[단편] Mystery in Paris Prologue

Tittle : Mystery in Paris

Author : Karra Glow

Cast : Kevin Woo as Kevin

Hyomin as Hyomin

Daniel Ahn as Niel

Nickhun as Nick

Ratting : PG 17+

Pairing : Straight

Genre : AU, Mystery and Angst

Length :1 of 5

Disclaimer : Kevin Woo and Hyo Min are not my original characthers. They belong to themselves, as also Daniel, and Nickhun. This story is only a fiction, I don’t make money from it, so please not sue me. ©Karra-Glow 2011 All rights reserved. Distribution of any kind is prohibited without the written consent of karra-glow.
Summary :Who’s Kevin?

PROLOGUE

Merci[1]. Hanya satu kata itu yang dapat aku ucapkan sekarang. Entahlah aku dapat mengucapkan hal yang sama atau tidak. Kelak aku akan mengucapkan kata itu lagi padanya. Orang yang telah menyelamatkanku dengan cara membunuhku.

♫♫♫

Aku menarik tali tas serempangku agar tidak terjatuh lagi. Aku terus memperhatikan orang-orang yang berlalu didepanku. Seolah-olah hanya menganggapku angin lalu. Dengan tatapan yang fokus aku mempercepat jalanku menuju gedung utama universitas.

Langkahku terhenti saat sekelompok orang menghalangi jalanku. Dengan ragu kuangkat kepalaku. Melihat siapa yang berdiri di depanku. Ternyata mahasiswa yang sedang melihat papan pengumuman. Pantas saja mereka membelakangiku.

“Aww…” Pekik seseorang yang membuat indera penciumanku langsung beraksi.

Pardon![2]” ujar seseorang yang lain.

Mataku langsung tertuju pada seorang gadis yang sedang meniup-niup lukanya. Aku menelan air liurku. Kumohon… jangan mengacaukannya. Kau pasti bisa menahan rasa itu!

Aku berusaha memalingkan kepalaku agar tidak menatap darah segar dari tangan gadis itu. Darah berwarna merah. Berbau nikmat dan menyegarkan! Aku memaksa kedua mataku agar terpejam. Sulit rasanya. Ditambah dengan bau darah itu yang semakin menggoda.

Kurasakan sesuatu mendesak keluar dari gigiku. Celaka! Pasti taringku keluar lagi! Aku meringis. Dengan kedua tanganku aku menancapkan jariku di gigiku. Tidak berdarah bukan. Dan itu memastikan aku kembali menjadi vampire[3]!

“Lihat! Dia memiliki taring!” pekik seseorang yang membuatku segera menutup mulutku. Aku berlari kecil meninggalkan tempat itu. Tidak mungkin aku berlari cepat. Berlari cepat sama saja dengan terbang.

Aneh bukan? Aku ini vampire. Tapi aku juga bisa terbang dan aku tidak takut pada apapun. Tapi kalau ingin tahu bagaimana jika aku bisa mati untuk kedua kalinya, aku akan menjawab, “Orang yang membunuhmu yang berhak menentukan dengan siapa kau akan mati. Dan dengan cara apa kau akan mati.”

Untunglah sampai sekarang aku belum menemukan siapa orang yang akan membunuhku. Hanya saja akan sedikit lebih sulit bertahan di dunia manusia seperti ini. Keempat taringmu akan sulit dikendalikan saat kau benar-benar membutuhkan darah segar.

Aku bersembunyi dibawah tangga. Meringkukkan badanku agar tidak diketahui oleh siapapun. Aku mencoba memaksa keempat taringku untuk masuk kembali. Lebih sulit. Karena aku belum mendapatkan darah segar semenjak enam bulan yang lalu.

Aku memiringkan mata saat aku menyadari ada sebuah pintu kayu yang ada di dinding samping tangga. Apa muat pintu sekecil itu untuk masuk manusia? Kalau bangsa vampire sepertiku masuk ke lubang telinga saja sanggup.

Tunggu! Aku mendengar suara dari balik pintu kayu itu! Aku celingukan untuk memastikan tidak ada orang yang melihatku. Dan sepertinya aman. Tidak ada yang melewati tempat ini.

Dengan perlahan aku menarik kenop pintu itu. Terbuka! Tidak dikunci! Penglihatan malamku langsung menangkap ada pintu emas yang berada diseberang ruangan. Pintu emas? Bagaimana bisa di gudang seperti ini ada pintu emas?

Apa manusia-manusia itu terlalu bodoh dan terlalu jorok? Sehingga tidak pernah masuk ke ruangan ini? Memang gelap untuk ukuran manusia. Tapi terang untukku. Dengan perlahan aku memasuki ruangan itu.

Lembab. Tempat favoritku! Aku mendekati pintu berwarna emas yang kini berada didepanku. Aku memiringkan kepalaku. Suara itu semakin keras terdengar. Tanganku hendak menyentuh handel pintu saat pintu itu terbuka.

Aku memundurkan langkahku saat menyadari tidak ada seorangpun yang membukakan pintu. Dengan kata lain, pintu ini terbuka dengan sendirinya. Ruangan itu seperti ruang kelas. Tidak ada cahaya matahari disini. Banyak mahasiswa yang duduk di bangku mereka sambil berbicara. Entah apa yang mereka bicarakan.

Aku melangkahkan kakiku memasuki ruangan. Pintu kembali tertutup. Aku menoleh ke daun pintu. Aku terlalu lama tinggal bersama manusia. Hal seperti ini asing untukku.

“Kau mahasiswa baru itukah?” tanya seseorang yang membuatku mundur beberapa langkah hingga menempel di pintu berwarna emas tadi. Muncul dari atas! Bergelantungan terbalik seperti kekelawar!

Dengan perlahan aku mengangguk. Seisi kelas menatap kearahku. Ada yang memiliki mata merah sepertiku. Ada yang berwarna kuning menyala. Aku menyadari mereka merupakan teman sejenisku!

Aku berusaha menyunggingkan senyum. Memperlihatkan keempat taringku. Sontak semuanya tertawa.

“Dasar bodoh!” kata seseorang sambil berlalu di depanku. Aku langsung menutup mulutku. Pertemuan pertama yang konyol! Sungguh konyol!

♫♫♫

Aku memandang teman-teman sejenisku. Ada yang membanggakan usia mereka. Ada yang membanggakan kecantikan mereka. Semuanya serba menyombongkan diri. Entah aku yang merasa atau memang kenyataannya seperti itu.

“Kau mau bergabung dengan kami?” tanya seseorang yang membuatku menoleh. Seorang gadis dengan rambut pirang. Kedua manik matanya berwarna merah. Bibir tipisnya berwarna merah muda. Senada dengan kaus yang digunakannya.

“Bergabung? Bergabung apa?” tanyaku. Ya! Aku memang tidak tahu apapun! Aku memang baru enam bulan menjadi vampire! Tapi pengendalian diriku terhadap darah manusia patut mendapat acungan jempol! Mungkin itulah kelebihanku. Belum banyak vampire baru bisa menahan darah!

“Kelompokku ingin menghancurkan umat manusia. Kau mau bergabung?” tanyanya lagi. Rambut berwarna pirang itu seolah-olah mengajakku untuk bergabung.

Aku baru saja akan menolak saat gadis itu tertawa. Tertawa melengking. Membuatku menatapnya dengan pandangan heran. Aneh!

“Kau pikir aku teman sejenismu? Tidak! Aku bukan vampire sepertimu!” katanya sambil berlalu meninggalkanku.

Bukan vampire? Benarkah dia bukan vampire? Tapi sorot matanya benar-benar seperti vampire! Tidak mungkin dia bukan vampire!

“Dia vampire! Sama sepertimu.” Ujar seseorang yang mengagetkanku. Aku menoleh kesumber suara. Laki-laki. Berhidung mancung. Kulitnya putih pucat. “Aku Niel. Daniel!” katanya sambil mengulurkan tangan kanannya.

Dengan ragu aku menjabat tangannya. “Hyomin.” Ujarku pelan. Tangannya hangat. Berarti dia juga seorang vampire! Apa seisi kelas ini merupakan vampire?

Niel menyunggingkan senyumnya. Memamerkan sederet giginya yang putih bersih dan rapi. Bibirnya berwarna putih pucat. “Kau benar. Seisi kelas ini memang vampire!” katanya yang mengagetkanku.

Ternyata dia bisa membaca pikiranku! Aku memalingkan wajah. Tidak ada jendela disini. “Apakah kita disini berteman dengan manusia?” tanyaku pelan.

“Berteman dengan manusia?” ujar seseorang lagi sambil tertawa. Aku menatapnya. Dia terbang kearahku. “Kau pikir manusia dan vampire bisa bersatu? Kau telalu bodoh memikirkan hal semacam itu.” Ujarnya tepat di hadapanku hingga aku menarik kepalaku menjauhi wajahnya.

“Nick!” ujar Niel. Entah apa yang dipikirkan oleh laki-laki bernama Nick itu hingga Niel terlihat gusar. “Hentikan pikiran kotormu itu!” bentak Niel lagi.

Aku memiringkan kepalaku. Apa yang sedang dipikirkan oleh Nick? Aku penasaran.

“Jangan pedulikan Nick!” kata Niel sambil menatapku. Aku mengangguk pelan.

“Apa manusia dan vampire sungguh tidak dapat hidup bersama?” tanyaku pelan. Aku masih belum berani kembali kerumah. Aku kabur semenjak aku menjadi vampire.

Dan kemarin sebelum aku masuk ke Universitas ini, aku bertemu dengan seorang laki-laki tampan. Tapi aku tahu dia vampire. Memberiku petunjuk untuk masuk ke Universitas ini. Kemudian laki-laki itu menghilang.

“Di Universitas ini, manusia dan vampire bisa hidup berdampingan. Karena penguasa atas vampire merupakan guru besar di Universitas ini. Dia seorang professor yang menciptakan vampire.” Jelas Niel.

“Menciptakan vampire?” tanyaku. Apa lagi-laki yang saat itu menggigitku itu merupakan guru besar disini?

Nick mengangguk. “Professor itu guru besar kami. Dia berhak menentukan kapan kita akan hancur.” Katanya. “Jangan kau pikir kita adalah makhluk abadi. Kita akan mati untuk kedua kalinya jika sudah ditentukan oleh guru besar kami itu.”

“Bagaimana kau menjadi vampire?” tanya Niel sambil menatapku.

Aku mengingat kembali peristiwa naas yang menimpaku. “Saat aku sedang berada di Seoul. Aku bertemu dengan seorang warga negara Perancis. Tampaknya dia kebingungan di Seoul. Aku membantunya mencari jalan. Ternyata dia mengigitku.” Ujarku pelan.

Aku bukan orang Perancis. Aku orang Korea! Entah bagaimana aku bisa terdampar di Perancis! Korea Selatan dan Perancis itu jauh! Berbeda benua! dan entah bagaimana aku yang tidak pernah mempelajari bahasa Perancis bisa begitu fasih menggunakannya.

Vampire! Aku masih vampire baru! Aku belum berpengalaman! Aku terakhir menggigit manusia saat aku bertemu dengan segerombolan orang yang hendak memperkosa seorang gadis. Dan semenjak itu aku takut berada di Seoul! Aku melarikan diri kesini. Perancis! Negara tempat para Vampire bernaung. Tentu aku tidak sepintar itu mengetahuinya. Aku mendapatkan info dari beberapa orang yang mengetahui tentang orang yang menjadikanku sebagai vampire.

“Niel!” panggilku yang membuat Niel menoleh kearahku. “Apa kau mengenal Kevin? Dia orang Korea. Sama sepertiku. Tapi dia warga Perancis.” Ujarku.

Raut wajah Nick dan Niel berubah. “Kevin?” ulang Niel dan Nick bersamaan dengan saling pandang.

“Untuk apa kau menanyakan Kevin?” tanya Nick.

Aku tersenyum. “Dia yang menggigitku.” Kataku pelan.

Niel dan Nick saling pandang. “Kau dibunuh oleh Kevin?” pekik Nick keras. Membuat semua orang menatap kami bertiga. Aku mengangguk pelan.

“Siapa Kevin? Kenapa reaksimu begitu?” tanyaku pelan.

Aku patut tahu! Dia yang membunuhku! Siapa Kevin? Kenapa reaksi Niel dan Nick mencurigakan. Apakah guru besar mereka bernama Kevin?

= To Be Continued=


[1] Terima Kasih (Perancis)

[2] Maaf (Perancis)

[3] Tokoh dalam mitologi dan legenda yang hidup dengan memakan intisari kehidupan (biasanya dalam bentuk darah) dari makhluk hidup lain.

Advertisements

15 thoughts on “[단편] Mystery in Paris Prologue

  1. sophiemorore says:

    benci deeehhhh
    itu siapa kevin? siapa? kesalllll
    lagi asyik2 BACA MALAH BERSAMBUNG!!! *mendadak caps jeblok*
    seru aku lagi tertarik tema horor, aku aja lg bikin ff horor, yang pasti jadinya gaje -_-
    huhuhuhuhu

    ttg vampire, hihihihhi kalo vampire nya nickhun aku bakal ngakak terus balik gigit *??* nickhun kali ya. hahaha
    aku awalnya bingung ‘aku’ itu siapa, tak kira pemeran utamanya cowok, eh cewek rupanya. hehe
    ayo cepetan bikin n jgn pnjng2
    jgn bikin saya penasaraaaaaaaaaaaaaaaannnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn

    • Karra says:

      Nickhun emang ga cocok jadi vampire. sepertinya saia salah cast =.=”

      he-eh ya… aq lupa ngasih tau kalo “aku” itu cewek. wkwkwkwk
      gomawo sarannya.. ntar aq benerin. heheheh

      gomawo sophie dah mau baca FF Horror yg moga2 ga gagal kyak ff horror pertama. ahahaha

Letter of Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s