersenyum. “Kau harus mengejar Yunho. Buktikan kalau kau menyukainya.” Kata HyunA memberi semangat.

 

Gyuri menggeleng pelan. “Dia tidak mungkin menyukaiku. Disampingnya ada Jiyeon.” Kata yeoja itu dengan mimik putus asa.

 

“Kau belum..” kalimat HyunA terpotong saat melihat bus yang dinanti mereka mendekati mereka. “Bus kita sudah datang. Kkaja.” Kata HyunA sambil menarik tangan Gyuri.

 

Bus berwarna hijau menepi di halte bus yang sedari tadi menjadi tempat istirahat Gyuri dan HyunA. Pintu masuk terbuka. Seketika semerbak wangi bunga mawar tercium di hidung Gyuri dan HyunA.

 

Gyuri mencengkeram tangan HyunA erat. Rasa takut tiba-tiba menyelimutinya. HyunA yang tidak memperhatikan ekspresi Gyuri tetap melangkahkan kakinya memasuki bus yang membuat Gyuri tidak ada pilihan lain selain mengikuti HyunA.

 

Ketika HyunA sedang menggesek kartunya di mesin yang ada di dekat sang sopir tatapannya tidak sengaja melihat Yunho, Kevin, Joon dan Jiyeon yang duduk di barisan belakang. Jiyeon yang bersandar dengan mesra di lengan Yunho yang tampaknya tidak memperdulikan Jiyeon.

 

Kevin dan Joon bercanda dengan sesekali Yunho ikut tertawa dengan mereka. HyunA menatap Gyuri yang ternyata juga melihat mereka. Wajah Gyuri memerah. Sang sopir terus memperhatikan Gyuri yang belum juga menggesekkan kartunya. HyunA berdecak. Diambilnya kartu di tangan Gyuri dan menggeseknya.

 

HyunA menarik tangan Gyuri supaya mencari tempat duduk hingga mereka sampai di tujuan nanti. Dan satu-satunya tempat duduk yang kosong hanya ada di depan barisan belakang. Itu berarti duduk di depan Yunho, Kevin dan Joon.

 

“Yunho! Bukankah dia yeoja yang menyukaimu?” Tanya Kevin sambil terus memperhatikan Gyuri dari ujung kepala sampai kaki.

 

Yunho berdecak. “Kau tahu aku sangat popular bukan? Bukan hal luar biasa ketika ada yeoja yang menyukaiku.” Kata Yunho sombong sambil menekankan kata ‘luar biasa’.

 

HyunA mengantupkan rahangnya. “Dia namja menyebalkan.” Keluhnya kesal.

 

Gyuri memegang tangan HyunA erat. “Kau jangan melakukan apapun. Bagaimanapun kau tahu aku menyukainya.” Bisik Gyuri.

 

HyunA menatap kesal kearah Yunho. Namun dia membalikkan lagi wajahnya. Di lihatnya Gyuri sedang tersenyum. Entah tersenyum apa. Yang jelas HyunA tidak dapat mengartikan senyuman Gyuri yang biasanya langsung tertebak.

 

“Seharusnya dia bercermin, bukan? Pantas tidak menyukaimu, Yeobo?” kata Jiyeon genit.

 

Yunho menatap Jiyeon. “Bukankah kau juga tidak bercermin sampai berani menyukaiku?” ujar Yunho langsung.

 

Wajah Jiyeon pucat mendengar kalimat Yunho barusan. Kevin dan Joon tertawa. Mereka tidak menyadari HyunA dan Gyuri juga ikut tertawa mendengar kalimat Yunho barusan.

 

Bus menepi kembali. Dua halte berikutnya merupakan tujuan Gyuri dan HyunA. Mereka berdua tetangga sejak kecil. Jadi sering berangkat dan pulang bersama. Di halte ini semua penumpang turun. Gyuri mengernyitkan dahi. Aneh.

 

Gyuri menoleh kearah Yunho yang asyik memainkan ponselnya, Kevin dan Joon asyik berdebat tentang jam tangan Jiyeon. “Mereka tidak turun?” ujar Gyuri pelan yang membuat HyunA menoleh.

 

“Waeyo?” Tanya HyunA pelan. Gyuri menatap sahabatnya dan menggeleng.

 

Bus mulai berjalan. Gyuri terus memperhatikan jalanan di dilewatinya. Diliriknya HyunA yang sudah memejamkan kedua matanya. HyunA tertidur.

 

Gedung-gedung yang menjulang tinggi kini berganti dengan bayangan pepohonan yang semakin lama semakin rapat. ‘Ini bukan jalan menuju rumah!’ pikir Gyuri panik.

 

Yeoja itu kemudian membangunkan HyunA. “HyunA! Bangun! Ppali!” kata Gyuri histeris.

 

“Kau ini kenapa? Berisik!” bentak Yunho yang membuat Gyuri menutup mulutnya menggunakan tangannya.

 

Gyuri menoleh kearah Yunho. Kevin dan Joon masih sibuk berdebat bersama Jiyeon. Dikumpulkannya keberanian untuk berbicara dengan Yunho. “Bus ini tidak melewati halte bus.” Kata Gyuri pelan tanpa melihat kedua mata Yunho.

 

“Mwo?” Tanya Kevin. Namja itu memperhatikan keadaan di luar bus. Namja itu terdiam melihat jalanan kota Seoul sudah berganti menjadi pemandangan hutan. “Bagaimana bisa Seoul berubah menjadi hutan?” Tanya Kevin pelan.

 

Yunho, Joon dan Jiyeon ikut mengamati pemandangan di luar bus. Kegelapan semakin pekat. Yunho dan Joon saling pandang.

 

Gyuri terus membangunkan HyunA. HyunA kalau sudah tidur sulit dibangunkan. HyunA menggeliat kecil. “Kita sudah sampai?” Tanya HyunA polos.

 

Gyuri menggeleng pelan. “Kita salah bus.” Ujarnya pelan.

 

“Ahjussi! Kau akan membawa kemana bus ini?” Tanya Joon panik.

 

Sopir bus menoleh tiga ratus enam puluh derajat. Jiyeon menjerit melihatnya dan bersembunyi di belakang tubuh Yunho. Kevin dan Yunho sontak memejamkan kedua matanya. Joon terpaku melihat aksi sang sopir. Ahjussi itu terkekeh.

 

“Kalian akan merasakan bus mati.” Ujarnya pelan tapi langsung membuat suasana bus menjadi dingin. Bukan dingin AC. Gyuri dan HyunA langsung menjerit saat melihat pemandangan di dalam bus. Kursi yang hancur, dinding bus yang berkarat serta beberapa tulang teronggok begitu saja di beberapa kursi penumpang yang terlihat utuh.

 

“Kita lompat!” pekik Joon panik yang membuat Kevin dan Yunho mengangguk.

 

“Lompat? Kau gila? Kita bisa patah tulang!” kata HyunA kesal.

 

Gyuri terus mencengkeram tangan HyunA kencang.

 

“Lalu kita lewat mana untuk dapat melarikan diri? Hah?” bentak Joon kesal.

 

Yunho mengumpulkan keberaniannya untuk mengambil sebuah palu yang diletakkan untuk menyelamatakan diri ketika bus ada masalah. Namja itu langsung berlari menuju pintu keluar bus dan memukul hendel pintu bus itu sehingga pintu itu terbuka.

 

“Kkaja! Kita harus melompat!” kata Yunho sambil melempar palu itu.

 

Kevin menarik Jiyeon agar mau mendekat ke pintu bus. Angin malam menerpa ke-enamnya. Joon menarik HyunA yang masih ditarik oleh Gyuri.  “Gyuri-a! Kita harus melompat supaya kita tidak mati.” Kata Joon yang membuat Gyuri mengangguk pelan.

 

HyunA dan Gyuri berjalan mendekati Yunho. Joon menatap sang sopir yang masih terkekeh.

 

“Dengar. Lompat dan usahakan punggung kalian yang menyentuh tanah.” Kata Yunho yang membuat Kevin, Joon, HyunA dan Jiyeon mengangguk. Yunho menatap Gyuri yang masih menimang keputusan Yunho.

 

Yunho menarik Gyuri kedalam pelukannya. Gyuri terpaku. Jantungnya berdebar semakin kencang. “Lompat!” pekik Yunho yang membuat Kevin, HyunA, Joon dan Jiyeon melompat bersamaan.

 

Yunho memperketat pelukannya hingga Gyuri tidak dapat bernafas. Namja itu mengayunkan kedua kakinya dan mulai melompat.

 

BUUKK… Bunyi berdebam terdengar memecah keheningan malam. Yunho meringis saat punggungnya membentur tanah.

 

Joon membantu HyunA untuk berdiri. Kevin menolong Jiyeon agar berdiri. Gyuri membantu Yunho berdiri. “Gomawo.” Kata Gyuri pelan.

 

“Yeobo! Kenapa kau membantunya!” pekik Jiyeon sambil melangkahkan kakinya namun gagal. Yeoja itu memekik saat tubuhnya terjatuh.

 

Joon berlari menghampiri Jiyeon. “Waeyo?” Tanya Joon cemas.

 

“Kakiku sakit sekali.” Kata Jiyeon sambil memegang kakinya.

 

Joon menyentuh kaki kanan Jiyeon. High heels yang dikenakannya patah. Mata kakinya juga bengkak. Jiyeon keseleo! “Jiyeon keseleo.” Kata Joon yang membuat Kevin menatap Jiyeon.

 

“Kau ini menambah masalah! Kita belum tentu bisa keluar dari sini! Dan kau pake keseleo. Menambah beban kami!” umpat Kevin kesal.

 

HyunA menginjak kaki Kevin hingga namja itu mengaduh kesakitan.

 

“Apa yang kau lakukan?” pekik Kevin kesal.

 

“Kau bisa menghentikan sifat childishmu tidak? Namja menyebalkan!” kata HyunA kesal.

 

“Kalian bisa diam tidak?” bentak Yunho kesal sambil terus memencet keypad ponselnya.

 

“Kau menghubungi siapa?” Tanya Joon penasaran sambil berusaha memberikan pertolongan pertama pada Jiyeon.

 

“Siapapun.” Kata Yunho kesal. “Aargh! Tidak dapat menghubungi siapapun!” pekiknya frustasi. Namja itu duduk begitu saja diatas rumput.

 

Kevin ikut-ikutan menghempaskan tubuhnya diatas rumput. HyunA melipat kedua kakinya dan menangis terisak.

 

Gyuri menatap kelima teman sekampusnya yang terlihat putus asa. Yeoja itu kemudian menghampiri Joon dan berjongkok disamping Joon. “Joon, apa kau kuat menggendong Jiyeon?” Tanya Gyuri pelan.

 

“Mwo? Andwae! Aku mau digendong Yunho oppa!” kata Jiyeon yang memotong ucapan Joon. Yunho menoleh kearah Jiyeon dan mengibaskan tangannya.

 

Joon mengangguk. “Gwaenchana. Aku akan menggendongmu.” Kata Joon sambil menenangkan Jiyeon yang menggembungkan pipinya. “Kita mau kemana?” Tanya Joon penasaran sambil menatap Gyuri.

 

“Kalian lihat tidak? Diatas bukit ada sebuah rumah. Kita bisa meminta pertolongan mungkin.” Kata Gyuri sambil menunjuk bukit dibelakang lima temannya yang terdapat sebuah rumah yang jendelanya memancarkan cahaya lampu.

 

“Kau yakin tidak memperparah keadaan?” Tanya Kevin pelan.

 

Gyuri mengangkat kedua bahunya. “Molla. Tapi sebaiknya kita mencobanya.” Kata Gyuri pelan.

 

HyunA menggeleng. “Andwae! Bagaimana kalau itu semakin membuat kita celaka? Lompat dari bus Jiyeon saja terluka!” kata HyunA pelan.

 

Yunho menatap Gyuri. “Benar apa yang dikatakan Gyuri. Sebaiknya kita mencobanya.” Kata Yunho pelan.

 

Gyuri tersenyum kecil saat Yunho membelanya. “Kkaja.” Kata Gyuri sambil menarik tangan HyunA. Jiyeon kemudian digendong oleh Joon. Kevin dan Yunho terus mencoba menghubungi seseorang lewat ponsel mereka.

 

======== 0 ===========

 

Rumah ini megah. Pagar yang menjulang tinggi. Ada papan namanya. Gyuri memperhatikan papan nama itu. “Ssawoyo (bertarung)?” Tanya Gyuri pelan.

 

Yunho ikut memperhatikan papan nama itu. “Aneh.” Gumam Yunho sambil berusaha mengacuhkan kata itu.

 

Kevin mendorong pagar besi itu. Suara deritan terdengar. Namja itu memasuki pekarangan rumah mewah itu diikuti Joon yang masih menggendong Jiyeon. Yunho berjalan pelan menyusuri jalan setapak sambil mengamati sekelilingnya.

 

Gyuri hendak melangkah saat tangan HyunA menariknya. “Kau baca ini.” Kata HyunA sambil memberikan secarik kertas pada Gyuri.

 

“Selamat datang di permainan terbaru kami. Kau harus mengikuti aturan permainan. Yakni, kau tidak boleh berjalan dengan dua kaki padahal kau memiliki empat kaki. Dan begitu kau memulai permainan, kau akan menemukan petunjuk baru untuk menyelesaikan permainan.” Kata Gyuri pelan.

 

HyunA menghela nafas panjang saat Gyuri membacakan kertas itu.

 

“Darimana kau dapat kertas ini?” Tanya Gyuri penasaran.

 

HyunA menunjuk kotak surat di samping pagar. “Aku bingung dengan peraturannya.” Kata HyunA pelan sambil terlihat berpikir.

 

Gyuri menatap Kevin yang masih sibuk berjalan bersama Yunho. Joon yang masih menggendong Jiyeon. “Arraso!” kata Gyuri pelan. “Joon menggendong Jiyeon.” Kata Gyuri sambil menunjuk Joon.

 

HyunA mengangguk. “Kita harus memberi tahu mereka!” kata HyunA sambil menarik Gyuri memasuki pekarangan rumah itu.

 

Belum sempat mereka memberi tahu yang lainnya, tiba-tiba pintu pagar berderit lagi. HyunA dan yang lainnya menoleh ke pagar besi yang tertutup. Gyuri berbalik dan mencoba membuka pintu pagar. Dan gagal.

 

Jiyeon terhempas begitu saja membuat HyunA kembali menoleh kearah Jiyeon yang terbatuk sambil mengeluarkan darah. Joon langsung menghampiri Jiyeon yang terihat setengah sadar.

 

“Apa yang terjadi?” pekik Kevin panik.

 

HyunA memberikan kertas tadi pada Yunho. Yunho membaca sekilas. Namja itu menarik nafas panjang. “Selesaikan permainan konyol ini supaya kita bisa kembali.” Kata Yunho pelan.

 

= To Be Continued =

Advertisements

2 thoughts on “[단편] Game For Die 1

Letter of Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s